THE Sustainability Ratings 2026

THE Impact Rankings Berubah Jadi THE Sustainability Ratings, Apa Dampaknya bagi Indonesia?

Times Higher Education (THE) merilis edisi terakhir THE Impact Rankings pada tahun 2025. Setelahnya, THE meluncurkan Sustainability Impact Ratings 2026. Kalangan perguruan tinggi pun bertanya-tanya, kenapa berubah? Ada apa gerangan?

Setelah tujuh tahun dikenal sebagai THE Impact Rankings, pemeringkatan yang mengukur kontribusi universitas terhadap SDGs (Sustainable Development Goals) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan ini resmi berganti nama menjadi THE Sustainability Impact Ratings.

Sekilas, perubahan ini tampak seperti pergantian nama belaka. Namun, perubahan tersebut mengejutkan banyak perguruan tinggi di dunia.

Dalam tujuh tahun, THE Impact Rankings berhasil mendapatkan perhatian dan kepercayaan global sebagai pemeringkat perguruan tinggi yang bergengsi. Kalangan perguruan tinggi di dunia pun mengadopsi THE Impact Rankings sebagai salah satu indikator reputasi insitusi.

Ketika pertama kali diluncurkan pada 2019, THE Impact Rankings membawa pendekatan yang berbeda dari pemeringkatan perguruan tinggi pada umumnya.

Sistem pemeringkatan tradisional lebih berfokus pada reputasi akademik, publikasi ilmiah, atau kualitas riset, sedangkan THE Impact Rankings mencoba menjawab pertanyaan yang lebih mendasar: apa dampak nyata universitas terhadap masyarakat dan planet bumi?

Baca juga → Top 10 Kampus Swasta dan Negeri Terbaik Indonesia THE Impact Rankings 2024

Mengapa Keberlanjutan Menjadi Pusat Perhatian?

Isu keberlanjutan (sustainability) menjadi perhatian karena dunia abad ke-21 menghadapi banyak tantangan yang semakin kompleks.

Masyarakat global menyadari bahwa model pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang selama ini dijalankan telah menghasilkan berbagai masalah yang saling berkaitan. Krisis pun terjadi, mulai dari perubahan iklim, degradasi lingkungan, kesenjangan sosial, krisis kesehatan, ketahanan pangan, hingga persoalan tata kelola dan kepercayaan publik terhadap institusi.

Dalam kondisi seperti itu, keberhasilan sebuah organisasi tidak lagi dapat diukur hanya dari pertumbuhan ekonomi atau keuntungan jangka pendek, melainkan juga dari kemampuannya menjaga keseimbangan antara kepentingan ekonomi, lingkungan, dan sosial.

Di sektor korporasi, kesadaran tersebut melahirkan konsep ESG (Environmental, Social, and Governance). Investor mulai memahami bahwa faktor lingkungan, sosial, dan tata kelola dapat memengaruhi risiko, ketahanan, dan kinerja perusahaan dalam jangka panjang. Akibatnya, ESG berkembang menjadi salah satu indikator penting dalam keputusan investasi dan penilaian reputasi korporasi.

Di dunia pendidikan tinggi, tuntutan serupa muncul setelah PBB meluncurkan Sustainable Development Goals (SDGs) pada 2015. Universitas dipandang memiliki posisi strategis karena menghasilkan riset, mencetak sumber daya manusia, memengaruhi kebijakan publik, serta berinteraksi langsung dengan masyarakat.

Oleh karena itu, kampus diharapkan tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berkontribusi dalam menyelesaikan berbagai persoalan global.

Dari perspektif reputasi, keberlanjutan juga telah menjadi tolok ukur baru. Jika dahulu reputasi perusahaan atau universitas ditentukan oleh ukuran ekonomi, prestise, atau capaian akademik, kini para pemangku kepentingan ingin mengetahui dampak nyata yang dihasilkan institusi tersebut bagi masyarakat dan lingkungan.

Inilah yang membuat berbagai instrumen seperti ESG di sektor korporasi dan Sustainability Impact Ratings di sektor pendidikan tinggi semakin penting.

Baca juga → Selisik ScholarGPS Pemeringkat Kampus dan Peneliti Terbaik Dunia, Apakah Terpercaya?

THE Impact Rankings Menjadi Acuan Reputasi Kampus

Kehadiran THE Impact Rankings mendapatkan respons yang luar biasa. Saat pertama kali diluncurkan, edisi perdana hanya diikuti 450 universitas dari 76 negara.

Enam tahun kemudian, jumlah peserta melonjak menjadi lebih dari 2.500 universitas dari 130 negara. Lonjakan ini menandakan bahwa kesadaran perguruan tinggi terhadap SDGs semakin tinggi, dan keberlanjutan telah menjadi isu strategis yang membentuk reputasi institusi.

Fenomena ini mencerminkan perubahan paradigma dalam cara universitas membangun reputasi dan menunjukkan relevansinya di tengah masyarakat.

Semakin banyak universitas merasa perlu membuktikan kontribusinya terhadap masyarakat, lingkungan, dan tata kelola yang bertanggung jawab karena faktor-faktor tersebut mulai menentukan legitimasi dan reputasi institusi di tingkat internasional.

Keberhasilan THE menciptakan dan memopulerkan acuan baru dalam pemeringkatan global perguruan tinggi, sekaligus melahirkan persoalan baru. Pertumbuhan yang demikian pesat membuat THE harus mengelola jutaan data penelitian dan puluhan ribu dokumen bukti kebijakan yang dikirimkan oleh institusi peserta setiap tahun.

Semakin banyak peserta berarti semakin besar kebutuhan verifikasi data, evaluasi dokumen, dan pengelolaan sistem penilaian. Akibatnya, Impact Rankings menjadi terlalu besar untuk dijalankan dengan model lama.

Di sinilah titik awal perubahan Impact Rankings menjadi Sustainability Impact Ratings.

Alasan Berubah Menjadi Sustainability Impact Ratings

Phil Baty, Chief Global Affairs Officer di Times Higher Education mengakui bahwa Impact Rankings sejatinya bukan representasi seluruh universitas di dunia, sangat berbeda dengan sistem pemeringkatan tradisional THE World University Rankings.

Perguruan tinggi yang diikutsertakan dalam penilaian adalah perguruan tinggi yang secara sukarela bersedia mengikuti proses evaluasi ketat, untuk menunjukkan komitmennya terhadap SDGs melalui mekanisme dan metodologi THE Impact Rankings.

THE mulai mempertimbangkan apakah istilah rankings masih relevan.

Dalam sistem pemeringkatan tradisional, setiap posisi memiliki makna yang sangat penting. Namun, dalam Impact Rankings, sering kali perbedaan skor antaruniversitas sangat tipis sehingga perubahan kecil dapat menggeser posisi puluhan peringkat sekaligus. THE menyebut kondisi ini sebagai fenomena ranking instability.

Oleh sebab itu, THE mulai menggeser pendekatan dari sekadar menentukan siapa peringkat pertama atau kedua, menuju sistem yang lebih menekankan kualitas dan pencapaian kinerja keberlanjutan. Inilah alasan mengapa istilah ratings dipilih menggantikan rankings.

Bahkan, THE membuka kemungkinan bahwa di masa depan hasil penilaian dapat disajikan dalam bentuk kategori atau kelompok performa, bukan lagi urutan angka yang sangat kompetitif.

Apakah Metodologi THE Impact Rankings Berubah?

Setelah namanya berubah, apakah metodologinya juga berubah? Ternyata, perubahan besar pada nama tidak diikuti perubahan besar pada metodologi. Berarti betul hanya perubahan nama belaka, hanya branding saja yang diperbarui?

THE menegaskan bahwa metode penilaian yang digunakan pada Sustainability Impact Ratings tetap menggunakan kerangka Impact Rankings yang selama ini sudah dikenal. Empat pilar utama tetap menjadi fondasi penilaian, yakni 1) research, 2) stewardship, 3) outreach, dan 4) teaching. Demikian pula dengan penggunaan komponen SDGs sebagai basis evaluasi.

Universitas juga masih harus mengirimkan data SDG 17 (Partnerships for the Goals) dan sedikitnya tiga SDG lainnya untuk dapat masuk ke pemeringkatan keseluruhan. Bobot indikator, jenis bukti yang diminta, serta pendekatan penilaian berbasis riset dan bukti kebijakan juga tetap dipertahankan.

Dengan kata lain, yang berubah bukanlah cara menghitung skor, melainkan cara THE mengelola dan memosisikan sistem tersebut dalam jangka panjang.

Walaupun metodologi tidak berubah, ada hal baru yang diperkenalkan. Bersamaan dengan perubahan nama THE Impact Rankings menjadi THE Sustainability Impact Ratings, THE memperkenalkan Sustainability Impact Network.

Baca juga → Metode Penilaian THE Impact Rankings

Ketika THE Impact Rankings Juga Butuh Berkelanjutan

Bila metodologi penilaiannya masih sama saja, lalu apa yang jadi pergunjingan kalangan perguruan tinggi?

Rupanya, THE mengubah model kepesertaannya. Sebelumnya, THE Impact Rankings dapat diikuti oleh perguruan tinggi dengan mengirimkan data secara sukarela dan tidak dipungut biaya. Kepesertaan itu kini berubah menjadi subscription-based.

Itulah masalahnya!

Tadinya gratis, sekarang berbayar.

Seiring dimulainya edisi Sustainability Impact Ratings, universitas yang ingin mengikuti penilaian wajib bergabung sebagai anggota Sustainability Impact Network. Tanpa menjadi anggota, universitas tidak dapat mengirimkan data maupun memperoleh hasil yang dipublikasikan.

Keputusan ini dapat dipahami sebagai upaya THE menciptakan model yang berkelanjutan untuk membiayai proses evaluasi yang semakin kompleks. Namun, bagi sebagian perguruan tinggi, khususnya yang memiliki keterbatasan anggaran, kebijakan tersebut tentu menghadirkan tantangan baru.

Lebih jauh, THE tampaknya ingin menjual sesuatu yang lebih besar daripada sekadar daftar peringkat tahunan.

Melalui Sustainability Impact Network, anggota dijanjikan akses ke benchmarking data, analisis kinerja, kegiatan eksklusif, komunitas global, sertifikasi resmi, hingga berbagai perangkat komunikasi dan branding yang dapat digunakan untuk memperkuat reputasi institusi.

Jika dahulu universitas hanya mengirim data dan menunggu hasil ranking diumumkan, kini THE berupaya membangun sebuah komunitas global yang secara aktif berbagi praktik baik dan informasi strategis mengenai keberlanjutan. Dalam perspektif bisnis, THE menggeser fokus dari produk pemeringkatan menjadi platform layanan dan jejaring keberlanjutan.

Baca juga → Puluhan Negara Terjebak Predatory Rankings Tiruan Webometrics

Dampak bagi Perguruan Tinggi Indonesia

Di Indonesia, THE Impact Rankings beberapa tahun terakhir telah menjadi peringkat bergengsi yang diakui sebagai indikator penting bagi reputasi perguruan tinggi. Angka peringkat universitas dalam tabel Impact Rankings ditampilkan di berbagai media publikasi sebagai kebanggaan kampus.

Setelah THE Impact Rankings berubah menjadi THE Sustainability Impact Rankings, apa yang menjadi perhatian?

Pertama, perubahan ini menunjukkan bahwa isu keberlanjutan tidak lagi dianggap sekadar aktivitas tambahan kampus. Keberlanjutan telah menjadi arena strategis yang memengaruhi reputasi, kemitraan internasional, daya tarik mahasiswa, hingga posisi universitas dalam percaturan global.

Kedua, tidak perlu khawatir terkait perubahan metodologi karena substansi penilaiannya tetap sama. Metodologi penilaiannya tidak berubah.

Strategi yang selama ini efektif untuk meningkatkan peringkat, masih menjadi kunci utama untuk memperoleh skor tinggi. Strategi yang dimaksud, antara lain adalah memperkuat kebijakan SDGs, meningkatkan publikasi terkait keberlanjutan, membangun kemitraan, serta menyediakan bukti yang dapat diverifikasi.

Ketiga, universitas perlu mulai mempertimbangkan aspek anggaran karena partisipasi dalam Sustainability Impact Ratings kini berkaitan dengan biaya keanggotaan tahunan.

Akhir Kata

Perubahan dari THE Impact Rankings menjadi THE Sustainability Impact Ratings bukanlah revolusi metodologi, melainkan transformasi paradigma.

Terlepas dari pemikiran bahwa perubahan ini didasari pertimbangan bisnis dan biaya operasional yang tinggi, THE sedang berusaha mengubah sebuah sistem pemeringkatan menjadi ekosistem keberlanjutan yang lebih stabil, berkelanjutan, dan kolaboratif.

Reputasi memang penting untuk menaikkan daya saing perguruan tinggi. Perolehan peringkat atas memang perlu untuk membuktikan keseriusan institusi dalam isu keberlanjutan.

Namun, yang lebih penting adalah sejauh mana universitas mampu membuktikan secara nyata bahwa kehadirannya benar-benar memberi dampak bagi masyarakat dan masa depan bumi kita.


(Ditulis oleh: Iwan Santosa)

REFERENSI


TENTANG PENULIS

foto atas: Times Higher Education

editor: MA

pendidikan rekomendasi
5 bintang | 1 pendukung