Fakta 70% Tidak Bergejala

Covid Omicron Merajalela, Ketahui Faktanya

Kasus Covid-19 Indonesia melonjak pesat sejak awal Januari 2022 hingga menembus lebih dari 60 ribu kasus harian pada pertengahan Februari 2022. Di beberapa negara, kasus Covid-19 didominasi varian Omicron yang disebut lebih mudah menular. Kekhawatiran semakin bertambah dengan adanya penularan Omicron “siluman” atau “son of Omicron”, yaitu subvarian dari virus Omicron yang dinamakan BA.2.

Covid-19 Update 19 Feb 2022
Kasus harian Covid-19 Indonesia mulai melonjak pada awal Januari 2022, mencapai puncaknya pada 16 Februari 2022 dengan 64.718 kasus terkonfirmasi. (sumber: materi presentasi dr. Jossep F. William pada webinar “Jangan Termakan Hoax: Fakta dan Mitos tentang Covid Omicron”, 22 Februari 2022)

Pantau Covid-19 Indonesia → Data Kasus Harian Covid-19 Indonesia

Diam-Diam Menyebar Tanpa Gejala

Tidak seperti saat kasus varian Delta merebak, penyebaran kasus varian Omicron cenderung stealth, tidak terlihat tetapi lonjakan kasus tiba-tiba meninggi. Demikian dikatakan dr. Jossep F. William, Kasubbid Koordinasi Relawan Kesehatan, Satgas Penanganan Covid-19 Nasional 2020. Penyebaran yang tidak terlihat ini dikarenakan sebagian besar orang yang terpapar tidak menyadari bahwa diri mereka telah terpapar.

“Tujuh puluh persen dari mereka yang terpapar Covid-19 itu tidak bergejala,” ujar dr. Jossep pada webinar “Jangan Termakan Hoax: Fakta dan Mitos tentang Covid Omicron” yang diselenggarakan oleh Perhimpunan INTI Jawa Barat (22/02/2022).

Ini yang menjadi masalah, karena banyak orang yang sudah terpapar dan menularkan, tapi tidak sadar atau tidak mau tahu bahwa mereka terpapar, dan memaparkan ke orang lain.

Pada saat sudah terpapar, orang yang bergejala akan mulai menunjukkan gejala dalam waktu 2 sampai 3 hari, bahkan ada yang baru muncul setelah 5 hari. “Tiga hari kemudian, berarti hari keenam sampai kedelapan, ia sudah sembuh, tetapi sebetulnya masih memaparkan juga,” lanjutnya.

Hal inilah yang mengakibatkan penyebaran menjadi sangat besar, karena orang yang merasa sudah sembuh langsung beraktivitas dan berinteraksi dengan orang sekitarnya, padahal dirinya masih memaparkan virus.

Dokter Jossep berpendapat, “Sebaiknya isolasi dilakukan sampai 20 hari, agar lebih aman dan nyaman, walaupun aturan pemerintah saat ini isolasi 10 hari, bahkan di Wisma Atlet hanya 5 hari.” Setelah selesai karantina isolasi 5 hari, sebaiknya melanjutkan isoman karena masih dapat menularkan virus kepada orang sekitar.

Omicron vs Delta
Perbedaan varian Omicron dan Delta. (sumber: materi presentasi dr. Jossep F. William pada webinar “Jangan Termakan Hoax: Fakta dan Mitos tentang Covid Omicron”, 22 Februari 2022)

Baca juga → Waspada Omicron, Lakukan Langkah Ini bila Bergejala

Omicron Sulit Dideteksi Antigen?

Ada informasi yang beredar di masyarakat bahwa virus Omicron tidak dapat dideteksi dengan swab antigen. Menanggapi hal ini, dr. Jossep menjelaskan bahwa antibodi bereaksi lebih lambat terhadap virus Omicron, bila dibandingkan dengan virus varian Delta. “Delta sudah bisa dideteksi pada hari ketiga, karena antibodi sudah muncul pada hari ketiga,” jelasnya.

Infeksi virus Omicron pada umumnya menunjukkan gejala ringan, walaupun ada juga kasus meninggal. Setelah terpapar Omicron, gejala yang biasanya ringan itu baru muncul pada hari keenam. Reaksi tubuh dan antibodi yang lambat itulah yang menyebabkan beberapa ahli berpendapat bahwa virus Omicron sulit terdeteksi. “Beda dengan varian Delta yang reaksinya cepat dan muncul langsung,” papar dr. Jossep.

Dikarenakan hal tersebut, tes antigen yang dilakukan pada hari-hari awal paparan bisa dibilang percuma, karena berpotensi besar menghasilkan false negative, dan akhirnya akan memperbesar penularan.

Seseorang yang berkontak dengan orang yang positif, lalu keesokan harinya melakukan tes swab antigen, kemungkinan besar hasilnya akan negatif. Merasa negatif, ia kemudian beraktivitas seperti biasa, dan tidak sadar dirinya berpotensi menyebarkan virus ke orang-orang di sekitarnya. Apalagi bila ia adalah orang yang tidak bergejala. Inilah bahayanya penyebaran “siluman” yang tidak terasa dan tidak terlihat.

Webinar Omicron (Perhimpunan INTI, 22 Feb 2022)
Materi webinar “Jangan Termakan Hoax: Fakta dan Mitos tentang Covid Omicron” dibawakan oleh dr. Jossep F. William (paling kanan) didampingi Teddy Hanafi, pengurus Perhimpunan INTI Jawa Barat sebagai moderator. (sumber: tangkapan layar webinar, 22 Februari 2022)

Baca juga → 7 Penyebab Kena Covid Walau di Rumah Aja

Gejala Baru: Nyeri Kepala

Walaupun Omicron bergejala ringan, tetapi tetap berbahaya khususnya pada orang berusia lebih dari 45 tahun.

Orang berusia di atas 45 tahun berisiko lebih tinggi terutama terkait gangguan jantung dan pembuluh darah. Oleh karena itu, dr. Jossep menganjurkan bagi pasien positif Covid-19 yang berusia lebih dari 45 tahun sebaiknya dirawat di fasilitas kesehatan. Demikian pula bagi pasien yang memiliki komorbid, seperti diabetes, penyakit jantung, ginjal, penyakit imun, atau keganasan lainnya.

Jangan Asal Pakai Masker

Cara paling mudah mencegah penyebaran Covid-19 khususnya varian Omicron yang “stealth” adalah dengan penerapan prokes yang baik. Contohnya adalah menggunakan masker yang berkualitas baik, dengan cara yang baik dan benar.

Di tempat-tempat umum masih banyak terlihat orang yang menggunakan masker secara tidak benar. “Pakai masker, tapi tidak menutup hidung. Ini seperti orang pakai celana tapi resletingnya terbuka, jadi tetap saja ke mana-mana,” ujar dr. Jossep sambil sedikit bergurau.

Langkah Pemerintah Prokes 3M
Langkah pemerintah RI menghadapi Covid-19, salah satunya adalah penerapan protokol kesehatan 3M. (sumber: materi presentasi dr. Jossep F. William pada webinar “Jangan Termakan Hoax: Fakta dan Mitos tentang Covid Omicron”, 22 Februari 2022)

Proteksi yang baik dan benar sangat penting untuk mencegah penularan. “Bila Anda tidak memproteksi diri Anda dengan baik, ketika pulang ke rumah Anda menularkan virus kepada orang tua Anda, mungkin Anda tidak apa-apa, hanya flu dan bersin-bersin saja. Namun risiko orang tua Anda meninggal sangatlah besar.” Demikian dicontohkan oleh dr. Jossep, yang juga pernah menjadi dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha, dan bertanggung jawab atas bidang pendidikan dan penelitian di RS Immanuel, Bandung.

Pertempuran terdepan menghadapi Covid-19 sebetulnya bukan di rumah sakit, dan bukan tanggung jawab pemerintah saja. “Covid-19 adalah masalah kita bersama. Mari kita laksanakan prokes dengan disiplin di mana pun, kapan pun, supaya kita bisa segera mengakhiri pandemi dan bisa hidup ‘normal’ kembali,” pesan dr. Jossep menutup sesi diskusi. 


(am)

ilustrasi foto atas: Fusion Medical Animation on Unsplash

aktual liputan umum
5 bintang | 2 penilai