Semesta Inovasi Maranatha di Rumah Batik Komar

Geliat Inovasi di Kampung Batik Cigadung, Pesona Tradisi Berbalut Teknologi ala Resona Saintek Maranatha

Bandung telah dikenal dengan kawasan wisata jeans Cihampelas dan sepatu Cibaduyut. Bagaimana dengan wisata batiknya?

Mereka memenuhi area Rumah Batik Komar, tempat digelarnya aktivitas Semesta Inovasi Maranatha yang diinisiasi oleh Universitas Kristen Maranatha. Gelaran ini memperkenalkan produk inovasi saintek unggulan Maranatha yaitu Batik Kura-Kura, Batik Naskah Kuno, dan Batik Bersuara.

Kegiatan diskusi dan pameran mengangkat topik Revitalisasi Batik Lokal dan Naskah Kuno Karya Seni Tradisi Melalui Pemanfaatan Sains dan Teknologi yang Berkelanjutan.

Semesta Inovasi Maranatha di Rumah Batik Komar
Diskusi komunitas dan pameran “Semesta Inovasi Maranatha” dihadiri oleh komunitas batik, seni, dan pelaku industri kreatif dari daerah Bandung dan sekitarnya, khususnya Kelurahan Cigadung (26/11/2025)

Baca juga → 48 Kampus Terpilih Menjadi Pionir Pembumian Sains dan Teknologi Luncuran Semesta Diktisaintek

Rupanya, batik juga bisa berevolusi mengikuti perkembangan era dan teknologi. Para peneliti batik dari Universitas Kristen Maranatha berhasil menghidupkan batik dan budaya tradisi, mempertemukannya dengan teknologi kekinian.

Hasilnya di luar dugaan, produk-produk inovatif yang modern dan autentik.

“Warisan tradisi masa lalu ketika dipertemukan dengan teknologi terkini, ternyata dapat menjadi produk inovatif yang unik dan bernilai tinggi. Tidak hanya melestarikan budaya asli Nusantara saja, tetapi juga dapat menggerakkan industri kreatif lokal,” ungkap Iwan dalam paparan diskusi Semesta Inovasi Maranatha di Rumah Batik Komar (26/11/2025).

Semesta Inovasi Maranatha di Rumah Batik Komar
Kegiatan diselenggarakan di Rumah Batik Komar, Cigadung, Bandung, membahas topik Revitalisasi Batik Lokal dan Naskah Kuno Karya Seni Tradisi Melalui Pemanfaatan Sains dan Teknologi yang Berkelanjutan (26/11/2025)

“Inovasi yang lahir dari tangan-tangan para peneliti di dalam kampus, sangat perlu dibawa keluar dari dunia kampus, agar dapat dikenal dan dimanfaatkan oleh masyarakat luas,” ujarnya.

“Kali ini, ada tiga produk inovasi yang diperkenalkan, hasil penelitian para akademisi dan inventor lintas bidang, yakni Dr. Dra. Ariesa Pandanwangi, M.Sn. dari Fakultas Humaniora dan Industri Kreatif, kemudian Dr. Ratnadewi, S.T., M.T. dan Agus Prijono, S.T., M.T. dari Fakultas Teknologi dan Rekayasa Cerdas,” papar Iwan.

Batik Inovasi Teknologi UMKM

Baca juga → Lestarikan Batik Lokal dengan Turtle Graphics Inovatif

Dari Batik Kura-Kura hingga Menghidupkan Tokoh Sunda Kuno Bujangga Manik

Metode ini sudah berhasil digunakan untuk membangkitkan motif-motif batik khas beberapa daerah di Indonesia, antara lain Batang, Purwakarta, Bojonegoro, hingga Sumatra, Sulawesi, dan Kalimantan.

Berikutnya, inovasi Batik Naskah Kuno. Iwan dalam sesi diskusi interaktif melempar pertanyaan kepada para peserta yang hadir, khususnya komunitas pembatik dari kawasan batik Cigadung.

“Bapak ibu apakah sudah tahu dan mengenal Bujangga Manik, tokoh epik dari Tatar Sunda?”

Semesta Inovasi Maranatha di Rumah Batik Komar
Universitas Kristen Maranatha memamerkan produk-produk batik inovatif dalam rangkaian program Resona Saintek yang didukung oleh Kemdiktisaintek Republik Indonesia (26/11/2025)

“Naskah-naskah kuno itu aksesnya terbatas, tidak semua orang bisa melihatnya. Bila bisa melihat pun belum tentu paham. Para peneliti ini mentransformasi naskah-naskah kuno itu menjadi kain batik kontemporer yang lebih mudah diterima oleh masyarakat masa kini. Tidak saja indah, tetapi juga kaya filosofi,” paparnya.

“Kita bisa mendengarkan dongeng virtual dengan memindai bagian tertentu dari kain Batik Bersuara, lalu bisa mendengar cerita-cerita rakyat dari berbagai daerah di Indonesia, sesuai motif batiknya,” kata Iwan memancing penasaran para peserta diskusi.

Baca juga → Menyelidik Bujangga Manik Tokoh Epik Tatar Sunda dan Harta Karun Warisannya

Teknologi Melawan Tradisi

Komarudin, akrab disapa Komar, mengatakan bahwa adanya ruang temu antara akademisi, inovator, dan masyarakat menjadi kunci untuk melahirkan inovasi batik yang berkelanjutan. Ia pun berharap diskusi komunitas dan pameran seperti ini dapat diperluas ke berbagai daerah agar ekosistem batik nasional semakin kuat.

Dalam diskusi tersebut, Komar menegaskan pemikiran mengenai pemanfaatan teknologi termasuk AI (kecerdasan buatan) dapat menjadi alat bantu kreatif tanpa menghilangkan esensi batik.

Semesta Inovasi Maranatha di Rumah Batik Komar
Lurah Cigadung, Muhamad Arif Kurniawan, S.I.Kom., M.Si. turut hadir dan memberikan sambutan (26/11/2025)

“Bikin motif batik pakai AI cuma perlu waktu dua menit, tapi untuk mewujudkannya menjadi kain batik tetap harus dilakukan oleh manusia dan perlu waktu, bisa sampai tujuh bulan untuk sehelai batik,” ucapnya seraya menunjukkan beberapa kain batik hasil kreasi menggunakan AI.

Pendapat tersebut senada dengan Prof. Ir. Frans Umbu Datta, M.App.Sc., Ph.D., Rektor Universitas Kristen Maranatha. Dalam sambutan pembuka, ia mengatakan bahwa batik adalah warisan, tetapi saintek adalah masa depan.

Seluruh inovasi ini mendapatkan apresiasi dari Lurah Cigadung, Muhamad Arif Kurniawan, S.I.Kom., M.Si.

Ia berharap Universitas Kristen Maranatha dapat melanjutkan kerja sama agar produk-produk inovasi ini dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan komunitas kreatif khususnya di wilayah Cigadung, Bandung.


(Liputan Khusus Inspirasi Indonesia)

foto atas: dok. Humas Maranatha

editor: MA

pendidikan
5 bintang | 1 pendukung