Pembatik tulis Pusaka Beruang, Lasem (© Gabriel Christofer)

Bangga Batik Indonesia yang Mendunia

Batik adalah salah satu kebanggaan budaya Indonesia. Kebanggaan ini semakin meningkat setelah UNESCO menetapkan batik sebagai warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan budaya takbenda atau Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity, pada 2 Oktober 2009.

Adanya pengakuan UNESCO atas batik sebagai warisan budaya Indonesia merupakan sebuah pengakuan yang luar biasa. Pengakuan tersebut menandai perjuangan Indonesia membuktikan betapa khasnya batik sebagai budaya Indonesia. Batik pernah diklaim oleh negara tetangga, Malaysia, dan mereka pun pernah melayangkan keberatan atas pengakuan UNESCO tersebut.

Budaya Ribuan Tahun

Teknik membatik telah dikenal dunia sejak ribuan tahun silam. Proses mewarnai kain dengan perintang lilin ini berkembang di Mesir, Afrika, Tiongkok, dan beberapa kebudayaan Asia lainnya termasuk India, Jepang, dan Indonesia.

Budaya batik berkembang pesat di Indonesia, dengan kemampuan membuat motif yang mendetail dan sarat makna. Perkembangan batik di Indonesia dapat ditelusuri sampai zaman Majapahit. Batik kemudian berkembang pesat pada era Kesultanan Mataram di daerah Surakarta dan Yogyakarta, dan kemudian menyebar ke berbagai wilayah Nusantara.

Batik Tulis Yogyakarta 1930-an
Seorang perajin batik tulis di Yogyakarta sedang membatik menggunakan canting. (foto tahun 1930-an, sumber: Universiteit Leiden)

Batik di lingkungan istana Mataram pada mulanya hanya digunakan oleh kalangan kerajaan, untuk busana sultan beserta keluarganya, dan para pembesar keraton. Motif batik yang digunakan konon diilhami dari hasil meditasi dan puasa sang sultan.

Kain batik yang dibuat dalam lingkungan keraton ini hanya boleh dipakai oleh kalangan keraton saja, dan dikenal dengan motif batik larangan. Beberapa motif batik larangan misalnya adalah motif parang, parang rusak, cemukiran, sawat, udan liris, semen, dan alas-alasan.

Sultan Hamengkubuwono VI
Sultan Hamengkubuwono VI, Raja Kesultanan Yogyakarta (1855-1877) mengenakan busana batik. (sumber: Tropenmuseum, part of the National Museum of World Cultures)
Tari Bedoyo di Keraton Mangkunegaran Surakarta 1921
Kain batik digunakan oleh para penari Bedoyo di Keraton Mangkunegaran Surakarta. (foto tahun 1921, sumber: Tropenmuseum, part of the National Museum of World Cultures)
Koleksi Kain Batik di Museum Keraton Yogyakarta
Koleksi kain batik di Museum Keraton Yogyakarta (foto: Iwan Santosa)

Batik Pesisiran

Kesenian membatik kemudian berkembang di luar lingkungan keraton, dan lambat laun teknik membatik dikuasai oleh kalangan rakyat biasa di berbagai daerah Nusantara. Di Jawa, batik berkembang pesat di luar Surakarta dan Yogyakarta, terutama di daerah pesisir.

Beberapa pusat batik di pesisir Jawa antara lain adalah di daerah Indramayu, Cirebon, Pekalongan, Lasem, Kudus, dan Tuban. Motif batik yang berkembang di luar lingkungan keraton, ada yang masih mempertahankan makna dan filosofi, tetapi ada juga yang hanya mementingkan aspek estetika dan keindahan visual semata.

Perajin batik tulis di Lasem (© Gabriel Christofer)
Pembatik sedang beraktivitas membatik di sentra batik tulis Lasem, Rembang. Lasem dikenal sebagai salah satu kota penghasil batik tulis pesisiran terbaik di Jawa. Batik tulis di daerah Lasem sudah dikenal semenjak zaman Majapahit. (foto: Gabriel Christofer)
Batik tulis Lasem (© Gabriel Christofer)
Batik Lasem dipengaruhi filosofi budaya Jawa dan Tiongkok, berciri khas warna-warni mencolok. Beberapa motif batik khas Lasem antara lain sekar jagad, latohan, watu pecah, dan ornamen hewan khas Tiongkok seperti burung hong, naga, ikan. (foto: Gabriel Christofer)

Mematahkan Stigma “Baju Kondangan”

Cukup miris juga, industri batik di Indonesia ternyata pernah mengalami keterpurukan pada era 1970-an hingga awal 2000-an, seiring berubahnya gaya hidup masyarakat. Saat itu masyarakat Indonesia tampaknya lebih menyukai gaya busana modern ala barat. Busana batik pun sempat dianggap kuno dan terlalu konservatif.

Di kalangan masyarakat terutama generasi muda, sempat muncul jargon busana batik sebagai “baju kondangan”. Seseorang yang mengenakan baju batik saat tidak sedang menghadiri acara khusus, bisa saja disapa dengan pertanyaan, “Habis kondangan dari mana?”

Joko Widodo Sarasehan 26082021
Busana batik pilihan Presiden Joko Widodo saat membuka acara Sarasehan 100 Ekonom Indonesia, 26 Agustus 2021. (foto: BPMI Setpres/Rusman)
Ucapan Hari Batik Nasional Jokowi 2021
Unggahan IG @jokowi menyambut Hari Batik Nasional, 2 Oktober 2021.

Evolusi Batik

Batik Nusantara telah berkembang dan berevolusi seiring perjalanannya yang begitu panjang. Bermula dari lingkungan keraton yang sangat terbatas, kini batik telah berkembang menjadi salah satu komoditas industri kreatif Indonesia yang menerobos pasar global.

Christine mencatat beberapa desainer terkemuka Indonesia yang berhasil membawa batik Indonesia ke dunia fashion internasional, di antaranya adalah Oscar Lawalata, Denny Wirawan, Edward Hutabarat, Chossy Latu, Ramli, Ghea Panggabean, Era Soekamto, Itang Yunasz, Lia Afif, dan Riana Kusuma Astuti.

Terlepas dari proses asli membatik yang merujuk pada teknik menggambar yang melibatkan lilin, canting, dan peralatan khusus lainnya, batik saat ini juga telah diproduksi dengan berbagai teknik produksi modern.

Motif batik juga telah berkembang dalam dunia seni visual, dengan lahirnya motif-motif kontemporer yang menggabungkan motif batik klasik dengan unsur-unsur visual dan filosofi modern. Motif batik kontemporer tidak hanya dapat dijumpai pada produk-produk busana saja, tetapi juga pada produk-produk kreatif lainnya.

Sekar Jagad Anne Avantie Tupperware
Motif batik “Sekar Jagad” karya Anne Avantie diterapkan pada produk peralatan makan modern. (sumber: Tupperware Indonesia)

Ragam kontemporer lahir sebagai bagian dari perjalanan evolusi batik. Corak yang cenderung lepas dari pakem, adalah salah satu bentuk adaptasi warisan budaya Nusantara ini untuk terus bertahan dan berkembang seiring zaman.

Dari balik dinding keraton yang terlarang, batik telah mengglobal menjadi identitas budaya Indonesia yang membanggakan.


(Iwan Santosa)

foto atas: Pembatik tulis di sentra batik Pusaka Beruang, Lasem (© Gabriel Christofer, 2022)

artikel ditulis pada 2 Oktober 2021, halaman diperbarui pada 2 Oktober 2022

aktual khusus opini rekomendasi utama
5 bintang | 14 penilai