Selama lebih dari dua dekade terakhir, pemeringkatan perguruan tinggi telah menjadi salah satu instrumen reputasi paling berpengaruh dalam dunia pendidikan tinggi. Kenaikan posisi dalam QS World University Rankings, Times Higher Education (THE), atau Academic Ranking of World Universities (ARWU) lazim dirayakan sebagai bukti kehebatan institusi.
Kampus berlomba-lomba memperbaiki indikator yang digunakan pemeringkat, sementara media dan publik menjadikan peringkat alias ranking sebagai tolok ukur kampus terbaik.
Faktanya, peringkat tinggi masih dielu-elukan sebagai pencapaian besar sebuah perguruan tinggi. Teorinya, reputasi perguruan tinggi tersebut juga makin naik.
Namun, di sisi lain, masyarakat saat ini telah berubah, tidak sama dengan masyarakat era dahulu.
- Ranking Kecap Nomor Satu
- Dari Masyarakat Informasi Langka ke Masyarakat Informasi Berlimpah
- Ranking Masih Penting?
- Pergeseran Label Reputasi
- Masalah Inflasi Ranking dan Pseudo-Ranking
- Reputasi Multidimensional
- Kesimpulan dan Pertimbangan
Baca juga → Dari Warteg Merambah Kampus Terbaik, Kecap Nomor Satu Masih Jitu?
Ranking Kecap Nomor Satu
Sebelum masuk ke diskusi yang lebih mendalam, kita bahas sekilas mengenai jargon dan label “kecap nomor satu”. Pada eranya, label ini terbukti manjur untuk menandai kecap kualitas terbaik.
Selama bertahun-tahun, label “nomor satu” menjadi senjata pemasaran ampuh. Dalam situasi ketika informasi masih terbatas dan sulit diverifikasi, klaim semacam itu relatif mudah diterima oleh publik. Konsumen tidak memiliki banyak sumber pembanding, sehingga reputasi relatif mudah dibangun melalui klaim, simbol, dan persepsi.
Fenomena serupa terjadi dalam dunia pendidikan tinggi. Ketika informasi mengenai kualitas perguruan tinggi tidak mudah diakses, posisi dalam berbagai pemeringkatan berfungsi sebagai jalan pintas untuk memahami kualitas institusi.
Pada masa ketika internet belum berkembang seperti sekarang, informasi detail tentang perguruan tinggi relatif sulit diperoleh. Calon mahasiswa tidak mudah mengetahui kualitas pengajaran, pengalaman mahasiswa, jaringan alumni, peluang kerja lulusan, atau reputasi suatu program studi.
Ranking menyederhanakan realitas yang kompleks itu menjadi satu angka yang mudah dipahami. Bagi calon mahasiswa, orang tua, media, bahkan pemerintah, ranking menjadi bahasa reputasi yang praktis dan mudah dikomunikasikan.
Dalam konteks ini, ranking juga sangat rentan menjelma menjadi jebakan heuristic bias.
Kembali ke analogi kecap nomor satu, timbullah pertanyaan, apakah label “perguruan tinggi nomor satu” masih ampuh sebagai jaminan kualitas perguruan tinggi tersebut?
Dari Masyarakat Informasi Langka ke Masyarakat Informasi Berlimpah
Saat ini, kita hidup dalam kondisi yang berbeda. Kita telah memasuki era “masyarakat informasi berlimpah” di tengah Society 5.0.
Publik tidak lagi bergantung pada satu sumber informasi. Calon mahasiswa dapat menelusuri profil alumni di LinkedIn, menyaksikan kehidupan kampus melalui TikTok dan YouTube, membaca pengalaman mahasiswa di berbagai forum daring, hingga membandingkan data karier lulusan secara langsung.
Informasi yang dahulu langka kini tersedia dalam jumlah tak terbatas.
Akibatnya, posisi ranking tidak lagi diterima begitu saja sebagai representasi tunggal reputasi kampus. Sebagaimana konsumen masa kini tidak mudah percaya pada label “kecap nomor satu”, masyarakat juga semakin kritis terhadap berbagai klaim “kampus terbaik”, “peringkat pertama”, atau “top university” yang beredar di ruang publik.
Monopoli ranking sebagai sumber legitimasi pun goyah.
Seperti halnya “kecap nomor satu” yang akhirnya menjadi kelakar. Realitasnya, kecap nomor satu bagi seseorang adalah kecap yang menurutnya paling cocok di lidahnya atau di lidah keluarganya, tidak lagi ditentukan oleh label nomor satu yang tercetak di kemasan kecapnya.
Baca juga → Trendjacking Riding the Wave ala AirAsia, Charles & Keith, hingga Axioo & JKT48, Berhasil atau Gagal?
Ranking Masih Penting?
Ironisnya, jawabannya adalah ya. Perubahan tersebut tidak berarti ranking menjadi tidak penting.
Sebaliknya, ranking tetap memiliki pengaruh karena sudah terinstitusionalisasi dalam sistem pendidikan tinggi global. Banyak pihak masih menggunakannya sebagai referensi.
Namun demikian, fungsi ranking telah mengalami pergeseran.
Jika dahulu ranking sangat dominan dalam proses pengambilan keputusan, bahwa ranking tinggi langsung dianggap sebagai reputasi tinggi, dan akhirnya berhubungan langsung dengan minat calon mahasiswa, saat ini situasinya lebih kompleks.
Keputusan mahasiswa sekarang ini lebih banyak dipengaruhi oleh kombinasi berbagai faktor seperti reputasi akademik, employability, biaya pendidikan, peluang beasiswa, pengalaman mahasiswa, jaringan alumni, rekam jejak lulusan, serta validasi sosial yang diperoleh melalui berbagai platform digital.
Dalam lanskap seperti ini, ranking tetap berperan, tetapi tidak lagi dominan dan berdiri sendirian.

Pergeseran Label Reputasi
Perubahan lain yang sangat penting adalah bergesernya perhatian publik dari simbol reputasi menuju hasil nyata.
Mahasiswa generasi sekarang semakin kritis mempertanyakan nilai investasi pendidikan yang mereka keluarkan. Pertanyaan yang dipentingkan bukan lagi “Kampus ini ranking berapa?”
Di sinilah aspek-aspek pengalaman dan luaran seperti tingkat penyerapan kerja, kualitas karier alumni, koneksi industri, kesempatan magang, dan peluang pengembangan keterampilan, menjadi semakin penting.
Dalam beberapa survei mahasiswa internasional terbaru, indikator luaran lulusan dan peluang karier mulai memperoleh perhatian yang lebih besar dibandingkan posisi ranking institusi.
Masalah Inflasi Ranking dan Pseudo-Ranking
Fenomena lain yang menarik adalah munculnya inflasi ranking.
Saat ini hampir setiap aspek kehidupan perguruan tinggi dapat diperingkatkan secara spesifik. Misalnya ranking universitas terbaik, ranking keberlanjutan, ranking inovasi, ranking employability, ranking popularitas digital, ranking internasionalisasi, dan berbagai kategori lainnya.
Di satu sisi, keberagaman ini memperkaya perspektif. Namun, di sisi lain, banyaknya ranking juga menciptakan kebingungan.
Muncul pula fenomena pseudo-ranking dan vanity ranking, yaitu sistem pemeringkatan yang tampak bergengsi tetapi metodologinya kurang jelas atau legitimasi ilmiahnya masih dipertanyakan.
Ironisnya, semakin banyak ranking yang tersedia, semakin sulit pula menentukan ranking mana yang benar-benar bermakna.
Akibatnya, keberadaan ranking yang sangat banyak justru dapat mengurangi kekuatan simbolik ranking itu sendiri. Terjadilah devaluasi ranking.
Baca juga → Menimbang Kredibilitas uniRank dan UNIRANKS di Era Pseudo-Ranking
Reputasi Multidimensional
Asumsi lama yang langsung menyamakan reputasi dengan ranking semakin sulit dipertahankan.
Sebuah perguruan tinggi dapat memiliki ranking global yang tinggi tetapi lemah dalam penyerapan kerja lulusannya.
Sebaliknya, sebuah universitas mungkin tidak berada pada posisi teratas dalam ranking internasional, tetapi memiliki reputasi yang sangat kuat di industri tertentu karena kualitas alumninya.
Reputasi perguruan tinggi saat ini dibangun dari kombinasi berbagai bentuk legitimasi, antara lain legitimasi akademik, legitimasi profesional, legitimasi sosial, legitimasi digital, hingga legitimasi berbasis outcome dan impact.
Oleh karena itu, reputasi perguruan tinggi tidak dapat direduksi hanya menjadi satu angka dalam sebuah tabel ranking.
Baca juga → Puluhan Negara Terjebak Predatory Rankings Tiruan Webometrics
Kesimpulan dan Pertimbangan
Pemeringkatan perguruan tinggi sepertinya akan tetap menjadi bagian penting dalam ekosistem reputasi pendidikan tinggi.
Ranking masih memiliki daya tarik yang kuat karena mampu merangkum kompleksitas menjadi simbol yang sederhana, mudah dipahami, dan mudah dikomunikasikan. Dalam lingkungan yang dipenuhi berbagai pesan dan informasi, label seperti “Top 100” tetap memiliki kemampuan besar untuk menarik perhatian publik.
Akan tetapi, perhatian tidak selalu identik dengan reputasi.
Di era masyarakat informasi berlimpah, reputasi semakin sulit dibangun hanya melalui klaim, simbol, atau pencapaian yang berdiri sendiri. Publik memiliki kemampuan yang jauh lebih besar untuk membandingkan, mengecek, dan memverifikasi berbagai informasi yang beredar.
Reputasi perguruan tinggi kini terbentuk melalui kombinasi banyak faktor, mulai dari kualitas akademik, pengalaman mahasiswa, keberhasilan alumni, relevansi dengan dunia kerja, kontribusi sosial, jejaring industri, hingga jejak digital yang dapat diamati secara langsung.
Di era masyarakat informasi berlimpah, reputasi dibangun melalui bukti, pengalaman, dan verifikasi. Peringkat kampus tetap menjadi salah satu sinyal penting dan masih efektif untuk menarik perhatian, tetapi bukan lagi satu-satunya indikator untuk menilai kualitas sebuah perguruan tinggi.
Kampus yang terlalu sibuk mengejar dan mengglorifikasi kenaikan ranking, tetapi mengabaikan pengalaman nyata mahasiswanya di lapangan, akan mulai kehilangan relevansinya bagi generasi baru.
(Ditulis oleh: Iwan Santosa)
BACAAN LANJUTAN
Brankovic, J., Ringel, L., & Werron, T. (2023). The institutionalization of rankings in higher education: Continuities, interdependencies, engagement. Higher Education, 87, 1–15. https://doi.org/10.1007/s10734-023-01018-8
Depo, G. (2024). The role & rule of rankings. Daedalus, 153(2), 286–300. https://doi.org/10.1162/daed_a_02081
Fombrun, C. J., & Van Riel, C. B. M. (2004). Fame & fortune: How successful companies build winning reputations. Financial Times Prentice Hall.
Mulyoto, Rosyidi, U., & Rugayah. (2023). Mutu perguruan tinggi: Perspektif peringkat universitas global dan akreditasi perguruan tinggi di Indonesia. Manajemen Pendidikan, 18(1), 26–41 .https://doi.org/10.23917/jmp.v18i1.20955
Santosa, I. (2026, 25 Februari). Peringkat kampus palsu dorong euforia reputasi semu, ancam integritas akademik. Kumparan. https://kumparan.com/iwansantosa/peringkat-kampus-palsu-dorong-euforia-reputasi-semu-ancam-integritas-akademik-27F8L2ltgcp
Soysal, Y. N., Baltaru, R. D., & Cebolla-Boado, H. (2024). Meritocracy or reputation? The role of rankings in the sorting of international students across universities. Globalisation, Societies and Education, 22(2), 252–263 .https://doi.org/10.1080/14767724.2022.2070131
TENTANG PENULIS
Iwan Santosa, S.T., M.Kom., MIPR adalah praktisi media, komunikasi, dan kehumasan, anggota Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (Perhumas), berlatar belakang akademik di bidang teknik dan computer science. Ia adalah pemerhati kehumasan perguruan tinggi, aktif terlibat dalam studi bidang komunikasi dan budaya.
Karya tulisnya berjudul “Humas Perguruan Tinggi di Tengah Tantangan Kolaborasi ESG Lintas Sektor” diterbitkan dalam buku yang diluncurkan pada Konvensi Humas Indonesia (KHI) 2025. Tulisan-tulisan lainnya meliputi beragam topik, antara lain media, humaniora, budaya, literasi, teknologi informasi, hingga cyber law.
gambar atas: gedung kampus Universitas Gadjah Mada, salah satu PTN terbaik Indonesia (sumber: ugm.ac.id)
editor: MA

