Bahaya Polusi Air:
Apa yang Bisa Kita Lakukan?

“Jangan buang sampah ke sungai, nanti banjir!” Sebuah kalimat yang sangat sering kita dengar. Namun terjadinya banjir bukanlah satu-satunya dampak dari kebiasaan masyarakat membuang berbagai sampah ke sungai.

Dampak berbahaya lainnya dari kebiasaan buruk tersebut adalah polusi air. “Oh, polusi tidak hanya di udara ya, tapi juga air,” mungkin itulah respons Anda. Betul sekali. Anda perlu tahu bahwa polusi air berpotensi memberikan dampak yang lebih mengerikan terhadap kesehatan manusia daripada polusi udara.

Polusi air terjadi karena adanya agen biologis yang berlebihan di dalam air atau pencemaran zat kimia toksik yang dapat mengancam kesehatan manusia dan kehidupan aneka biota air. Polutan dapat berasal dari sampah, limbah pabrik, limbah rumah tangga, dan lain-lain.

Di negara-negara berkembang, akses terhadap air bersih terbatas di berbagai daerah sehingga penyakit infeksi akibat kontaminasi feses manusia atau hewan dalam air minum sering terjadi. Menurut World Health Organization, kematian akibat penyakit-penyakit yang ditularkan melalui air dialami oleh lebih dari 5 juta orang per tahun. Penyakit-penyakit akibat bakteri yang ditransmisikan melalui air adalah kolera, gastroenteritis, tifus, salmonellosis, disentri, dan shigellosis (Cabral, 2010).

Sampah Permukiman (Abram Pratama)
Keberadaan sungai di tengah permukiman padat dengan tingkat kesadaran kesehatan masyarakat yang relatif rendah menjadikan upaya revitalisasi menjadi semakin panjang. (foto: Abram Pratama, 2019)

Sindrom Minamata

Dewasa ini, dampak negatif polutan berupa logam berat seperti kadmium, merkuri, timah, dan arsenik terhadap kesehatan menjadi kekuatiran banyak orang. Pajanan terhadap kadmium dapat mengakibatkan kerusakan ginjal dan tulang. Masyarakat yang banyak mengonsumsi ikan yang terkontaminasi metil merkuri mempunyai risiko kerusakan neurologis.

Risiko tersebut meningkat untuk bayi dalam kandungan sehingga wanita hamil harus menghindari memakan ikan yang terkontaminasi  merkuri. Tentu kita tidak mau wabah penyakit Minamata yang mulai terjadi tahun 1960-an di Jepang kembali terulang.

Sindrom Minamata adalah sindrom kelainan fungsi saraf yang disebabkan oleh keracunan merkuri. Pada tingkatan akut, penyakit ini dapat menimbulkan kematian. Masyarakat Jepang mempunyai kebiasaan mengonsumsi ikan laut dalam jumlah banyak. Ternyata pada masa itu, ikan-ikan di Teluk Minamata telah tercemar logam berat merkuri. Logam berat lainnya yaitu timah mempunyai efek toksik terhadap sistem saraf anak-anak.

Konsumsi air minum yang mengandung arsenik dalam jangka panjang berkaitan dengan peningkatan risiko kanker kulit dan beberapa tipe kanker lainnya, juga lesi kulit seperti hiperkeratosis dan perubahan pigmentasi (Jarup, 2003).

Bila kita mengingat kembali pelajaran biologi semasa sekolah dasar tentang rantai makanan, tentu kita menyadari bahwa manusia adalah konsumen yang berada di tingkatan tinggi rantai makanan. Fitoplankton sebagai produsen adalah sumber makanan bagi udang kecil di ekosistem sungai. Udang kecil akan dimakan ikan lele dan ikan lele kemudian diolah menjadi sajian kuliner pecel lele yang dikonsumsi dengan lahap oleh manusia.

Bayangkan, bila ada polutan seperti logam berat di sungai, maka polutan itu akan terakumulasi sejalan dengan peningkatan posisi organisme di rantai makanan, dan manusialah yang mengonsumsi polutan dengan porsi terbanyak. Waduh, alih-alih mendapat manfaat nutrisi dari protein pada ikan, malahan kesehatan terganggu bila ikan yang dikonsumsi telah tercemar polutan dengan kadar yang tinggi.


Cara Mencegah Kontaminasi

Sejumlah cara sederhana dapat dilakukan sebagai kontribusi kita dalam pencegahan kontaminasi air.

  • Air buangan tidak begitu saja dialirkan ke sungai terdekat, tetapi pastikan rumah kita dilengkapi dengan septic tank yang terawat baik;

  • Tidak membuang sampah ke sungai;

  • Tidak membiarkan sampah bertumpuk, karena bila terkena hujan akan menyebabkan adanya air kotor yang mengalir ke sumber air dan mencemarinya;

  • Hindari membuang zat kimia, bahan bakar minyak (mengandung timah), dan barang-barang yang tidak mudah terurai ke saluran air;

  • Hindari penggunaan cat yang mengandung timah;

  • Pastikan industri atau instansi tempat kita bekerja mempunyai sistem pengolahan limbah yang benar;

  • Kurangi penggunaan plastik dan lakukan daur ulang plastik;

  • Hindari penggunaan pestisida atau herbisida dalam bercocok tanam.

Dalam beberapa tahun terakhir, revitalisasi dan restorasi sungai-sungai di sejumlah kota besar di Indonesia sedang digalakkan, tetapi perlu diakui bahwa keberhasilannya belum sesuai harapan. Ekosistem sungai meliputi sepanjang wilayah daerah aliran sungai, dari hulu sungai, badan sungai, hilir sungai, dan bahkan muara sungai. Di sepanjang aliran sungai inilah terjadi segala macam interaksi atau hubungan timbal balik dari makhluk hidup dan juga lingkungannya.

Sungai Citarum di Desa Cangkuang (© Iwan Santosa)
Pemandangan ke arah hilir Sungai Citarum di Desa Cangkuang Wetan, Dayeuhkolot, saat musim kemarau. (foto: Iwan Santosa, 2020)

Oleh karena itu, tidaklah cukup bila hanya kebersihan sebagian area sungai yang dijaga karena air mengalir sepanjang sungai dan menghubungkan suatu area dengan area lainnya sepanjang sungai. Keterlibatan berbagai pihak yaitu pemerintah, berbagai komunitas, dan seluruh lapisan masyarakat (terutama masyarakat yang hidup di bantaran sungai) dalam restorasi, revitalisasi, dan keberlanjutan pemeliharaan sungai sangat dibutuhkan.

Jangan tunda lagi untuk peduli akan kebersihan sungai, mulailah dari diri kita sendiri. Semoga kepedulian dan kecintaan kita pada lingkungan, khususnya sungai, menjadi teladan dan inspirasi untuk orang-orang di sekitar kita.

Bayangkan betapa senangnya bisa melakukan selfie dengan latar belakang sungai yang bersih, asri, nyaman tanpa bebauan yang mengganggu dan tanpa sumber penyakit; bahkan kita dapat berwisata di sana. Sungai yang cantik, bersih, dan mendukung kesehatan akan menjadi aset berharga untuk kehidupan kita, dan warisan bagi anak cucu kita.

“Thousands have lived without love, not one without water.”

W. H. Auden

Ditulis oleh Teresa L. Wargasetia dalam buku Bercermin di Wajah Sungaiku

5 bintang | 4 penilai

Halaman ini adalah bagian dari kumpulan esai “Bercermin di Wajah Sungaiku”


Jelajahi artikel inspiratif lainnya »