Setiap perusahaan ingin mengembangkan bisnisnya ke lokasi-lokasi baru. Dengan memasuki pasar di wilayah baru, perusahaan tidak hanya bisa menjamah konsumen baru, tetapi juga dapat menciptakan inovasi-inovasi baru. Namun, ekspansi ke wilayah baru memerlukan kesiapan yang matang karena setiap wilayah memiliki karakteristiknya masing-masing.
Disney adalah perusahaan multinasional yang sangat terkenal. Akan tetapi, besarnya reputasi Disney tidak berarti Disney tidak pernah mengalami kegagalan. Salah satu kegagalan terbesar Disney adalah pembukaan Disneyland di Paris.
Dibuka pada 12 April 1992, Disneyland Paris yang dahulu bernama Euro Disneyland ternyata tidak mendapatkan animo besar seperti yang diharapkan. Tidak lama kemudian, Euro Disneyland pun dihadapkan pada ancaman kebangkrutan. Banyak cara dilakukan oleh Disney untuk menghadapi masalah tersebut, termasuk melakukan rebranding besar-besaran, hingga mengubah model bisnisnya.

Biang Kerok Model Bisnis
Kegagalan Euro Disneyland dipicu karena Disney berasumsi model bisnis yang sama bisa dipakai di berbagai tempat. Kesalahan utama dari Disney adalah kurangnya melakukan penelitian terhadap budaya dari orang-orang yang menjadi target pasar mereka.
Pertama, Disney tidak menyediakan makanan yang sesuai dengan selera orang Prancis, yaitu bacon, telur, dan minuman anggur. Padahal, makanan adalah bagian integral dari kehidupan orang Prancis. Maka dari itu, masyarakat Prancis tidak memiliki ketertarikan tinggi untuk berkunjung ke Disneyland karena merasa mereka tidak dapat bersosialisasi dengan kerabat di sana.
Untuk mengatasi hal ini, Disney bisa dengan mudah menyediakan menu yang sesuai. Menu yang disarankan untuk dihadirkan adalah makanan yang mengandung banyak keju, anggur, kue, dan juga saus (Ensign, 2020).
Kedua, Disney salah menetapkan jadwal. Disney membuka pelayanan ketika hari libur nasional. Padahal, orang Prancis memiliki kebiasaan untuk berlibur ke luar kota ketika hari libur. Disney juga membuat paket penawaran tamasya untuk beberapa hari, berlawanan dari kebiasaan orang Prancis yang hanya ingin bertamasya untuk satu hari saja (Lang, 2020).
Masalah Budaya
Kegagalan Disneyland di Paris tidak hanya dipicu dari rendahnya kunjungan konsumen, tetapi juga ketidakcocokan sistem kerjanya dengan karyawan. Di Paris, Disney mengimplementasikan sistem kerja yang mereka pakai di Amerika Serikat yang lebih terbuka dan fleksibel. Namun, sistem kolaborasi yang terbuka dianggap oleh karyawan Prancis sebagai tindakan tidak sopan.
Disney juga tidak mengintegrasikan budaya Prancis dalam model bisnis mereka. Hal ini bisa terjadi karena Disneyland Paris mempekerjakan para manajer yang berasal dari luar Prancis.
Untuk menghindari kesalahan ini, perusahaan-perusahaan yang ingin berekspansi ke wilayah baru seharusnya menetapkan “perekrutan polisentrik” (Matusitz, 2010). Sistem ini artinya merekrut orang-orang lokal agar regulasi yang diciptakan perusahaan menjadi sesuai dengan budaya dan regulasi di wilayah tersebut. Apabila perusahaan ingin melakukan ekspansi ke wilayah yang memiliki ragam bahasa atau dialek seperti negara Prancis, perusahaan bisa memberikan berbagai fasilitas dalam berbagai dialek (Zimmermann, 2017).
Baca juga → Gagal Puluhan Kali, Jadilah Dimsum Kelas Sumo
Setiap perusahaan yang ingin melakukan ekspansi ke wilayah baru harus menyesuaikan pelayanan mereka terhadap regulasi dan budaya wilayah tersebut. Fenomena Disneyland di Paris ini mengajarkan bahwa model bisnis tidak hanya satu, dan bisnis harus selalu dispesifikasikan sesuai target pasar dan masyarakatnya.
(Muhammad Aulia Rahman)
sumber gambar atas: IG disneylandparis
Temukan artikel bisnis lebih lengkap di sini → Manis Getir Dunia Bisnis




kegagalan kelas dunia
Terimakasih informasinya. Kunjungi https://unair.ac.id/