Tiga inovasi terbaru diperkenalkan pada gelaran Semesta Inovasi Maranatha belum lama ini di kawasan wisata kreatif Kampung Batik Cigadung, Bandung. Ajang interaktif itu membuka kesempatan bagi para pelaku industri kreatif dan UMKM untuk memanfaatkan dan mengembangkan inovasi tersebut di lingkungan masing-masing.
Ketiga produk inovatif itu adalah Batik Kura-Kura, Batik Naskah Kuno, dan Batik Bersuara, hasil riset panjang yang menggali warisan budaya Indonesia dengan memanfaatkan sains dan teknologi (saintek) modern.
Langsung ke → Ajakan Kolaborasi bagi UMKM
Para peneliti batik di Universitas Kristen Maranatha berhasil menghidupkan batik dan budaya tradisi dengan memanfaatkan teknologi kekinian, menghasilkan produk inovatif yang autentik, unik, dan berdaya saing tinggi.
Ketua Pelaksana Resona Saintek UK Maranatha, Iwan Santosa, S.T., M.Kom., MIPR menjelaskan bahwa inovasi yang lahir dari tangan-tangan peneliti harus dibawa keluar dari dunia kampus agar dapat dikenal dan dimanfaatkan oleh masyarakat luas.
“Warisan tradisi masa lalu ketika dipertemukan dengan teknologi terkini, ternyata menghasilkan produk inovatif yang unik dan bernilai tinggi. Tidak saja melestarikan budaya asli Nusantara, tetapi dapat menggerakkan industri lokal,” ungkap Iwan dalam paparan diskusi di Rumah Batik Komar, Cigadung (26/11/2025).

Tiga Inovasi Batik Berdaya Saing Tinggi
Ia mengatakan, kampus Maranatha sebagai salah satu kampus unggul terbaik Jawa Barat bukan tempat belajar saja, melainkan tempat lahirnya inovasi dari pemanfaatan saintek.
“Kali ini, ada tiga produk inovasi yang diperkenalkan, hasil penelitian para akademisi dan inventor lintas bidang, yakni Dr. Dra. Ariesa Pandanwangi, M.Sn. dari Fakultas Humaniora dan Industri Kreatif, kemudian Dr. Ratnadewi, S.T., M.T. dan Agus Prijono, S.T., M.T. dari Fakultas Teknologi dan Rekayasa Cerdas,” jelasnya.
Baca juga → Lestarikan Batik Lokal dengan Turtle Graphics Inovatif
1. Inovasi Batik Kura-Kura dari Algoritma
Produk inovasi yang pertama adalah Batik Kura-Kura, yaitu proses “membatik” menggunakan algoritma komputer. Metode pemrograman yang asalnya bernama turtle graphics ini dimanfaatkan untuk membuat pola-pola batik menggunakan instruksi khusus.
Metode ini sudah berhasil digunakan untuk membuat motif-motif batik khas beberapa daerah di Indonesia, antara lain Batang, Purwakarta, Bojonegoro, hingga Sumatra, Sulawesi, dan Kalimantan.

Baca juga → Menyelidik Bujangga Manik Tokoh Epik Tatar Sunda dan Harta Karun Warisannya
2. Inovasi Batik Naskah Kuno Ratusan Tahun
Berikutnya, inovasi Batik Naskah Kuno. Para peneliti menggali naskah-naskah kuno yang tersimpan di keraton, museum, hingga perpustakaan, kemudian mengubah wujudnya menjadi kain batik kontemporer.
Sebagian besar naskah berasal dari ratusan tahun silam. Salah satunya adalah naskah Bujangga Manik yang ditulis di atas daun lontar, dari sekitar abad ke-15.
“Naskah-naskah kuno itu aksesnya terbatas, tidak semua orang bisa melihatnya, apalagi memahaminya. Para peneliti memanfaatkan metode saintifik alih visual untuk mentransformasi naskah kuno itu menjadi kain batik yang lebih mudah diterima masyarakat luas. Tidak saja indah, juga kaya filosofi,” papar Iwan.

Baca juga → Misteri Batik Bersuara, Antara Legenda dan Inovasi Lintas Era
3. Inovasi Batik Bersuara Dongeng Virtual
Inovasi yang ketiga adalah Batik Bersuara. Produk unik ini menggabungkan kain batik dengan teknologi audiovisual. Hasilnya, kain batik yang bisa menceritakan legenda khas daerah tidak hanya dari visualisasi motifnya saja, melainkan juga bisa “mengeluarkan” suara dongeng virtual.
Cerita rakyat yang diperdengarkan dengan cara inovatif itu diharapkan dapat melestarikan legenda-legenda khas Nusantara yang semakin hari semakin kurang peminat, bahkan dikhawatirkan menghilang.

Baca juga → Geliat Inovasi di Kampung Batik Cigadung, Pesona Tradisi Berbalut Teknologi ala Resona Saintek Maranatha
Ajak UMKM Manfaatkan Inovasi Saintek
Dalam kesempatan tanya jawab dengan para peserta dari komunitas seni, pembatik, dan UMKM industri kreatif, Iwan mengajak mereka semua untuk dapat memanfaatkan dan memopulerkan hasil inovasi saintek kreasi Bandung itu.
Ia melontarkan pertanyaan, “Kampus melakukan riset dan menghasilkan inovasi, tapi terbatas hanya sampai situ saja. Hasil inovasi itu siapa yang manfaatkan? Siapa yang menerapkannya menjadi potensi ekonomi?”
“Untuk itulah kami tawarkan produk-produk inovasi saintek ini untuk dipakai dan dikembangkan oleh bapak ibu semua selaku penggerak ekonomi, agar kita semua berkolaborasi mendapatkan manfaat kemajuan bersama,” ujarnya.
Menindaklanjuti tawaran tersebut, Iwan seusai rangkaian kegiatan membeberkan, beberapa pelaku UMKM yang hadir langsung mengambil peluang berkenalan dan bertukar kontak langsung dengan para peneliti untuk berkomunikasi lebih detail.
“Kami juga membuka komunikasi melalui website. Bagi yang minat kolaborasi, bisa mengisi formulir di situ. Bisa juga melalui medsos, atau kontak resmi lainnya. Kami membuka kesempatan seluasnya agar masyarakat bisa menggunakan hasil inovasi saintek ini untuk kemanfaatan bersama. Ayo kita kolaborasikan,” ajak Iwan penuh semangat.
Baca juga → Inovasi Teknologi Bertemu Tradisi, Hidupkan UMKM Industri Kreatif Kampung Batik Cigadung
Menghubungkan Saintek dengan Akar Budaya
Inovasi yang diperkenalkan UK Maranatha merupakan bagian dari program Pemberdayaan Sains dan Teknologi dalam Pelestarian Budaya Asli Indonesia, didukung Direktorat Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi Kemdiktisaintek Republik Indonesia melalui Program Kampanye Tematik Sains dan Teknologi (Resona Saintek).
Rektor Universitas Kristen Maranatha, Prof. Ir. Frans Umbu Datta, M.App.Sc., Ph.D. dalam video sambutan pembuka mengatakan bahwa batik adalah warisan, tetapi saintek adalah masa depan.
“Di sinilah Universitas Kristen Maranatha memainkan peran strategis sebagai jembatan pengetahuan, menghubungkan sains dan teknologi dengan akar budaya Nusantara,” kata Prof. Frans.
Baca juga → Melestarikan Batik Sambil Menumbuhkan Inovasi Saintek yang Merakyat
Seluruh inovasi tersebut mendapatkan apresiasi dari maestro batik Dr. H. Komarudin Kudiya S.IP., M.Ds., Ketua Umum Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI) sekaligus pendiri Rumah Batik Komar.
Pemerintahan setempat melalui Lurah Cigadung, Muhamad Arif Kurniawan, S.I.Kom., M.Si. juga mengapresiasi upaya UK Maranatha. Ia berharap agar produk-produk inovasi itu dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan komunitas kreatif khususnya di wilayah Cigadung.
Tulisan ini adalah bagian dari program “Pemberdayaan Sains dan Teknologi dalam Pelestarian Budaya Asli Indonesia” yang didukung oleh Direktorat Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi Kemdiktisaintek Republik Indonesia melalui Program Kampanye Tematik Sains dan Teknologi (Resona Saintek).
(Liputan Khusus Inspirasi Indonesia)
foto atas: dok. Humas Maranatha
editor: MA




