photo by George Pisarevsky

Menimbang Kredibilitas uniRank dan UNIRANKS di Era Pseudo-Ranking, Apa yang Perlu Diwaspadai?

Dalam dua dekade terakhir, pemeringkatan perguruan tinggi telah berkembang menjadi salah satu instrumen reputasi yang sangat penting dalam dunia pendidikan tinggi. Universitas berlomba meningkatkan posisi pada beragam ranking global.

Mulai dari QS World University Rankings, Times Higher Education (THE), Academic Ranking of World Universities (ARWU), hingga Webometrics dan uniRank.

Universitas juga berlomba memajang badge atau emblem peringkat perguruan tinggi terbaik atau top kesekian kampus terbaik berdasarkan pemeringkat tertentu.

Di sisi lain, perkembangan tersebut juga melahirkan fenomena baru, yakni semakin banyaknya lembaga dan platform pemeringkatan yang mengeklaim mampu mengukur kualitas universitas dan memberikan peringkat bergengsi.

Kondisi itu memunculkan pertanyaan kritis: bagaimana cara membedakan ranking yang kredibel dengan ranking yang sekadar tampak kredibel?

Baca juga → Membandingkan Tiga Raksasa Pemeringkat Keberlanjutan Global dari THE, QS, dan UI

Ternyata uniRank dan UNIRANKS Tidak Sama

Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan ketika publik dihadapkan pada dua nama yang sangat mirip, yaitu uniRank dan UNIRANKS. Bila kurang cermat, keduanya bisa dianggap sama atau saling tertukar.

Keduanya sama-sama bergerak di bidang pemeringkatan perguruan tinggi global, tetapi memiliki sejarah, metodologi, dan tingkat pengakuan yang berbeda. Lebih detail mengenai dua pemeringkat ini akan dibahas pada bagian berikutnya.

Ditambah lagi, dunia pendidikan tinggi juga dibuat bingung oleh maraknya situs-situs pemeringkatan tiruan.

Salah satu kasusnya adalah pemeringkat tiruan Webometrics yang menyebabkan banyak pihak, termasuk perguruan tinggi dan media massa, mengutip data yang ternyata tidak resmi, bahkan menyesatkan.

Peringkat Semu Pseudo-Ranking

Istilah pseudo-ranking dapat diartikan pemeringkatan yang tampaknya tepercaya, sementara legitimasi, transparansi metodologi, dan pengakuan komunitasnya masih dipertanyakan.

Dalam ilmu komputer, ada istilah pseudocode yang sudah umum digunakan. Pseudocode adalah representasi logika program yang menyerupai kode komputer, tetapi bukan program sebenarnya yang dapat dijalankan atau dieksekusi langsung oleh komputer.

Menggunakan analogi itu, sebuah pseudo-ranking dapat menyerupai ranking universitas yang resmi, tetapi belum tentu memiliki fondasi metodologis yang valid dan kredibilitas ilmiah yang kuat.

Pseudo-ranking tidak serta merta identik dengan penipuan atau pemalsuan data. Istilah ini lebih merujuk pada suatu sistem pemeringkatan yang belum memiliki tingkat validasi metodologis dan legitimasi formal yang setara dengan sistem mapan yang telah teruji secara universal.

Baca juga → THE Impact Rankings Berubah Jadi THE Sustainability Ratings, Apa Dampaknya bagi Indonesia?

Pelajaran dari Kasus Webometrics Palsu

Kewaspadaan terhadap legitimasi ranking bukanlah kekhawatiran yang berlebihan. Baru-baru ini, dunia pendidikan tinggi menghadapi kasus yang cukup serius ketika sejumlah situs menggunakan nama yang menyerupai Webometrics, yaitu webometrics.org, webometricsranking.com, dan webometrics.online.

Ketiganya sangat mirip. Apakah kemiripan ini tanpa sengaja?

Menurut laporan yang mengutip pendiri Webometrics, Isidro Aguillo, sejumlah situs tersebut memublikasikan data yang tidak sah, bahkan diduga hasil rekayasa.

Lebih mengkhawatirkan lagi, ratusan publikasi dari berbagai negara dilaporkan menggunakan data tersebut seolah-olah berasal dari sumber resmi. Indonesia bahkan disebut sebagai salah satu negara yang paling banyak terdampak.

Kasus ini menjadi pelajaran penting. Dalam era digital, kemiripan nama dapat menciptakan ilusi legitimasi. Banyak pihak cenderung memercayai sebuah ranking hanya karena namanya familiar, tanpa memeriksa organisasi pengelola, metodologi, maupun sumber datanya.

Lebih miris lagi, kalangan kampus yang (semestinya) sangat terpelajar pun tetap jadi korban.

Fenomena ini menunjukkan bahwa literasi terhadap ranking mungkin sama pentingnya dengan posisi ranking itu sendiri.

uniRank Mengaku Bukan Peringkat Akademik

Salah satu pemeringkat perguruan tinggi yang sudah cukup populer di Indonesia adalah uniRank. Pemeringkat global ini sebelumnya dikenal sebagai 4 International Colleges & Universities (4ICU) yang telah beroperasi sejak 2005.

uniRank (4ICU) secara terbuka menjelaskan metodologi yang digunakan. Aspek penilaiannya menggunakan kombinasi beberapa indikator web yang berasal dari sumber independen seperti Similarweb, Majestic, dan Moz. Bobot setiap indikator juga dipublikasikan secara jelas.

Transparansi uniRank membuat publik dapat memahami apa yang diukur dan bagaimana hasil ranking diperoleh. Sumber datanya pun jelas.

Namun, uniRank memiliki keterbatasan.

Pada dasarnya, uniRank mengukur visibilitas dan otoritas digital universitas, bukan kualitas akademik secara menyeluruh.

Dengan kata lain, pemeringkatan uniRank mencerminkan popularitas perguruan tinggi berdasarkan eksistensi atau keberadaan digital (online presence), sehingga tidak secara langsung menandakan mutu akademiknya. Hal ini diakui secara eksplisit oleh uniRank melalui situs resminya: unirank.org.

UNIRANKS yang Membingungkan

Bila uniRank telah terlebih dahulu dikenal dan diakui oleh sebagian besar perguruan tinggi di Indonesia, lain halnya dengan UNIRANKS. Namanya memang sangat mirip, tetapi keduanya amat berbeda, layaknya bumi dan langit.

UNIRANKS masih relatif baru terdengar di Indonesia, terutama melalui kemunculannya di beberapa media massa nasional beberapa tahun terakhir.

Berbeda dengan uniRank, UNIRANKS menawarkan penilaian yang jauh lebih luas.

Platform yang dirilis sekitar tahun 2017 melalui situs uniranks.com ini memperkenalkan konsep Open-Rank, evaluasi 360 derajat, serta penggunaan analitik berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk mengukur berbagai aspek seperti kualitas akademik, employability, kesejahteraan mahasiswa, transformasi digital, inovasi, dan reputasi global.

Secara konseptual, pendekatan komprehensif ini terdengar menarik dan ambisius, melibatkan banyak sekali indikator pengukuran dan sumber data yang sangat variatif.

Di sinilah muncul pertanyaan fundamental yang penting.

Jika sebuah sistem pemeringkatan mengeklaim mampu mengukur berbagai aspek perguruan tinggi, antara lain kualitas akademik, kesejahteraan mahasiswa, inovasi, dan employability secara bersamaan, maka publik berhak mengetahui aspek-aspek penting berikut ini.

  • Dari mana data diperoleh?
  • Bagaimana indikator dihitung?
  • Berapa bobot masing-masing variabel?
  • Bagaimana verifikasi datanya?

Berdasarkan dokumentasi yang tersedia, penjelasan UNIRANKS mengenai aspek-aspek tersebut belum tampak sedetail dan setransparan yang dipublikasikan oleh uniRank ataupun sejumlah pemeringkat global yang lebih mapan.

Misalnya, bagaimana UNIRANKS mengukur kesejahteraan mahasiswa? Apakah dengan visitasi langsung ke kampus, ataukah mereka mewawancarai mahasiswa, ataukah berdasarkan laporan yang disusun oleh pihak kampus, ataukah cara-cara lainnya yang terbukti valid?

Bukan berarti UNIRANKS tidak kredibel. Namun, semakin tinggi klaim yang diajukan sebuah ranking, semakin besar pula tuntutan terhadap transparansi dan validitas metodologinya.

Nama Mirip, Reputasi Beda

Sudah jelas sekali, salah satu aspek yang patut diperhatikan adalah kemiripan nama antara uniRank dan UNIRANKS.

Sekali lagi, apakah kemiripan ini disengaja, ataukah tidak?

Secara teknis, tidak ada bukti bahwa keduanya berafiliasi. Mereka merupakan entitas yang berbeda dengan sejarah yang berbeda. uniRank memiliki rekam jejak sejak 2005, sementara UNIRANKS mengembangkan platform ranking globalnya belakangan.

Pengalaman dari kasus Webometrics menunjukkan bahwa kemiripan nama saja sudah cukup untuk menimbulkan kebingungan.

Oleh karena itu, ketika suatu universitas mengumumkan capaian ranking, penting untuk menyebutkan secara jelas sumber ranking yang dimaksud, termasuk nama lembaga dan alamat situs resminya.

Baca juga → Puluhan Negara Terjebak Predatory Rankings Tiruan Webometrics

Apa yang Perlu Diwaspadai?

Sebetulnya, persoalannya bukan apakah suatu ranking terkenal atau tidak. Yang perlu diwaspadai adalah kecenderungan menerima hasil ranking tanpa memahami bagaimana ranking tersebut dihasilkan.

Kecenderungan ini sudah menjadi fakta umum, ditambah lagi euforia manajemen perguruan tinggi ketika melihat nama institusinya tampil pada peringkat atas. Mereka mudah terlena untuk langsung membanggakannya.

Agar tidak terjerumus (dan tetap terpelajar), setidaknya ada lima pertanyaan yang perlu diajukan terhadap setiap sistem pemeringkatan.

  • Siapa organisasi yang mengelolanya?
  • Sejak kapan organisasi tersebut beroperasi?
  • Dari mana sumber datanya berasal?
  • Apakah metodologinya terbuka dan dapat diverifikasi?
  • Apakah ada pengakuan dari lembaga yang kredibel?

Semakin jelas jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut, semakin tinggi pula tingkat kepercayaan yang dapat diberikan kepada sebuah ranking.

Baca juga → Selisik ScholarGPS Pemeringkat Kampus dan Peneliti Terbaik Dunia, Apakah Terpercaya?

Akhir Kata

Masalah terbesar dalam industri pemeringkatan perguruan tinggi bukanlah banyaknya ranking yang bermunculan. Sebaliknya, keberagaman metodologi justru dapat memperkaya perspektif mengenai kualitas universitas.

Persoalan muncul ketika publik (khususnya kalangan kampus) berhenti mempertanyakan bagaimana sebuah ranking dibangun dan langsung menerima posisi peringkat sebagai kebenaran yang perlu diuji.

Hal itu diperparah dengan faktor euforia, gengsi, dan prestise perguruan tinggi.

Di sinilah batas tipis antara pseudo-ranking dan vanity ranking alias peringkat pencitraan menjadi semakin tipis. Jangan sampai dunia perguruan tinggi juga terkena demam “kecap nomor satu”.

Perdebatan mengenai uniRank dan UNIRANKS sebetulnya membawa pelajaran yang lebih besar.

Dalam konteks pseudo-ranking, tantangan utama bukan lagi sekadar mengejar posisi dalam tabel pemeringkatan, melainkan membangun kemampuan untuk membaca, memahami, dan mengkritisi ranking itu sendiri.

Sebab, reputasi akademik yang sehat tidak dibangun oleh angka semata, melainkan kemampuan untuk melihat fakta di balik angka tersebut.


(Ditulis oleh: Iwan Santosa)

REFERENSI


TENTANG PENULIS

gambar atas: foto oleh George Pisarevsky

editor: MA

pendidikan
5 bintang | 2 pendukung