Penerima Program Resona Saintek 2025

Membedah Peran Strategis Humas, Masalah Pembumian Saintek hingga Komunikator Sains

Baru-baru ini, dunia perkampusan Indonesia berhasil merangkak naik level di kancah internasional, khususnya di wilayah Asia.

Berkaitan isu keberlanjutan atau SDGs, Times Higher Education (THE) Impact Rankings tahun ini memberi apresiasi khusus bagi Indonesia karena salah satu kampusnya berhasil masuk jajaran teratas Asia sebagai institusi paling sustainable.

Mengutip laman resminya, pernyataan rekognisi tersebut adalah “Indonesia’s Universitas Airlangga, in joint ninth place, is most sustainable institution from an emerging economy”.

Baca juga → Selisik ScholarGPS Pemeringkat Kampus dan Peneliti Terbaik Dunia, Apakah Terpercaya?

Peringkat Country Ranking ScholarGPS itu ditentukan berdasarkan metodologi yang mengukur kinerja dan dampak riset secara kuantitatif. Sumber data utamanya berasal dari ratusan juta publikasi ilmiah, termasuk artikel jurnal, buku, makalah konferensi, hingga data paten.

Pengakuan beberapa lembaga internasional itu tentunya valid, berdasarkan instrumen pengukuran dan sumber data yang dapat dipertanggungjawabkan.

Terlepas dari adanya pro dan kontra serta perbedaan persepsi di kalangan tertentu, adanya rekognisi itu telah membantu meningkatkan nation branding Indonesia di tataran global, khususnya sektor akademik dan saintek (sains dan teknologi).

THE Impact Rankings 2025
Tangkapan layar situs resmi THE Impact Rankings (diakses 16/12/2025)

Baca juga → 48 Kampus Terpilih Menjadi Pionir Pembumian Sains dan Teknologi Luncuran Semesta Diktisaintek

Masalah Saintek Nasional

Meski demikian, ada permasalahan genting yang sebetulnya terjadi saat ini.

Lima tahun terakhir, Indonesia menghasilkan lebih dari 663 ribu publikasi ilmiah dengan sitasi mencapai lebih dari 1,8 juta. Mencermati grafik data historis ScholarGPS 2025, sitasi lima tahun terakhir menunjukkan tren menanjak.

Hal ini sangat baik karena menunjukkan bahwa penelitian-penelitian yang dibuat oleh para pelaku saintek Indonesia, cukup signifikan dan menghasilkan dampak akademik yang baik.

Siapakah “pelaku saintek” yang dimaksud di situ?

Mereka adalah para pakar dan peneliti akademik, yang didominasi dosen di ribuan perguruan tinggi Indonesia. Inilah masalahnya!

ScholarGPS 2025 Indonesia
Grafik data historis jumlah publikasi dan sitasi tahunan Indonesia dari situs resmi ScholarGPS (diakses 16/12/2025)

Pertanyaannya adalah, dari sekian banyak penelitian dan inovasi yang dihasilkan oleh para akademisi kampus itu, adakah yang bisa menyentuh masyarakat inklusif?

Apakah ada yang menghasilkan dampak nyata? Adakah yang bisa menempatkan masyarakat sebagai pelaku saintek juga? Sayangnya, saat ini jawabannya adalah belum ada.

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemdiktisaintek) sudah menyadari adanya permasalahan ini.

Setidaknya ada empat masalah yang diidentifikasi.

  • Pertama, informasi saintek umumnya terlalu teknis, menggunakan istilah akademik yang sulit dicerna khalayak umum.

  • Kedua, minat dan keterlibatan masyarakat terhadap konten bertema riset dan inovasi masih rendah, dibandingkan dengan konten populer lainnya.

  • Ketiga, saintek dipersepsikan eksklusif dan dianggap milik kalangan ahli. Bukan alat yang mudah digunakan masyarakat umum dalam kehidupan sehari-hari.

  • Keempat, ekosistem komunikasi saintek belum terbentuk. Hal ini mengakibatkan sinergi antara humas, akademisi, dan masyarakat dalam menyebarluaskan pengetahuan secara partisipatif dan berdampak, masih sangat terbatas.

Baca juga → Sebelas Kampus Tuntaskan Kampanye Nasional Pembumian Saintek, Wujudkan Humas sebagai Komunikator Sains

Humas sebagai Komunikator Sains

Mencoba mengatasi permasalahan itu, Kemdiktisaintek melalui Direktorat Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi (Minatsaintek), melahirkan program Semesta (Sinergi Kreasi Masyarakat dan Akademisi untuk Kemajuan Sainteknologi Nusantara).

Salah satu bagian penting dalam rangkaian Semesta adalah program Resona Saintek. Ini program strategis untuk memperluas akses dan meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap sains serta teknologi melalui penguatan peran humas perguruan tinggi.

Program ini mendorong humas sebagai fasilitator dan komunikator sains untuk mengarusutamakan isu-isu saintek di ruang publik. Di sini, humas harus bisa menjembatani pengetahuan akademik dan kebutuhan masyarakat lokal.

Dengan kata lain, humas diperkuat peran strategisnya dalam ekosistem komunikasi sains untuk membumikan saintek ke masyarakat.

Lalu, bagaimana hasilnya?

Program Resona Saintek ini mulai disosialkan pada awal Agustus 2025. Hampir tiga ribu perguruan tinggi negeri (PTN) dan perguruan tinggi swasta (PTS) di Indonesia, menyatakan niat untuk mengikuti program ini.

Dari jumlah itu, yang lolos seleksi awal sejumlah 1.500-an. Sementara, yang lolos sampai seleksi akhir adalah 11 perguruan tinggi. Kesebelas PTN dan PTS itulah yang dinyatakan sebagai penerima program Resona Saintek, melalui pengumuman pada awal September 2025.

Mereka adalah:

  1. Institut Teknologi Sumatera
  2. Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
  3. Universitas Gadjah Mada
  4. Universitas Kristen Maranatha
  5. Universitas Jenderal Soedirman
  6. Universitas Muhammadiyah Kudus
  7. Universitas Veteran Bangun Nusantara
  8. Universitas Dhyana Pura
  9. Politeknik Negeri Jember
  10. Politeknik Bintan Cakrawala
  11. Politeknik Negeri Padang

Kesebelas kampus pilihan itu menjadi pionir pelaksanaan program kampanye tematik pembumian saintek yang baru pertama kali diadakan di Indonesia. Pertama kalinya pula, humas kampus difasilitasi secara penuh oleh Direktorat Minatsaintek untuk menjalankan peran strategisnya.

Penerima Program Resona Saintek 2025
Perwakilan Humas perguruan tinggi penerima program Resona Saintek berfoto bersama Direktur Minatsaintek Kemdiktisaintek (kelima dari kiri) usai penandatanganan kontrak di Jakarta (12/9/2025)

Baca juga → Melestarikan Batik Sambil Menumbuhkan Inovasi Saintek yang Merakyat

Pionir Pembumian Saintek

Kampus terakreditasi unggul ini mengakui bahwa ternyata membumikan saintek ke tengah-tengah masyarakat memang tidak semudah yang dibayangkan dan direncanakan di atas kertas. Tantangannya pun banyak.

Namun, dalam program Resona ini, Universitas Kristen Maranatha telah berhasil memberikan luaran dan capaian kinerja melebihi target. Lebih dari itu, bisa berdampak nyata untuk mendekatkan saintek hingga benar-benar sampai di tangan keseharian masyarakat, khususnya wilayah Bandung Raya.

Humas Maranatha bersama sepuluh perguruan tinggi lainnya sebagai pilot penggerak ekosistem komunikasi sains nasional melalui program Resona Saintek ini, telah mendapatkan pelajaran istimewa.

Mereka bereksplorasi dan membangun pengalaman nyata mengenai bagaimana manis-pahitnya upaya membumikan saintek untuk benar-benar mewujudkan semangat kampus berdampak.

Sebelum dampak itu terwujud, perlu dimulai dari komunikasi yang baik dalam ekosistem kolaboratif dan partisipatif melibatkan seluruh komponen pentaheliks.

Tujuan akhirnya sebetulnya sederhana: menempatkan masyarakat sebagai pelaku saintek yang inklusif.


ACKNOWLEDGMENTS

Penulis mengucapkan terima kasih kepada: Prof. Brian Yuliarto; Prof. Fauzan; Prof. Ahmad Najib Burhani; Prof. Yudi Darma; Yoggi Herdani; Ira Wurinanda; Dela Fahriana H.; Diah Ayu; Hery Sucipto; Fajar Cahyono; Rahel Eunike; seluruh tim Semesta di Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Republik Indonesia; Rifelly Dewi Astuti (Universitas Indonesia); dan Astrid Wibisono (The Conversation Indonesia) atas motivasi, inspirasi, bimbingan, dampingan, dan bantuan dalam persiapan dan pelaksanaan program Resona Saintek 2025.

Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada: I Putu Mahendra (Institut Teknologi Sumatera); Yus Rama Denny (Universitas Sultan Ageng Tirtayasa); Hestining Kurniastuti (Universitas Gadjah Mada); Dian Bestari Santi Rahayu (Universitas Jenderal Soedirman); Moh Aris Prasetiyanto (Universitas Muhammadiyah Kudus); Made Wedaswari (Universitas Veteran Bangun Nusantara); Ni Kadek Theressa Putri (Universitas Dhyana Pura); Syaiful Bachri (Politeknik Negeri Jember); Yoffie Kharisma Dewi (Politeknik Bintan Cakrawala); dan Naswiradianto (Politeknik Negeri Padang) atas kebersamaan selama mengikuti bimtek hingga berakhirnya program, dan khususnya atas perjuangan bersama dalam upaya membumikan saintek untuk kemajuan Indonesia.

Berikutnya, ucapan terima kasih juga diberikan kepada tim redaksi Pikiran Rakyat, Tribun Jabar, Inspirasi Indonesia, Batiklopedia, IDN Times Jabar, Antara, SindoNews, Detik Network, Kompas Gramedia, dan insan media lainnya yang telah mendukung publikasi.


TENTANG PENULIS

Iwan Santosa, S.T., M.Kom., MIPR adalah praktisi media, komunikasi, dan kehumasan berlatar belakang akademik di bidang teknik dan computer science. Ia aktif menulis mengenai topik media, humaniora, budaya, literasi, teknologi informasi, hingga cyber law.

Makalah terbarunya tahun ini, “The Strategic Role of Public Relations in the Era of AI and PR 4.0”, meraih penghargaan Best Paper The 2nd International Conference of Business Administration and Communication (ICoBAC) 2025. Ia juga berpartisipasi pada program Global Communication Knowledge Conference, Konvensi Humas Indonesia (KHI) 2025, dengan artikel berjudul “Humas Perguruan Tinggi di Tengah Tantangan Kolaborasi ESG Lintas Sektor”.

Kiprahnya dalam program inisiasi Kemdiktisaintek “Semesta” (Sinergi Kreasi Masyarakat dan Akademisi untuk Kemajuan Sainteknologi Nusantara) adalah sebagai Ketua Tim Penyusun Proposal dan Ketua Pelaksana Resona Saintek Universitas Kristen Maranatha.

foto atas: dok. Resona Saintek

editor: MA

opini pendidikan utama
5 bintang | 2 pendukung