Ditulis oleh Ariesa Pandanwangi dan Iwan Santosa, bagian dari program “Pemberdayaan Sains dan Teknologi dalam Pelestarian Budaya Asli Indonesia”, didukung oleh Direktorat Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi Kemdiktisaintek Republik Indonesia melalui Program Kampanye Tematik Sains dan Teknologi (Resona Saintek).
Menyelisik naskah kuno Bujangga Manik dari sekitar abad kelima belas merupakan perjalanan literasi yang menarik. Naskah ini ditulis dalam untaian puisi berbahasa Sunda Kuno di atas daun lontar. Isinya adalah catatan perjalanan Bujangga Manik, tokoh utama dalam karya sastra ini.
Siapakah Bujangga Manik?
Ia adalah seorang bangsawan dari istana Pakuan. Nama aslinya adalah Perebu Jaka Pakuan (atau Prabu Jaya Pakuan).
Bujangga Manik dikenal sebagai pribadi yang religius. Pengalaman batinnya diperoleh melalui perjalanan spiritual meninggalkan keraton, mengembara sepanjang Pulau Jawa hingga ke Bali.
Cerita Bujangga Manik merupakan kekayaan kearifan lokal yang memuat dimensi estetik, pengalaman batin dan penghayatan religius. Kisah perjalanannya ini belum banyak digali menjadi inspirasi kearifan lokal yang diimplementasikan ke dalam industri kreatif.
Bahkan, tokoh Bujangga Manik itu sendiri belum banyak dikenal luas.
Baca juga → Misteri Batik Bersuara, Antara Legenda dan Inovasi Lintas Era
Alih Rupa Naskah Kuno
Kearifan lokal dan kekayaan budaya dari naskah kuno Bujangga Manik itu menarik perhatian para peneliti di Universitas Kristen Maranatha. Mereka menggali kearifan lokal itu dan mengangkatnya menjadi sesuatu yang berharga dalam ranah industri kreatif.
Perjalanan riset dilakukan secara mendalam dan berlapis, tidak sekadar napak tilas ke beberapa tempat yang tertulis di dalam naskah kuno itu. Lebih jauh lagi, para peneliti mengidentifikasi naskah kuno Bujangga Manik, menjadikannya gagasan dalam wujud visual berupa motif batik.
Tahap awal dimulai dengan identifikasi naskah kuno Bujangga Manik, memahami struktur puisi, simbol-simbol, serta makna perjalanan spiritual yang terkandung di dalamnya.
Selanjutnya, tim peneliti melakukan observasi lapangan dengan menapak tilas beberapa lokasi yang tercantum dalam naskah. Proses ini mempertemukan peneliti dengan ruang geografis sekaligus ruang batin yang pernah dilalui Bujangga Manik berabad-abad lalu.
Penelitian juga melibatkan dialog intensif dengan berbagai tokoh Sunda, mulai dari budayawan hingga akademisi. Pertemuan tersebut menjadi ruang pertukaran gagasan untuk memaknai ulang nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung dalam naskah kuno.

Data lapangan kemudian dipetakan dan diolah menjadi data visual, kemudian diidentifikasi sebagai dasar penciptaan motif batik. Transformasi visual ini menjadi tahap krusial.
Unsur perjalanan, spiritualitas, lanskap alam, serta simbol religius yang terkandung dalam naskah Bujangga Manik diterjemahkan menjadi ragam hias batik yang baru dan belum pernah ada sebelumnya.
Motif-motif yang dihasilkan dari rangkaian proses panjang itu tidak bersifat ilustratif semata, melainkan mengandung narasi dan filosofi yang berakar pada teks kuno. Kain batik yang dihasilkan tidak hanya menampilkan kebaruan motif, tetapi juga sebagai medium literasi budaya.

Baca juga → Lestarikan Batik Lokal dengan Turtle Graphics Inovatif
Inovasi untuk Industri Kreatif
Hasil penciptaan motif batik menggunakan metode saintifik alih rupa tersebut kemudian dipublikasikan melalui berbagai pameran, baik di tingkat nasional maupun internasional. Pameran tersebut menjadi ruang uji publik untuk melihat bagaimana masyarakat merespons transformasi naskah kuno menjadi karya seni kontemporer.
Tanggapan publik menunjukkan bahwa motif batik Bujangga Manik memiliki daya tarik kuat, baik dari sisi visual maupun nilai ceritanya. Penelitian ini pun menghadirkan kebaruan yang signifikan.

Motif batik hasil riset tidak hanya memperkaya khazanah batik Indonesia, tetapi juga membuka peluang baru bagi industri kreatif berbasis kearifan lokal. Lebih jauh, penelitian ini membuktikan bahwa naskah kuno bukan artefak yang hanya tersimpan kaku di museum, melainkan sumber inspirasi dinamis yang dapat terus dihidupkan melalui praktik seni.
Perubahan wujud dari naskah daun lontar berabad-abad lalu hingga menjadi kain batik masa kini berhasil menghidupkan kembali Bujangga Manik.
Penelitian berbasis saintek berhasil membawanya keluar dari era kuno, melintasi ruang pameran dan pasar kreatif Indonesia melalui produk batik inovatif.
(Ariesa Pandanwangi & Iwan Santosa)
foto atas: kain batik kontemporer Bujangga Manik dipamerkan pada gelaran “Semesta Inovasi Maranatha” di Rumah Batik Komar (26/11/2025)
editor: MA

