Webometrics telah dikenal sebagai sistem pemeringkat perguruan tinggi terpercaya secara global. Namun, baru-baru ini muncul pemeringkat yang menyerupai dan meniru Webometrics, menggunakan nama situs yang mirip dengan situs aslinya.
Isidro F. Aguillo pencetus Webometrics secara tegas menyerukan agar publik tidak terjebak oleh situs palsu yang merilis data fiktif atau data yang direkayasa.
Melalui akun medsos X @isidroaguillo, ia juga mengumumkan bahwa situs resmi Webometrics beralamat webometrics.info saat ini tidak lagi beroperasi. Sejak edisi Januari 2025, data resmi Webometrics dirilis melalui platform Figshare.
Melihat situasi ini, Vladimir M. Moskovkin, peneliti dari Czechia dalam tulisannya “Predatory University Rankings Jeopardise the Value of Webometrics” mengemukakan ancaman pemeringkat palsu yang ia sebut sebagai “predatory rankings”.

Baca juga → Belasan Kampus Top Indonesia Gawat Integritas Riset RI2, Ribuan Lainnya Aman?
Lahirnya Webometrics
Pemeringkatan global perguruan tinggi di dunia sebelumnya didominasi oleh tiga sistem besar, yakni QS, Times Higher Education (THE), dan Academic Ranking of World Universities (ARWU). Selain itu, terdapat sistem lain seperti CWTS Leiden Ranking, TNU Ranking, dan SIR-Scimago.
Namun, sebagian besar hanya menyoroti sekitar 1.500 hingga dua ribu institusi elit, tidak mencakup ribuan perguruan tinggi khususnya di wilayah negara-negara berkembang.
Sebagai alternatif, pada tahun 2004 Cybermetrics Lab (CSIC, Spanyol) meluncurkan Webometrics Ranking of Universities.
Berbeda dengan sistem pemeringkatan berbasis prestise, Webometrics adalah inisiatif nirlaba yang berfokus pada keterbukaan akses dan visibilitas institusi. Sistem pemeringkat yang dikembangkan sejak 1990-an ini menilai efektivitas universitas dalam menyebarkan konten ilmiah melalui domain web dan sumber daya akses terbuka.
Saat ini, Webometrics memantau lebih dari 31.000 institusi dengan basis data OpenAlex, menjadikannya alat paling inklusif untuk visibilitas akademik global.
Perubahan Metodologi
Hingga edisi Januari 2025, Webometrics menggunakan data Google Scholar untuk indikator “Openness”. Namun, akibat pembatasan teknis terkait web scraping, sistem ini beralih ke OpenAlex dan standar ROR (Research Organisation Registry).
Migrasi yang diterapkan pada metodologi baru tersebut (per Juli 2025) berhasil memetakan sekitar delapan ribu universitas. Ribuan lainnya belum terpetakan karena tidak memiliki identifikasi resmi.
Untuk menopang proses audit yang intensif, Webometrics mulai menerapkan biaya sebesar 200 euro bagi universitas yang ingin mengakses file lengkap indikator. Langkah ini bertujuan membatasi situs tiruan yang mencoba menyalin data resmi.

(arsip: www.webometrics.info/en/Asia/Indonesia)
Baca juga → Tiga Indikator Penilaian Webometrics
Munculnya “Predatory Rankings”
Dalam kekosongan informasi tersebut, sejumlah situs tiruan bermunculan dengan domain mirip, seperti webometrics.org, webometricsranking.com, dan webometrics.online.
Analisis menunjukkan data yang dipublikasikan tidak sah dan bahkan direkayasa. Beberapa universitas ditampilkan dengan posisi yang tidak realistis, sementara data lama dipublikasikan kembali seolah-olah baru.



Fenomena ini menimbulkan ilusi legitimasi. Bahkan, beberapa tautan di Wikipedia kini mengarah ke situs tiruan tersebut, sehingga menyesatkan publik dan pihak universitas yang menganggapnya sebagai sumber resmi.
Isidro Aguillo merespons diskusi dengan Vladimir Moskovkin (13/2/2026) dengan pernyataan berikut ini.
“Unfortunately many universities traditionally linking to our website are now linking to the fake websites without checking the authorship. For previous editions there was no problem as they copy the public data. But, for the last January 2026 edition, the 200 euros was a barrier for these websites, and the data they published that is being cited is fabricated and not correct.”
Moskovkin menyoroti paradoks tersebut, bahwa ketika proyek resmi Webometrics berjuang mempertahankan audit ketat berbasis biaya demi kelangsungan, situs tiruan justru menawarkan “convenient lie” secara gratis.
Akibatnya, data palsu menjadi lebih mudah diakses dan cepat menyebar dibandingkan informasi sahih yang membutuhkan proses verifikasi intensif.
Puluhan Negara Terjebak Peringkat Palsu
Hingga Maret 2026, Moskovkin mencatat 178 publikasi di 25 negara yang merayakan “kenaikan” peringkat berdasarkan data palsu.
Indonesia menjadi negara dengan jumlah publikasi tertinggi (94), disusul Ukraina (17), Turki (11), Filipina (10), Mesir (5), dan Afrika Selatan (5). Sejumlah universitas di Eropa juga terjebak dalam kampanye disinformasi ini.
Praktik ini menyerupai fenomena jurnal predator atau predatory journals, membuat universitas tergoda oleh janji peringkat tinggi tanpa verifikasi. Bahkan, muncul skema komersial yang menawarkan jasa “perbaikan peringkat” dengan biaya hingga 5.000 euro per bulan.
Fenomena predatory rankings alias pemeringkatan palsu mencerminkan resistensi terhadap transparansi. Ketika universitas memilih platform palsu demi citra, mereka turut melemahkan integritas akademik.
Moskovkin berpesan bahwa tantangannya kini bukan sekadar memilih basis data terbaik, melainkan menjaga reputasi pendidikan tinggi dari sumber palsu yang menyesatkan.
Diadaptasi dari artikel “Predatory University Rankings Jeopardise the Value of Webometrics” oleh Vladimir Moskovkin di LSE Impact (25/3/2026).
Referensi:
Moskovkin, V. New Methodology for Calculating Webometrics University Ranking: From Google Scholar to OpenAlex. Preprints 2025, 2025081191. https://doi.org/10.20944/preprints202508.1191.v1
(ma)
foto atas: kolase tangkapan layar situs resmi Webometrics (2021)
editor: MA

