Sungai Citarum di Desa Mandalawangi

Seperti Apa Wajah Citarum di Mata 21 Pencinta Sungai?

Semua orang tentu tahu bahwa keberadaan sungai sangatlah penting. Beberapa mungkin berpendapat, sungai adalah sumber kehidupan, mengalirkan air dari mata air yang jernih dan menghijaukan daerah di sepanjang alirannya.

Beberapa lagi mungkin menganggap sungai sangat penting untuk menghilangkan sampah dan kotoran. Segala sesuatu yang kotor, mulai dari sisa-sisa makanan, sampah kemasan, barang-barang yang tidak dibutuhkan lagi, sampai limbah pabrik, dijejalkan dan akan ditelan oleh aliran sungai. Di titik lain, sungai dianggap sebagai biang kerok pembuat bencana banjir dan penyebar penyakit.

Mana yang lebih mudah, menjaga sungai atau mengotori sungai dan menjadikannya tempat sampah raksasa?

Aktivitas Bantaran Sungai Citarum di Desa Mandalawangi
Warga sekitar bantaran memanfaatkan Sungai Citarum untuk bermacam keperluan sehari-hari. (foto: Iwan Santosa)

Jawabannya mudah ditebak. Menjaga sungai perlu upaya yang sangat besar dari banyak pihak. Program nasional Citarum Harum yang dicanangkan Presiden RI pada tahun 2018 menargetkan upaya pemulihan hingga tujuh tahun berikutnya. Pemulihan sungai memang merupakan upaya besar berjangka panjang dan berkesinambungan.

Citarum Harum mengajak semua unsur masyarakat untuk mengupayakan pemulihan Sungai Citarum yang sedang “sekarat”, menyandang gelar sungai terkotor sedunia. Semua yang terlibat disebut dengan istilah pentahelix, terdiri dari unsur pemerintah, masyarakat atau komunitas, akademisi, pengusaha atau swasta, dan media.

Baca juga → Dukung Citarum Harum, 21 Penulis Esai Terbitkan Buku

Keterlibatan Akademisi

Sungai Citarum di Desa Mandalawangi
Sungai Citarum melintasi Desa Mandalawangi, berhulu di Gunung Wayang dan berujung di Muara Gembong. Panjang aliran sungai terbesar dan terpanjang di Jawa Barat ini mencapai 300 km. (foto: Iwan Santosa, 2009)

Perwujudan tridarma untuk mendukung Citarum Harum dilakukan melalui banyak cara. Misalnya dengan ikut terjun langsung ke lapangan memberikan edukasi dan menyelenggarakan kegiatan-kegiatan pemberdayaan masyarakat sekitar bantaran sungai. Dukungan untuk Citarum Harum juga diwujudkan dalam bentuk tulisan.

Bercermin di Wajah Sungaiku - ISBN 978-979-21-7241-6
Buku Bercermin di Wajah Sungaiku (ISBN 978-979-21-7241-6) memuat 21 karya esai, 50 foto, dan 3 lukisan mengenai Sungai Citarum dan Cikapundung. (sumber: Majalah M! Vol. 5 No. 2)

Baca juga → Teras Cikapundung, Wajahmu Kini


(@m.news)

artikel ini terbit di Majalah M! Vol. 5 No. 2

ilustrasi foto atas: Iwan Santosa

Banner-Entrepreneur-Muda-Maranatha
edukatif khusus pilihan ringan
5 bintang | 10 penilai