Bendera Start

Pahitnya Memulai Usaha

Pada saat kelulusan SMA, saya bingung untuk meneruskan pendidikan ke bangku kuliah atau berusaha menggapai mimpi saya. Saat itu mimpi saya adalah bekerja selama lima hingga tujuh tahun dan menabung untuk membuka suatu usaha. Akan tetapi pada saat itu orang tua menyuruh saya untuk menyelesaikan pendidikan terlebih dahulu di bangku kuliah. Mereka berkata bahwa pendidikan sangat penting, jadi saya memutuskan untuk berkuliah.

Pada awalnya saya masih bingung untuk berkuliah di mana dan jurusan apa. Namun guru BK saya di sekolah menyarankan untuk mengambil jurusan ekonomi karena saya sangat bagus di bidang ekonomi. Kemudian saya memutuskan untuk mengambil jurusan manajemen dibandingkan jurusan akuntansi karena saya tidak terlalu bisa hitungan dan lebih tertarik untuk menganalisis market yang terjadi di Indonesia maupun di luar negeri.

Coba-Coba Bisnis Pertama

Awal mula saya kuliah, saya masih memiliki keinginan untuk mencoba suatu usaha. Pada saat semester kedua, saya mencoba mencari ide berjualan kawat vape bersama rekan saya di kampung halaman. Saya yang mencari barang-barangnya dan teman saya yang menjualkannya di kampung. Saat itu bisnis vape sedang naik-naiknya dan banyak peminatnya.

Usaha tersebut tidak berlangsung lama. Setelah dua bulan saya berjualan kawat vape, tidak ada kemajuan dan teman saya pun sudah malas untuk memasarkanya. Jadi kita memutuskan untuk berhenti dan omzet yang kita dapat dibagi sama rata.

Manisnya Bisnis Kedua

Setelah usaha yang pertama gagal, saya bertemu teman yang tertarik juga pada bidang bisnis. Kami memutuskan untuk memiliki brand fashion sendiri. Kami sudah hampir membuat logo, tetapi terhalang oleh pandemi yang terjadi saat ini. Kami pun memutuskan untuk break dulu dan mengembangkan diri masin-masing. Nanti jika sudah normal kembali kami bakal merealisasikan usaha kami tersebut.

Selama pandemi ini saya berada di kampung halaman, rasanya sangat membosankan. Walaupun berkumpul, saya berpikir jika terus seperti ini tabungan saya tidak bakal cukup untuk memenuhi kebutuhan saya, karena tidak ada pemasukan uang jajan dari orang tua dan banyak pengeluaran.

Akhirnya pada bulan September saya mencoba mengajak dua teman saya untuk mencoba membuka usaha kemitraan minuman kekinian. Setelah didiskusikan kepada yang lain, kami memutuskan untuk memilih brand “RUN&RUN” dengan berbagai macam alasan.

Akhirnya rencana kami pun terealisasikan.

Pada tanggal 13 Okober 2020 kami grand opening pertama dengan modal sekitar tiga jutaan per orang untuk membeli bahan baku dan peralatan yang dibutuhkan. Kami membuka usaha tersebut di tempat teman kami.

Selama satu bulan kami mencoba untuk menerima kritik dan saran dari para pelanggan. Dengan modal usaha yang sangat sedikit, kami tidak bisa membayar iklan. Jadi kami menggunakan teknik pemasaran mulut ke mulut. Kami konsisten menciptakan rasa yang enak untuk para pelanggan agar mereka terus membeli dan memberitahukan usaha kami kepada kerabat terdekat mereka. Usaha kami berjalan baik di bulan pertama dan bulan kedua.

Badai Konflik 

Saat memasuki bulan ketiga, terjadi konflik antara saya dengan salah satu teman saya. Hal itu menjadikan hubungan kami di tempat usaha menjadi kaku. Kami hanya berdiam diri saja, walaupun tetap melanjutkan usaha. Pada tanggal 25 Desember teman saya itu memutuskan untuk keluar. Saya sempat melarang dan membiarkan saya saja yang keluar.

Mungkin karena konflik yang terjadi sebelumnya, kita berdua hilang semangat untuk menjalankan usaha tersebut. Usaha kami tutup dan bubar. Pada saat ini saya hanya fokus untuk merealisasikan mimpi saya yang tertunda sebelumnya, yaitu membuat brand baju. Pengalaman saya itu menjadi pembelajaran buat diri saya sendiri, bekal untuk kemudian hari ketika saya mendirikan bisnis selanjutnya.


(Setiadi Cahya)

Temukan artikel bisnis lebih lengkap di sini → Manis Getir Dunia Bisnis

bisnis khusus
0 bintang | 0 penilai