Ditulis oleh Nonie Magdalena, mahasiswa Program Doktor Ilmu Manajemen Universitas Airlangga, Dosen Fakultas Hukum dan Bisnis Digital Universitas Kristen Maranatha.
Akhir-akhir ini, berita di media dibanjiri isu geopolitik yang semakin memanas, khususnya perang AS-Israel vs. Iran. Isu ini berdampak pada stabilitas negara yang akhirnya menimbulkan kecemasan warganya.
Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh beberapa negara saja, tetapi juga menimbulkan kecemasan di seluruh bagian dunia. Indonesia pun menyusun strategi mitigasi untuk mencegah dan mengurangi dampak isu geopolitik ini demi menjaga stabilitas negara.
Pemerintah Indonesia resmi menetapkan kebijkan work from home (WFH) bagi ASN setiap hari Jumat mulai 1 April 2026 melalui Surat Edaran Menaker No. M/6/HK.04/III/2026. Kebijakan ini bertujuan mengoptimalkan penggunaan energi dan mengurangi konsumsi BBM nasional. Pemerintah juga mengimbau agar sektor swasta ikut menerapkan WFH satu minggu sekali.
Di sisi lain, banyak juga berita yang mengabarkan bahwa masyarakat Indonesia tidak perlu cemas dan takut. Kondisi ekonomi masih bisa bertahan mengatasi krisis ini, dan Indonesia masih berada dalam kondisi baik-baik saja.
Baca juga → Empat Kampus Jabar Buka PPDS Baru, Strategi Kemdiktisaintek Atasi Krisis Dokter Nasional
Perlunya Menumbuhkan Sense of Crisis
Sebagian pengamat ekonomi mulai melakukan analisis dan memunculkan berbagai opini dari hasil pengamatan dan analisis yang dilakukan. Berbagai program dialog dan investigasi seperti “Rakyat Bersuara” mulai membahas isu geopolitik ini dan bagaimana dampaknya pada Indonesia, termasuk setiap keputusan strategis yang dikeluarkan Pemerintah Indonesia.
Berbagai opini dan program dialog tersebut rupanya menambah polemik, keresahaan, kecemasaan, dan bahkan ketakutan bagi kita, tanpa bisa berpikir apa yang harus dilakukan untuk mengatasi ancaman krisis yang katanya akan lebih besar dari krisis 1998.
Masyarakat pada lapisan menengah-bawah (khususnya lapisan bawah), semakin binggung mengenai berbagai opini yang ada di media. Apakah media-media memberikan informasi hoax atau fakta?
Sementara itu, masyarakat lapisan menengah-atas mengikuti berita-berita, tapi apakah mereka memiliki sense of crisis sehingga paham harus berperilaku atau bertindak seperti apa? Apakah kebijakan WFH akan mendorong sense of crisis dari masyarakat (hususnya lapisan menengah-atas) untuk sadar akan penghematan energi dan pengurangan konsumsi BBM nasional?
Masyarakat merupakan elemen penting bagi negara untuk tetap bertahan selama krisis terjadi. Oleh karena itu, dukungan dari masyarakat yang peduli pada negara sangat diperlukan untuk menjaga keberlanjutan negara.
Menumbuhkan kesadaran akan krisis pada semua lapisan masyarakat merupakan strategi yang sangat penting untuk menciptakan keberlanjutan ekosistem.

Konsep Demarketing dalam Kasus Geopolitik
Masyarakat merupakan konsumen yang mengonsumsi berbagai produk yang dihasilkan oleh negara. Dalam perspektif bidang pemasaran, jika permintaan melebihi kapasitas, sedangkan produk yang dihasilkan dan dijual oleh perusahaan terbatas, maka perusahan perlu melakukan strategi keseimbangan.
Salah satu strategi pemasaran yang bertujuan untuk mengurangi atau membatasi minat pelanggan, baik secara umum maupun pada kelompok tertentu, baik sementara maupun permanen, dikenal dengan konsep demarketing.
Strategi demarketing digunakan jika produk yang dihasilkan terbatas sehingga tidak bisa memenuhi permintaan konsumen.
Dalam kasus geopolitik ini, Pemerintah Indonesia menganalisis berbagai produk yang akan mengalami kelangkaan, seperti energi dan BBM.
Alangkah baiknya Pemerintah tidak hanya mengeluarkan kebijkan WFH saja, tetapi juga menyusun strategi komunikasi melalui kampanye marketing sosial yang bersifat demarketing agar masyarakat semakin paham bagaimana harus berperilaku dan bertindak jika terjadi kelangkaan produk.
Berbagai perilaku dan tindakan yang terorganisir pasti menghasilkan perubahan besar dibandingkan hanya tindakan yang dilakukan secara individu.
Baca juga → Sebelas Kampus Tuntaskan Kampanye Nasional Pembumian Saintek
Kampanye Sosial Demarketing untuk Mengatasi Krisis
“Everyone is marketer”, sebuah kalimat yang sudah sering kita dengar. Konsep bahwa setiap orang adalah pemasar bisa dijadikan jargon kesuksesan kampanye sosial demarketing untuk menumbuhkan motivasi yang berdampak pada sense of crisis dari seluruh lapisan masyarakat.
Contohnya adalah kampanye sosial “5M” saat Indonesia mengalami kasus pandemi Covid-19.
Daripada mengeluarkan opini-opini, berita-berita, program-program dialog yang semakin menambah keresahan, kecemasan, dan ketakutan masyarakat, lebih baik kita sebagai masyarakat yang juga agen perubahan (alias “pemasar”) melakukan kampanye sosial demarketing untuk memberikan informasi apa yang harus dilakukan oleh masyarkat, agar menumbuhkan sense of crisis.
Caranya bisa dimulai dengan kampanye sosial demarketing yang dikeluarkan oleh Pemerintah Indonesia, seperti kampanye “5M” untuk menghambat penyebaran virus Covid-19 saat itu.
Selanjutnya, kita bisa menyebarkan kampanye itu ke seluruh penjuru Indonesia agar bersama-sama mencegah dan bahkan mengatasi krisis akibat geopolitik. Dengan demikian, kita sebagai satu kesatuan masyarakat Indonesia dapat menyukseskan kampanye sosial demarketing demi keberlanjutan negara yang kita sayangi.
(Ditulis oleh: Nonie Magdalena)
foto atas: Konferensi pers mengenai kebijakan harga BBM bersubsidi dan transportasi udara di Jakarta, Senin 6 April 2026. (sumber: Humas Kemensetneg)
editor: MA
