Siapakah Bujangga Manik? Apa harta karun yang diwariskannya sejak berabad-abad lalu? Apa hubungannya dengan batik?
Bujangga Manik adalah seorang tokoh epik Nusantara. Namun, namanya tidak setenar tokoh-tokoh legendaris lainnya seperti Sangkuriang, Nyi Roro Kidul, atau Jaka Tarub.
Cerita autentik Bujangga Manik ditulis bukan di atas kertas, melainkan di daun lontar. Jelas, karena pada saat itu belum ada kertas seperti sekarang ini. Jadul sekali, bukan?
Naskah Bujangga Manik diperkirakan berasal dari sekitar abad ke-15.

Baca juga → Misteri Batik Bersuara, Antara Legenda dan Inovasi Lintas Era
Misteri Sosok Bujangga Manik
Tidak sedikit yang merasa ada kejanggalan terkait keberadaan manuskrip Bujangga Manik. Naskah yang ditulis dalam bahasa Sunda Kuno ini sejak lama tersimpan bukan di tanah Sunda, melainkan jauh di negeri Inggris.
Tepatnya di Bodleian Library, Oxford, salah satu perpustakaan tertua di Eropa. Berabad-abad naskah itu tersimpan di sana, tanpa ada yang mengerti dan memahami isinya.
Sampailah suatu ketika, peneliti dari Belanda bernama Jacobus Noorduyn meneliti naskah itu secara mendalam dan memublikasikan hasilnya pada tahun 1982. Noorduyn bersama beberapa peneliti lain telah mempelajari naskah Bujangga Manik tersebut sejak 1968.
Naskah kuno itu sebagian besar isinya adalah puisi, menceritakan tokoh utama bernama Bujangga Manik. Sosok ini pun penuh misteri.
Apakah Bujangga Manik benar-benar ada dan pernah hidup di zamannya? Ataukah ia adalah tokoh fiktif dalam manuskrip karya sastra itu? Ataukah ia adalah tokoh sejarah yang berbalut mitos?
Jangan-jangan, ia adalah tokoh simbolis yang merepresentasikan sang penulis naskah itu sendiri? Ataukah ia adalah samaran sosok nyata lainnya?
Semua pertanyaan itu masih menjadi misteri yang menyelimuti cerita kuno Bujangga Manik.

Baca juga → Melestarikan Batik Sambil Menumbuhkan Inovasi Saintek yang Merakyat
Kontroversi Naskah Kuno Bujangga Manik
Naskah Bujangga Manik adalah sebuah karya sastra yang menceritakan perjalanannya mengembara sepanjang Jawa hingga Bali.
Dalam puisi itu, Bujangga Manik dikisahkan sebagai seorang pangeran dari istana Pakuan, bernama asli Perebu Jaka Pakuan (atau Prabu Jaya Pakuan). Alih-alih tinggal di keraton layaknya seorang bangsawan, ia malah pergi meninggalkan istana.
Bujangga Manik kemudian melakukan perjalanan berziarah demi pencarian spiritual.
Sepanjang dua kali perjalanan besarnya, Bujangga Manik mencatat setiap lokasi yang ia kunjungi. Tak kurang dari 450 nama tempat dideskripsikan secara rinci, meliputi nama-nama gunung, sungai, dan desa di Jawa hingga Bali.

Misteri berikutnya, deskripsinya dalam tulisan daun lontar itu akurat dengan kondisi geografis Pulau Jawa dan Bali. Saking akuratnya, sampai-sampai mampu memetakan kondisi topografis dan politik Jawa sebelum abad ke-16.
Gara-gara itulah, naskah Bujangga Manik juga disebut-sebut sebagai “peta Jawa abad ke-15”. Di sinilah terjadi benturan antara fakta dan fiksi. Banyak peneliti termasuk sejarawan dan filolog beradu pendapat.
Sebagai karya sastra yang indah, naskah Bujangga Manik terlalu realistis karena memuat data-data geografis yang akurat dan faktual. Namun, sebagai sumber faktual, naskah tersebut terlalu puitis dan dibumbui dengan narasi yang berlebih.
Pada masa-masa akhir perjalanannya, Bujangga Manik pergi ke Gunung Patuha, dan bertapa di sana sampai akhir hayatnya.
Harta Karun Warisan Bujangga Manik
Bujangga Manik memang menyimpan misteri. Inilah yang menjadikannya amat istimewa.
Bujangga Manik dari sudut mana pun, baik dari sisi manuskripnya, karya sastranya, maupun dari cerita tokohnya, adalah harta karun budaya, seni, dan intelektual yang tak ternilai harganya.
Sebagai tokoh epik Nusantara, Bujangga Manik sangat perlu dikenal luas. Tidak hanya kalangan peneliti dan akademisi saja yang perlu mengenalnya, atau komunitas-komunitas sastra dan sejarah.
Walaupun naskah itu kuno, berasal dari masa ratusan tahun silam, cerita Bujangga Manik masih relevan hingga sekarang. Inspirasi yang diwariskan oleh Bujangga Manik merupakan harta karun yang sesungguhnya.

Baca juga → Geliat Inovasi di Kampung Batik Cigadung, Pesona Tradisi Berbalut Teknologi ala Resona Saintek Maranatha
Upaya Saintek Hidupkan Kembali Bujangga Manik
Belum lama ini, Bujangga Manik kembali mencuri perhatian. Kali ini, wujudnya berubah, bukan lagi sebagai lembaran naskah kuno.
Tepat di sentra kreatif Bandung, sosok Bujangga Manik hadir dalam wujud batik.
Bukan sembarang batik, kain yang dipamerkan dan dibahas tuntas bersama maestro batik Komarudin Kudiya itu adalah hasil penelitian para akademisi dari kampus top Bandung.
Ariesa Pandanwangi, peneliti batik dari Universitas Kristen Maranatha dalam sesi diskusi “Semesta Inovasi Maranatha” mengeklaim bahwa batik Bujangga Manik karyanya bersama tim pencipta merupakan yang pertama di dunia.
Baca juga → Lestarikan Batik Lokal dengan Turtle Graphics Inovatif
Diskusi komunitas yang terjadi di Rumah Batik Komar, Cigadung, 26 November 2025 itu membahas topik Revitalisasi Batik Lokal dan Naskah Kuno Karya Seni Tradisi Melalui Pemanfaatan Sains dan Teknologi yang Berkelanjutan.
Di situ, Ariesa membeberkan metode saintifik dan teknologi yang mereka gunakan untuk mengalihvisualkan naskah kuno Bujangga Manik menjadi produk batik kontemporer yang sarat makna.
Inovasi mereka menjadi bukti bahwa Bujangga Manik telah menjadi inspirasi untuk menghidupkan warisan budaya Nusantara dari masa lalu, agar kembali hidup di masa kini dan mendatang.
Ditulis oleh Iwan Santosa, S.T., M.Kom., MIPR, bagian dari program “Pemberdayaan Sains dan Teknologi dalam Pelestarian Budaya Asli Indonesia”, didukung oleh Direktorat Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi Kemdiktisaintek Republik Indonesia melalui Program Kampanye Tematik Sains dan Teknologi (Resona Saintek).
(Iwan Santosa)
foto atas: “Le Goenong Patoeha avec le Telaga Kowah Patoeha” (sumber: Leiden University Libraries)
editor: MA



