Fahira Riva

Perjuangan Fahira Melawan Stigma, Dari Bangku Kedokteran Menuju Puteri Indonesia

Kesempurnaan dan kebahagiaan seorang perempuan adalah ketika bisa melahirkan dan membesarkan putra atau putrinya.

Bagi kebanyakan perempuan, menjadi ibu bukanlah sekadar urusan sempurna atau tidak. Bagi mereka, menjadi seorang ibu adalah fitrah yang kodrati, sekaligus visi dan harapan masa depan.

Bayangkan, bagaimana perasaannya bila divonis tidak bisa memiliki anak?

Ia bisa kehilangan harapan, hilang kepercayaan diri, merasa tidak sempurna, bahkan tidak berharga.

Yang lebih memprihatinkan, ternyata banyak juga perempuan yang hilang harapan bukan karena benar-benar tidak mampu melahirkan secara medis, melainkan karena kurangnya pengetahuan.

Baca juga → Ini Cara Voting Puteri Indonesia 2026, Ayo Dukung Finalis Pilihanmu!

Sindrom PCOS

Stigma “tidak bisa melahirkan” ini berkaitan dengan pemahaman masyarakat mengenai sindrom polikistik ovarium (polycystic ovary syndrome) atau PCOS. Banyak perempuan dengan PCOS yang dianggap tidak bisa melahirkan karena infertilitas.

“Dengan diagnosis dan penanganan yang tepat, mereka bisa mengandung dan melahirkan,” lanjutnya.

PCOS adalah gangguan hormonal yang memengaruhi ovulasi dan fertilitas atau kesuburan. Gangguan ini ternyata cukup banyak terjadi di kalangan perempuan usia subur, jumlahnya mencapai dua dari sepuluh perempuan.

Masalah Stigma dan Tabu Perempuan

Faktanya, 70 persen perempuan dengan PCOS tidak terdiagnosis. Inilah yang menjadi masalah. Sumber masalah itu, salah satunya adalah karena stigma.

Fahira mengamati dan merasakan kurangnya edukasi mengenai cara menjaga kesehatan reproduksi sejak usia dini. “Pembicaraan mengenai menstruasi, hormon, dan kesuburan masih dianggap tabu, bahkan di kalangan perempuan itu sendiri,” ujarnya.

Ia mengingat pengalamannya sebagai seorang remaja dengan PCOS. Ia mengalami sendiri semua gejala yang tidak ia pahami, dan sulit untuk dibicarakan.

“Banyak dari kita yang akhirnya belajar dari pengalaman pribadi, kesakitan dan kebingungan, bukan dari edukasi,” keluhnya. Ia membayangkan berapa banyak remaja putri lainnya yang mengalami masalah serupa.

Dari situlah, Fahira tergerak untuk mengambil tindakan.

“Saya berharap agar perempuan yang mengalami seperti saya tidak lagi merasa malu atau takut mencari pertolongan medis. Saya ingin agar topik kesehatan reproduksi bisa dibicarakan dan didiskusikan tanpa diskriminasi, tanpa perasaan dihakimi,” ujar Fahira.

Sejak beberapa waktu lalu, Fahira giat melakukan edukasi baik melalui media sosial maupun pertemuan-pertemuan langsung yang lebih personal.

Ia mengaku, “Bicara dari hati ke hati, dari perempuan untuk perempuan, bisa mengubah ketakutan menjadi keberanian, dari kebungkaman menjadi kekuatan.”

Baca juga → Jangan Panik Hadapi Superflu, Kenali dan Pahami Cara Pencegahannya

Perjuangan Puteri Indonesia

Fahira telah menyelesaikan kuliah kedokteran jenjang sarjana. Saat ini, ia sedang dalam tahap akhir studi jenjang profesi.

Saat menempuh studi sarjana kedokteran itulah, ia mendapatkan edukasi formal mengenai infertilitas dan kesehatan reproduksi.

Belum lama ini, Fahira terpilih menjadi finalis Puteri Indonesia Favorit 2026 mewakili Jawa Barat.

Menurutnya, Puteri Indonesia bukan hanya gelar. Keikutsertaannya dalam ajang Puteri Indonesia juga untuk memperluas suara, membawa misi menjembatani akses kesehatan dengan penerimaan masyarakat.

“Dengan memecah stigma dan membangun kesadaran, kita tidak merenggut masa depan perempuan, tapi menolong mereka untuk menemukan kembali masa depan itu,” pesannya.

Tahukah Anda?

PCOS atau sindrom polikistik ovarium adalah ketidakseimbangan hormon pada wanita yang menyebabkan gejala antara lain gangguan menstruasi, mudah berjerawat, dan berat badan meningkat.


foto atas: dok. Fahira Riva

editor: MA

aktual pendidikan rekomendasi utama
5 bintang | 3 pendukung