Belajar dari Bunglon di Era Robot Akuntan, Bekal Mahasiswa UNSAP Hadapi Bisnis yang Terus Berubah

Pesan inilah yang dibawa Fakultas Hukum dan Bisnis Digital Universitas Kristen Maranatha, Bandung ke Universitas Sebelas April (UNSAP), Sumedang melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat pada Jumat (23/10/2026).

Baca juga → Akuntansi Digital Penting untuk Pengembangan Bisnis Era Globalisasi

Coaching untuk Menghadapi Perubahan

Johannes Buntoro Darmasetiawan, M.S.C.E., M.B.A., M.A., Ph.D. membuka sesi pertama dengan video tentang bunglon. “Perubahan selalu ada, hanya kecepatannya yang berbeda,” katanya saat menyampaikan paparan.

Ia membahas contoh kasus perusahaan seperti Toyota yang bertransformasi dalam kurun waktu puluhan tahun. Kini, pandemi memaksa bisnis berubah dalam hitungan bulan, dan disrupsi digital melahirkan Airbnb serta Uber hanya dalam beberapa tahun. Perubahan sebesar itu tidak bisa dihadapi sendirian.

Organisasi perlu seluruh anggotanya bergerak searah, dan di sinilah coaching berperan. Berbeda dari pelatihan, coaching tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga mengubah perilaku. Coaching bisa dimulai dengan model GROW, yaitu menetapkan tujuan, memahami kondisi, menimbang pilihan, lalu melangkah

Baca juga → Pemerintah Atur Pemanfaatan AI di Dunia Pendidikan, Tekan Potensi Risiko Transformasi Digital

Enam Keterampilan Akuntan Masa Depan

Berikutnya, materi “Technologies in Accounting” dibawakan oleh Tan Ming Kuang, Ak., CA., Ph.D. Ia memperlihatkan asisten AI yang menyusun jurnal umum di Excel hanya dari perintah sederhana.

Tan Ming Kuang menjelaskan bahwa RFID, RPA, ERP berbasis cloud, AI, dan blockchain kini bekerja sebagai satu ekosistem yang mencatat, menganalisis, dan mengamankan data bisnis. Dampaknya nyata, World Economic Forum (2025) memproyeksikan 92 juta pekerjaan akan tergeser hingga 2030, tetapi 170 juta pekerjaan baru akan tercipta. Tugas rutin seperti input transaksi dan rekonsiliasi akan diambil alih mesin.

Akuntan bergeser ke peran yang lebih bernilai, yaitu menganalisis, memberi pertimbangan, dan menasihati bisnis. Singkatnya, AI menangani rutinitas, sedangkan akuntan memberi arah.

Oleh karena itu, ia membekali mahasiswa dengan enam keterampilan masa depan yang disebut CERDAS, akronim dari Critical thinking, Ethics, Relations, Digital literacy, Adaptability, dan Strategic vision.

Dari kedua materi tersebut dapat disimpulkan bahwa teknologi menyediakan data yang cepat dan akurat, tetapi manusialah yang menentukan arah.

Organisasi yang mampu memadukan keduanya akan selincah bunglon menghadapi lingkungan bisnis yang bergejolak.

Fanji Farman, S.E., M.Ak., dosen dari Universitas Telkom sekaligus alumnus Program Magister Akuntansi Universitas Kristen Maranatha juga ikut serta.

Kegiatan ini juga melibatkan mahasiswa Fakultas Hukum dan Bisnis Digital Universitas Kristen Maranatha, yaitu Stefani Sandiana Putri, Nova Kristin Manullang, Putri Engelina Romauli, Nelsi Cerdik Inta Bate’e, dan Nelvina Margery.

Baca juga → Polijati Siapkan Mahasiswa Hadapi Era Akuntansi Digital

Sebelum sesi penyampaian materi, acara dibuka dengan sambutan Dekan FEB UNSAP, Erpi Rahman, S.E., M.Ak., CAP., CIAS., CGAP., dan Dekan Fakultas Hukum dan Bisnis Digital Universitas Kristen Maranatha, Dr. Henky Lisan Suwarno, S.E., M.Si.

Keduanya lalu menandatangani Memorandum of Agreement (MoA) atau Perjanjian Kerja Sama dan Implementation Agreement (IA) atau Perjanjian Pelaksanaan sebagai landasan kolaborasi kedua fakultas. Melalui rangkaian kegiatan ini, mahasiswa FEB UNSAP diharapkan tidak hanya siap menggunakan teknologi, tetapi juga siap bertumbuh bersama orang lain di dunia kerja yang terus berubah.


foto atas: Kegiatan workshop di UNSAP, Sumedang (23/10/2026)

editor: MA

edukasi
5 bintang | 1 pendukung