Sambutan
Adhitya Alamsyah (Abah Alam)
Ketua Kawargian Abah Alam
Dalam kebudayaan Sunda dikenal istilah tritangtu, yakni asih, asah, asuh, yang tersirat pada tulisan Teologi Sungai. Merupakan kata yang berasal dari bahasa Sunda yang artinya tri: ‘tilu’ dan tangtu: ‘pasti’. Jadi, tritangtu adalah tiga kepastian dalam kehidupan, atau sebuah ilmu pasti dalam kehidupan yang berpedoman pada Batara Keresa, Batara Bima Karana, dan Batara Kawasa, yang disebut Batara Tunggal.
Kata-kata ini mewakili filosofi masyarakat Sunda mengenai tahapan dan nilai kehidupan. Asih berarti cinta, kasih sayang; asah berarti mengasah pikiran dan keterampilan; dan asuh berarti mengasuh dan merawat orang lain. Prinsip-prinsip ini menekankan pertumbuhan pribadi dan kesejahteraan bagi kehidupan komunitas.
Dalam konteks Sunda Buhun atau budaya Sunda purbakala, konsep “asih, asah, asuh” memiliki interpretasi yang unik terkait dengan teologi sungai. Makna interpretasi berdasarkan prinsip- prinsip yang relevan, sebagai berikut.
1. Asih (Cinta dan Kasih Sayang)
Dalam konteks teologi sungai Sunda Buhun, “asih” merujuk pada penghormatan dan rasa sayang yang dalam terhadap sungai sebagai entitas suci, mencerminkan keyakinan bahwa sungai adalah hadiah dari para dewa atau entitas spiritual yang harus dihargai dan dilindungi.
2. Asah (Pengasahan Diri)
Bagian “asah” dalam konteks ini bisa mengacu pada upaya individual atau masyarakat untuk mengasah pemahaman mereka tentang nilai-nilai teologi sungai yang mencakup pemahaman tentang mitos atau cerita terkait sungai, serta peran penting sungai dalam kehidupan sehari-hari dengan ritual tradisi.
3. Asuh (Pengasuhan)
“Asuh” dalam konteks teologi sungai mencerminkan tanggung jawab masyarakat untuk merawat dan menjaga sungai agar tetap bersih, lestari, dan suci sesuai dengan keyakinan teologis, yang mencakup pelaksanaan upacara ritual yang berkaitan dengan sungai.
Konsep ini memiliki makna yang lebih kaya dalam budaya Sunda Buhun. Pak Gai Suhardja senantiasa berpikir masa depan peradaban air, khususnya di tanah Sunda. Kepedulian ini membawa gerakan “kehidupan dan kematian” yang pernah dialaminya, bahwa air sungai bagai anugerah hidup dari Sang Pencipta, yang dapat menumbuhkan kehidupan.
Namun pada saat yang lain, air deras sungai yang dahsyat memusnahkan semua yang dilewatinya. Oleh karena itu, ia seperti mengingatkan kita betapa sungai serta alam lestari perlu dijaga manusia agar kehidupan tenteram, dan kematian dialami bukan oleh bencana, melainkan kematian yang anggun. Salam Kawargian.
September 2023
Adhitya Alamsyah
Jelajahi artikel inspiratif lainnya »
