Ditulis oleh dr. Nathanael Andry Mianto, M.Sc., Sp.P., dosen tetap Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha, spesialis paru di RS Maranatha dan RS Borromeus.
Beberapa minggu terakhir ini, media dipenuhi berita mengenai infeksi superflu yang dikatakan sedang banyak beredar, termasuk di Indonesia. Istilah “superflu” yang dipopulerkan oleh media ini digunakan untuk mendeskripsikan fenomena lonjakan kasus flu yang dirasakan lebih mudah menular dan memiliki gejala yang berat.
- Apa Itu Superflu?
- Waspadai Kelompok Rentan
- Bagaimana Gejala Superflu?
- Siapa Saja yang Berisiko Tinggi?
- Apa yang Harus Kita Lakukan?
- Vaksinasi Apa yang Cocok?
- Kesimpulan & Ringkasan Cara Menghadapi Superflu
Dalam laporan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes), pada akhir Desember 2025 kemarin sudah tercatat 62 kasus terkonfirmasi “superflu” di delapan provinsi di Indonesia. Masyarakat pun mulai khawatir apakah virus ini akan menyebabkan pandemi lagi seperti pandemi Covid-19 sebelumnya.
Oleh karena itu, mari kita mengenal lebih lanjut mengenai virus ini, agar dapat lebih bijak menyikapi, mencegah, dan dapat melindungi kelompok yang rentan.
Baca juga → Wali Kota hingga Menkes Beri Pesan Khusus Saat Resmikan Kampus Pengembangan dan RS Maranatha
Apa Itu Superflu?
Istilah “superfluˮ sebenarnya bukan merupakan istilah medis resmi. Istilah ini digunakan di masyarakat untuk menggambarkan infeksi influenza musiman, khususnya yang disebabkan oleh virus influenza tipe A varian H3N2 subclade K.
Virus influenza tipe A dikenal sebagai virus yang sangat mudah mengalami mutasi. Setiap perubahan kecil pada virus ini berpotensi menyebabkan penularan yang lebih cepat atau gejala yang terasa lebih berat pada sebagian orang.
Mutasi tersebut juga dapat membuat antibodi yang terbentuk dari infeksi atau vaksin sebelumnya menjadi kurang efektif, sehingga seseorang tetap bisa terinfeksi kembali.
Influenza juga memiliki pola musiman, yaitu periode-periode tertentu dalam satu tahun ketika jumlah kasusnya meningkat.
Di Indonesia, peningkatan kasus influenza musiman umumnya terjadi pada musim hujan dan masa peralihan musim, terutama sekitar bulan November hingga Maret, serta saat transisi musim pada Maret–April dan September–Oktober.
Pada masa-masa ini, perubahan cuaca dan kelembapan dapat memengaruhi daya tahan tubuh dan penyebaran virus.
Waspadai Kelompok Rentan
Virus influenza yang beredar pada musim ini, yang disebut masyarakat sebagai superflu memiliki beberapa perbedaan dibandingkan infeksi influenza musiman pada tahun-tahun sebelumnya.
Salah satu perbedaan utama adalah kemampuan penularan virus yang lebih cepat, sehingga kasus flu meningkat dalam waktu yang relatif singkat. Selain itu, pada sebagian orang, infeksi virus ini dapat menimbulkan gejala yang terasa lebih berat.
Kondisi inilah yang membuat masyarakat merasa bahwa flu kali ini berbeda atau lebih berat dari sebelumnya. Meskipun demikian, hingga saat ini tidak ada bukti ilmiah yang kuat bahwa superflu lebih mematikan dibandingkan dengan influenza musiman sebelumnya. Tingkat keparahan dan angka kematian masih berada dalam kisaran yang serupa dengan influenza musiman pada umumnya.
Namun, perlu diketahui juga bahwa infeksi influenza, termasuk superflu, tetap dapat berbahaya bagi kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit kronik. Pada kelompok ini, influenza dapat menyebabkan komplikasi serius bila tidak ditangani dengan baik.
Lalu, apakah infeksi superflu berpotensi berkembang menjadi pandemi?
Hingga saat ini, para ahli menilai risiko tersebut masih sangat rendah, karena virus ini bukan virus baru dan tidak menunjukkan peningkatan keganasan yang signifikan.
Baca juga → Akademisi, Dokter, dan Psikolog Ungkap Keberhasilan Terapi Seni
Bagaimana Gejala Superflu?
Gejala superflu mirip dengan infeksi influenza musiman lainnya. Keluhan yang sering muncul antara lain:
- Demam dan sakit kepala
- Batuk dan Pilek
- Nyeri tenggorokan
- Nyeri otot dan sendi
- Badan terasa lemas dan mudah lelah
Pada sebagian besar orang yang sehat, gejala ini umumnya bersifat ringan hingga sedang dan dapat membaik dengan sendirinya dalam beberapa hari hingga beberapa minggu dengan istirahat yang cukup.
Perlu menjadi perhatian, pada kelompok rentan, infeksi influenza dapat menyebabkan gejala berat dengan komplikasi serius bahkan sampai kematian.
Siapa Saja yang Berisiko Tinggi?
Kelompok yang termasuk berisiko tinggi antara lain:
- Anak-anak
- Lansia
- Ibu hamil
- Penderita penyakit komorbid seperti penyakit paru, jantung, diabetes, gangguan sistem imun, dan penyakit kronik lainnya
Beberapa gejala yang harus diperhatikan:
- Sesak napas yang dirasakan memberat
- Batuk yang memberat
- Demam tinggi yang tidak membaik setelah mendapat pengobatan
- Penurunan kesadaran, tampak mengantuk atau kebingungan
- Penurunan asupan makan dan minum, terutama pada anak-anak dan lansia
Apabila terdapat salah satu dari gejala tersebut, sebaiknya dapat segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
Apa yang Harus Kita Lakukan?
Menghadapi peningkatan kasus superflu, langkah pertama yang dapat kita ambil adalah untuk tidak panik, tetapi bersikap waspada terhadap kesehatan diri sendiri dan orang terdekat kita.
Sebagian besar upaya pencegahan infeksi saluran napas yang telah kita pelajari saat pandemi sebelumnya dapat kita lakukan kembali untuk mencegah penularan virus ini.
Ada beberapa langkah mudah yang dapat kita lakukan untuk memutus rantai penularan influenza di masyarakat, antara lain adalah:
- Gunakan masker saat sedang sakit atau saat sedang berada di tempat umum
- Mencuci tangan secara rutin dengan sabun dan air mengalir
- Menutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin
- Istirahat yang cukup dan makan makanan bergizi dengan pola makan seimbang untuk menjaga daya tahan tubuh
Baca juga → Sejarah Kolaborasi Kesehatan dan Pendidikan di Balik Gedung Leimena
Vaksinasi Apa yang Cocok?
Karena superflu merupakan influenza musiman, vaksinasi influenza tahunan sangat dianjurkan terutama bagi kelompok rentan yang memiliki risiko infeksi berat jika terkena influenza.
Saat ini tersedia dua jenis vaksin influenza tahunan, yaitu:
- Vaksin influenza trivalen
Vaksin ini melindungi terhadap dua varian influenza tipe A, dan satu varian influenza tipe B.
- Vaksin influenza quadravalen
Vaksin ini lebih direkomendasikan karena memberikan perlindungan terhadap dua varian influenza tipe A, dan dua varian infleunza tipe B.
Mengingat virus influenza merupakan virus yang sangat mudah mengalami mutasi, komposisi vaksin influenza perlu diperbarui secara berkala. Oleh karena itu, vaksin influenza dianjurkan untuk diberikan setiap tahun.
Penting untuk dipahami bahwa vaksin influenza tidak selalu mencegah infeksi sepenuhnya. Namun vaksinasi terbukti menurunkan risiko terjadinya gejala berat, komplikasi serius, rawat inap, bahkan kematian akibat influenza secara signifikan.
Kesimpulan & Ringkasan Cara Menghadapi Superflu
- Superflu bukanlah virus baru yang perlu disikapi dengan kepanikan. Virus ini merupakan bagian dari influenza musiman yang saat ini sedang meningkat.
- Pemahaman yang tepat menjadi kunci agar masyarakat dapat bersikap bijak dalam menghadapi virus ini.
- Masyarakat dapat berperan aktif dalam mencegah penularan virus ini dengan menerapkan protokol kesehatan dan hygiene personal yang baik, seperti menggunakan masker saat sakit, mencuci tangan secara teratur, dan menerapkan etika batuk dan bersin yang baik.
- Masyarakat perlu mengenali gejala sejak dini, terutama pada kelompok rentan. Dengan demikian, seseorang dapat segera mencari pertolongan medis sehingga risiko terjadinya perburukan kondisi dan komplikasi serius dapat dicegah.
- Vaksinasi influenza tahunan juga sangat disarankan karena terbukti menurunkan risiko infeksi berat, komplikasi, rawat inap, hingga kematian akibat influenza.
- Dengan langkah-langkah sederhana tetapi konsisten, superflu dapat dikendalikan tanpa kepanikan, dengan pendekatan yang rasional serta bertanggung jawab.
(Ditulis oleh: dr. Nathanael Andry Mianto, M.Sc., Sp.P.)
foto atas: ilustrasi penderita superflu (dok. Inspirasi Indonesia)
editor: MA


