Situ Cisanti Titik Nol Citarum (iwansantosa)

Mengenang Doni Monardo, Pahlawan Pengharum Citarum

Hari itu saya sedang berkendara menuju kampus Maranatha, sambil mendengarkan radio. Seketika terdengar siaran tentang Sungai Citarum, dan penyiar radio mengajak para pendengar untuk turut berkomentar via WhatsApp. Saya pun mencoba ikut menulis komentar di situ.

Jenderal Rendah Hati

Baca juga → Seperti Apa Wajah Citarum di Mata 21 Pencinta Sungai?

Situasi Mendesak Sungai Citarum

Namun, saat itu yang menjadi prioritas adalah gerakan pembersihan Sungai Citarum dari limbah sampah, yang sudah amat mendesak untuk dilakukan. Persiapannya pun tergesa-gesa. Saat itu Sungai Citarum masuk sebagai lima sungai tercemar sedunia. Berita ini pun menjadi viral oleh pegiat dari Prancis yang memperlihatkan kondisi Sungai Citarum dipenuhi sampah dan limbah kotor.

Kami sempat seperti kehilangan induk ketika Jenderal Doni yang senantiasa membangun semangat para pegiat Sungai Citarum itu dipindahtugaskan. Ketika Covid-19 menjadi pandemi di negara kita, Jenderal Doni ditugaskan sebagai Kepala BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana). Oleh karena itu kami menjadi berjauhan.

Doni Monardo
Doni Monardo saat berpangkat Letnan Jenderal, 2018. (sumber: wantannas.go.id)

Namun, ketika situasi pandemi mulai menurun, Letjen Doni Monardo di sela-sela kesibukannya tetap berkomunikasi dengan para pegiat Citarum. Pak Doni sangat concern pada masalah Sungai Citarum yang tak henti dilaksanakan oleh para anggota TNI serta gerakan dari komponen pentahelix.


Menurut Anda, kapan Citarum Harum akan terwujud?

Pahlawan Citarum Harum

Jenderal Doni sangat intens menggerakkan Pentahelix Citarum Harum. Seluruh anggota TNI dan para Dansektor Citarum Harum berpangkat Kolonel dikenal amat solid, gesit, dan prigel. Mereka berkarya, bekerja dan berkolaborasi dengan masyarakat desa di bantaran DAS Citarum untuk masalah sampah serta penanganan limbah pabrik yang selama ini mengalir ke Sungai Citarum.

Keberhasilan kepemimpinan Pak Doni tak diragukan.

Pak Doni amat disiplin, tak segan menutup industri yang telah terbukti membuang limbah beracun dari pabrik ke aliran Sungai Citarum. Teriakan menggelegar menjadi karisma wibawanya bagi anggota maupun para pegiat. Namun, kelembutan hati dan cintanya akan lingkungan hidup amat mendalam.

Kedekatan dengan anggota anak buah beliau luar biasa. Perhatian kepada kaum lemah sedemikian mendalam. Saya pernah melihat beliau menahan haru, karena solidaritasnya kepada sesama manusia. Beliau selalu menaruh perhatian dan peduli kepada warga masyarakat kecil, apalagi kepada anggota yang mengabdi.

Baca juga → Relokasi Industri untuk Pemulihan DAS Citarum

Kami masih ingat instruksi dahsyat yang terngiang dalam pendengaran setiap insan di antara semua unsur pentahelix program Citarum Harum, “Jagalah alam, maka alam akan jaga kita.”


foto atas: “Situ Cisanti Titik Nol Citarum” (Iwan Santosa, 2017)

editor: MA

aktual pilihan
5 bintang | 1 penilai