Ditulis oleh Dr. Ratnadewi, S.T., M.T. dan Iwan Santosa, S.T., M.Kom., MIPR, terbit pertama kali di Majalah M! Vol. 8 No. 5 dengan judul “Mengenal Turtle Graphics untuk Membatik” (31/10/2025).
Apa hubungan antara algoritma turtle graphics dan batik? Terdengar beda dunia, tetapi sebetulnya kedua hal ini ada hubungannya.
Bila kita sudah terbiasa dengan batik tradisional yang dihasilkan dari proses membatik menggunakan canting, kini kita akan berkenalan dengan proses “membatik” memanfaatkan algoritma pemrograman komputer.
Namun, sebelumnya kita berkenalan terlebih dahulu dengan turtle graphics. Sebuah istilah komputer yang unik, melibatkan hewan kura-kura.
Awal mulanya, turtle graphics adalah sebuah metode menggambar vektor yang disematkan dalam sebuah robot setengah bulat dengan pena di tengahnya. Dengan algoritma yang sederhana, robot ini bisa bergerak di atas kertas dan membentuk pola-pola geometris mengikuti perintah yang diprogramkan.
Sebelumnya, ilmuwan komputer Seymour Papert dan rekan-rekannya menciptakan bahasa pemrograman Logo yang dibuat untuk tujuan edukasi. Kemudian, ia memanfaatkan bahasa pemrograman ini untuk mengarahkan robotnya itu.
Robot yang ia gunakan sebetulnya bukanlah barang baru. Turtle robot itu sudah ada sejak tahun 1940-an, dibuat oleh William Walter. Robot itu bergerak lambat dengan sudut dan jarak belok yang rapat.

Bentuk turtle robot yang setengah bulat dan gerakannya yang lambat saat menggambar itu mirip dengan gerakan kura-kura. Inilah asal-muasal istilah turtle graphics, dan kenapa dikaitkan dengan kura-kura.
Ketika bergerak, robot ini pun meninggalkan jejak gambar di atas kertas, karena ada pena di tengah-tengah badannya. Bila diamati, mirip seperti kura-kura yang meninggalkan jejak berupa pola tertentu.
Baca juga → 48 Kampus Terpilih Menjadi Pionir Pembumian Sains dan Teknologi Luncuran Semesta Diktisaintek
Cara Menggambar Turtle Graphics
Pertama kali diciptakan, turtle graphics dijalankan menggunakan bahasa pemrograman Logo, dan bertujuan untuk mempermudah seseorang mempelajari bahasa pemrograman.
Bahasa program yang sarat kode dan teks dapat divisualkan menjadi gerakan robot yang menghasilkan gambar sebagai feedback yang terlihat langsung. Tentunya, belajar bahasa pemrograman dengan cara seperti ini menjadi lebih menyenangkan dan lebih mudah dipahami.
Saat ini, turtle graphics juga diadopsi dalam bahasa pemrograman lain, khususnya Python, yang memiliki aplikasi penggunaan lebih luas. Algoritma turtle graphics yang semula diterapkan pada robot, juga dapat diterapkan secara virtual. Bahasa pemrograman Python pun menyediakan modul turtle dalam library standarnya untuk menjalankan kura-kura virtual ini.
Algoritma untuk menggerakkan kura-kura virtual ini cukup sederhana, hanya menggunakan perintah seperti “maju”, “mundur”, “kiri”, “kanan”, dan instruksi untuk bergerak berapa langkah, hingga memutar berapa derajat.
Sebagai contoh, mari kita perhatikan beberapa simbol dan instruksi berikut ini.
- “F” adalah instruksi untuk bergerak maju satu langkah sambil menggambar garis lurus.
- “-” adalah instruksi untuk memutar ke kanan (searah jarum jam) sebesar “d” derajat.
- “+” adalah instruksi untuk memutar ke kiri (berlawanan arah jarum jam) sebesar “d” derajat.
Bayangkan, apa yang akan dibuat oleh kura-kura ketika diberi perintah “FF-FF-FF-FF” bila “d” adalah sebesar 90 derajat, dan di titik awal kura-kura sedang menghadap ke atas?
Jawabannya adalah sebuah bentuk bujursangkar berukuran dua langkah kali dua langkah.
Perintah tersebut dapat diterjemahkan menjadi: maju satu langkah sambil menggambar garis lurus, kemudian maju satu langkah sambil menggambar garis lurus, lalu putar ke kanan 90 derajat, lalu ketiga instruksi ini dijalankan lagi hingga tiga kali.
Baca juga → Melestarikan Batik Sambil Menumbuhkan Inovasi Saintek yang Merakyat
Dari Turtle Graphics Menjadi “Batik Kura-Kura”
Perintah dasar yang sederhana itu dapat diulang-ulang dan diiterasi dengan kondisi tertentu untuk menghasilkan gerakan yang lebih kompleks. Berdasarkan metode itulah, turtle graphics dapat “diprogram” untuk menggambar motif-motif batik.
Salah satu motif batik yang sudah berhasil dibuat menggunakan turtle graphics adalah motif batik kawung. Ratnadewi, Prijono, & Pandanwangi (2020) dalam artikel jurnal berjudul “Application of Turtle Graphics to Kawung Batik in Indonesia” menguraikan kode program turtle graphics untuk membuat motif batik kawung picis, kawung bribil, dan kawung sen.
Dalam penelitian tersebut, para peneliti menemukan bahwa turtle graphics selain berguna untuk menggambar motif, juga memiliki kelebihan lainnya.
Metode “Batik Kura-Kura” yang berbasis turtle graphics ternyata dapat digunakan untuk menyimpan atau mengarsipkan motif batik dengan keunggulan ukuran berkas dan memori yang diperlukan lebih kecil bila dibandingkan pengarsipan menggunakan gambar.

Selain batik kawung, para peneliti dari UK Maranatha ini juga telah menggunakan turtle graphics untuk mengembangkan motif khas beberapa daerah di Indonesia, antara lain motif dari daerah Batang, Purwakarta, Bondowoso, Banyumas, Tasikmalaya, Ciamis, Banyuwangi, Sumatra Utara, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Selatan.
Tulisan ini adalah bagian dari serial artikel “Semesta Inovasi Maranatha” program kampanye “Pemberdayaan Sains dan Teknologi dalam Pelestarian Budaya Asli Indonesia” yang didukung oleh Direktorat Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi Kemdiktisaintek Republik Indonesia melalui Program Kampanye Tematik Sains dan Teknologi (Resona Saintek)..
(Ditulis oleh: Ratnadewi & Iwan Santosa)
foto atas: Batik turtle graphics motif “Menara Air” dari daerah Sumatra Utara
editor: MA





