Tulisan opini oleh Iwan Santosa, S.T., M.Kom., MIPR, bagian dari publikasi “Pemberdayaan Sains dan Teknologi dalam Pelestarian Budaya Asli Indonesia”, didukung oleh Direktorat Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi Kemdiktisaintek Republik Indonesia melalui Program Kampanye Tematik Sains dan Teknologi (Resona Saintek).
Alkisah, hiduplah seorang janda tua di atas bukit di ujung desa. Ia tinggal di sebuah gubuk bersama putrinya yang cantik jelita, indah menawan parasnya.
Suatu hari, janda miskin itu mengajak anak gadisnya pergi ke desa untuk berbelanja. Pasar di desa itu letaknya jauh dari bukit, membuat perjalanan mereka amat melelahkan.
Bagaimana kelanjutannya?
Singkat cerita, langsung saja ke bagian ending. Tubuh si gadis cantik tetapi durhaka itu perlahan-lahan berubah menjadi batu. Ia meratap dan terus menangis memohon ampun. Air matanya masih terus menitik bahkan setelah seluruh tubuhnya menjadi batu.
Apakah kisah si gadis durhaka itu terdengar familier?
Penggalan cerita ini adalah bagian dari legenda batu menangis. Gadis jelita putri janda miskin itu bernama Darmi.
Baca juga → Melestarikan Batik Sambil Menumbuhkan Inovasi Saintek yang Merakyat
Punahnya Budaya Mendongeng
Dulu, cerita-cerita seperti ini biasanya dituturkan sebagai dongeng pengantar tidur, meninabobokan anak-anak dengan buaian kehangatan suara ayah, ibu, kakek atau nenek mereka. Sebetulnya tidak hanya dongeng pengantar tidur saja, kisah-kisah cerita rakyat juga dituturkan untuk menanamkan nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya.
Bagi yang pernah mengalami era itu, pengalaman mendengar cerita yang dituturkan langsung oleh orang tua kita tentu membekas dalam ingatan. Mungkin karena zaman dulu belum ada gawai canggih seperti sekarang ini, mendengarkan cerita secara lisan seperti itu bisa menjadi hiburan yang menyenangkan.
Zaman sekarang ini, apakah budaya bercerita dan mendongeng masih ada? Anak-anak era sekarang mungkin lebih berminat membuka komik online, menonton anime, atau bermain game di smartphone.
Bila mendongeng dan bercerita secara lisan tidak lagi dilakukan, cerita-cerita rakyat itu pun lambat laun bisa menghilang.
Cerita-cerita rakyat selama ini bisa bertahan karena ada yang terus menuturkannya sehingga berkembang dari mulut ke mulut. Jangan sampai kisah-kisah seperti Sangkuriang, Malin Kundang, Roro Jonggrang, dan lain-lainnya dilupakan.

Membongkar Misteri Batik Bersuara
Alkisah, di sebuah kota zaman modern, ditemukanlah lembaran kain batik yang tidak biasa. Berbeda dengan kain batik pada umumnya, batik yang satu ini adalah batik bersuara.
Mendengar namanya saja sudah bikin penasaran. Misterius, bukan?
Ini bukan mitos, tetapi fakta. “Batik bersuara” benar-benar ada, diciptakan oleh inovator dan peneliti batik dari kota kreatif, Bandung.
Batik bersuara adalah inovasi yang mencoba memperluas fungsi batik bukan hanya untuk dikenakan atau dipajang, tetapi bisa bercerita. Caranya adalah melalui kombinasi motif tradisional dan teknologi modern, menghasilkan sebuah pengalaman audiovisual yang tidak biasa.
Konsep bercerita alias storytelling di era media digital saat ini adalah konsep yang sangat kekinian. Media sosial saat ini dipenuhi dengan storytelling. Iklan pun dipenuhi dengan storytelling. Brand-brand besar sangat mengandalkan storytelling di balik kepopuleran mereka.
Storytelling menggunakan batik sebagai medium untuk bercerita secara visual pun sebetulnya bukan konsep baru. Bahkan, motif-motif batik tradisional pun semenjak dahulu sebetulnya menyimpan cerita atau makna tertentu.
Namun, menggabungkan storytelling secara visual dan aural memanfaatkan teknologi digital dalam wujud kain batik, adalah ide brilian yang belum pernah terbayangkan sebelumnya.

Baca juga → Bangga Batik Indonesia yang Mendunia
Mengawinkan Batik dengan Teknologi
Penggagas ide ini, Agus Prijono, S.T., M.T. dari Fakultas Teknologi dan Rekayasa Cerdas Universitas Kristen Maranatha bersama beberapa rekan akademisi, pada awalnya melihat hasil penelitian yang sebelumnya dilakukan oleh sesama peneliti dari dunia lain, yakni dunia seni rupa. Penelitian itu mengembangkan produk “batik bercerita”.
Produk batik bercerita itu pada dasarnya adalah kain batik yang motifnya dikembangkan dari cerita rakyat, menggunakan metode alih visual berlandaskan teori bahasa rupa. Hasil penelitiannya sudah dibukukan dengan judul Inovasi Batik Bercerita (Pandanwangi dkk., 2020).
Kemudian, muncullah pemikiran, bila motif batik bisa menceritakan sebuah legenda secara visual, akan lebih menarik lagi bila legenda itu juga bisa disuarakan secara aural, tetapi tetap berpegang pada batik tersebut sebagai mediumnya.
Untuk menguji ide awal itu, selanjutnya ia membuat prototipe menggunakan perangkat seadanya. Ternyata, hasil eksperimennya cukup menjanjikan. Konsep ini ditindaklanjuti dengan serius, hingga terbentuklah satu tim peneliti lintas disiplin ilmu, diketuai Dr. Ratnadewi, S.T., M.T. Tujuan mereka adalah mewujudkan produk inovasi batik bersuara.
Mereka berpikir, batik bersuara dapat dimanfaatkan sebagai salah satu cara inovatif untuk melestarikan warisan budaya tradisi yakni batik dan cerita rakyat. Upaya pelestarian itu dilakukan dengan mentransformasi kekayaan budaya tradisi menjadi produk praktis yang kekinian.

Kain batik bersuara memiliki motif yang indah, sangat fungsional untuk digunakan sebagai busana ataupun produk kreatif lainnya. Motifnya mengandung cerita rakyat yang tidak hanya dapat dilihat, tetapi juga mudah dipahami karena dapat didengar suaranya.
Melalui metode interaktif, pengguna batik bisa mendengarkan legenda dan cerita rakyat yang dikisahkan dalam motif batik tersebut secara imersif menggunakan gawainya. Caranya pun mudah, ia hanya perlu memindai bagian tertentu dari kain batik itu, lalu gawainya akan memperdengarkan “dongeng” virtual.
Baca juga → Lestarikan Batik Lokal dengan Turtle Graphics Inovatif
Kendala di Balik Potensi Luar Biasa
Produk inovasi batik bersuara memiliki potensi besar, tidak hanya untuk pelestarian budaya dan edukasi saja, melainkan juga potensial untuk pengembangan industri kreatif dan pariwisata lokal.
Saat ini, tim peneliti sudah berhasil membuat belasan bahkan puluhan lembar produk kain batik hasil inovasi mereka. Beberapa di antaranya adalah kain batik bersuara yang menceritakan legenda dari Kalimantan Barat, antara lain legenda batu menangis, legenda burung ruai, legenda Sungai Landak, dan legenda Bukit Kelam.
Inovasi yang mengangkat kearifan lokal Kalimantan Barat tersebut telah diperkenalkan kepada komunitas budaya, seni, hingga lingkungan Pemerintah Kabupaten Sambas termasuk bidang pariwisata, pendidikan, usaha mikro, industri dan perdagangan.
Kain-kain batik itu pun telah terdaftar hak cipta dan lolos uji sertifikasi Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) Kementerian Perindustrian Republik Indonesia. Hal ini memperkuat potensinya untuk dikembangkan menjadi produk industri berskala luas dan nyata.
Bayangkan bila inovasi batik bersuara bisa diwujudkan menjadi produk khas di daerah-daerah tertentu di Indonesia yang memiliki cerita rakyat khas lokal. Dengan demikian, batik bersuara ini dapat menambah daya saing industri kreatif dan pariwisata di daerah tersebut.

Di situlah terjadi kolaborasi dan sinergi antara pihak akademisi sebagai pencetus inovasi berbasis sains dan teknologi (saintek), dengan komunitas atau pelaku industri kreatif dan pariwisata, komunitas budaya dan literasi, juga dengan masyarakat umum sebagai pengguna inovasi sekaligus sebagai pelestari budaya.
Sebuah harapan yang nyaris muluk, sebab kenyataan di lapangan tentunya tidak semulus itu. Membangun kerja sama dan kolaborasi yang solid dari banyak pihak adalah sebuah tantangan tersendiri.
Namun, bila itu terjadi, maka ekosistem inovasi saintek bisa hidup secara lengkap dan menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat. Saintek, yang dalam kasus ini berwujud kain batik bersuara, tidak hanya menjadi roh inovasi, tetapi juga menjadi produk nyata yang hidup dalam keseharian masyarakat.
(Ditulis oleh: Iwan Santosa)
foto atas: Motif batik bersuara menceritakan legenda batu menangis (sumber & hak cipta © Ratnadewi dkk.)
editor: MA
