Ketika mendengar kata matematika, kebanyakan orang langsung membayangkan angka, rumus, dan bangku sekolah. Padahal, jauh sebelum pendidikan modern berkembang, leluhur Nusantara telah menerapkan pola-pola matematis dalam kehidupan sehari-hari.
Jejaknya dapat ditemukan pada beragam warisan budaya, mulai dari kain tenun hingga rumah adat. Dua di antaranya hadir dari Pulau Sumba di Nusa Tenggara Timur dan Tanah Karo di Sumatera Utara.
Sekilas, keduanya tampak sangat berbeda. Yang satu berupa lembaran kain tenun dengan motif yang memesona, sedangkan yang lain hadir dalam wujud rumah adat yang khas.
Namun, di balik perbedaan tersebut tersimpan kesamaan yang tidak terduga. Keduanya mengandung pola, struktur, dan keteraturan yang dapat dianalisis melalui perspektif matematika.
Baca juga → Menyelidik Bujangga Manik Tokoh Epik Tatar Sunda dan Harta Karun Warisannya
Etnomatematika: Matematika yang Hidup dalam Budaya
Dalam pandangan modern, matematika umumnya dipahami sebagai ilmu yang dipelajari secara formal melalui buku dan ruang kelas. Namun, para periset etnomatematika menunjukkan bahwa konsep-konsep matematis juga dapat tumbuh dari pengalaman budaya masyarakat.
Etnomatematika mengkaji hubungan antara budaya dan aktivitas matematis, yakni bagaimana kelompok masyarakat mengembangkan cara berpikir yang berkaitan dengan pola, bentuk, ruang, dan keteraturan melalui praktik budaya mereka.
Jejaknya dapat ditemukan pada arsitektur tradisional, sistem pengukuran, permainan rakyat, kerajinan tangan, hingga seni hias.
Melalui perspektif inilah berbagai warisan budaya Nusantara dapat dibaca dari sudut pandang yang berbeda. Karya budaya tidak hanya menyimpan nilai estetis dan simbolis, tetapi juga memperlihatkan kecerdasan masyarakat dalam mengorganisasi bentuk, ruang, serta pola secara sistematis.

Baca juga → Misteri Batik Bersuara, Antara Legenda dan Inovasi Lintas Era
Kode Matematis dalam Tenun Sumba
Kain tenun Sumba merupakan salah satu wastra Nusantara yang terkenal karena keindahan motif dan kerumitan teknik pembuatannya.
Bagi masyarakat Sumba, kain tenun tidak sekadar berfungsi sebagai penutup tubuh. Ia juga menjadi media yang merepresentasikan sejarah, kepercayaan, doa, dan falsafah hidup yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Nilai simbolis tampak pada dua jenis kain utama, yaitu hinggi yang dikenakan laki-laki dan lau yang digunakan perempuan.
Beberapa peneliti mengemukakan bahwa pada kain hinggi, pembagian bidang motifnya berhubungan dengan pandangan kosmologis masyarakat Sumba. Pembagian bidang itu merepresentasikan tiga lapisan dunia, yakni talaba dita (alam atas), la padua (alam tengah), dan talaba wawa (alam bawah).
Kain tenun juga merefleksikan struktur sosial masyarakat Sumba yang mengenal golongan maramba (bangsawan), kabihu (rakyat bebas), dan ata (hamba). Simbol-simbol tersebut diwujudkan melalui berbagai motif yang menghiasi permukaan kain.
Menariknya, di balik kekayaan makna budaya tersebut tersimpan pola-pola geometris yang teratur. Erwin Ardianto Halim bersama rekan-rekan periset budaya dan desain dari Universitas Kristen Maranatha mengungkap bahwa komposisi ragam hias pada kain hinggi memperlihatkan konsep dualisme dan triple pattern.
Dualisme menampilkan pasangan unsur yang saling melengkapi, sedangkan triple pattern menghadirkan unsur penengah yang menciptakan keseimbangan harmonis.
Kajian etnomatematika terhadap tenun Sumba juga menemukan beragam bentuk geometri yang dapat dikenali dalam ragam motifnya. Bentuk belah ketupat adalah salah satu pola yang paling dominan, sementara segitiga muncul pada berbagai ragam hias tertentu.
Selain itu, motif-motif tenun menunjukkan karakteristik simetri, pencerminan, pengulangan, dan translasi yang tersusun secara teratur.
Motif fauna seperti manu (ayam), njara (kuda), dan mahang sering ditampilkan secara berpasangan melalui prinsip pencerminan. Sementara itu, berbagai pola geometris diulang secara konsisten sehingga membentuk irama visual yang harmonis pada permukaan kain.
Melalui tenun Sumba, masyarakat tidak hanya menghasilkan karya seni yang indah, tetapi juga memperlihatkan kemampuan mengatur bentuk dan pola secara sistematis. Tanpa menuliskan rumus matematika, mereka mewariskan pengetahuan geometris melalui benang-benang yang dirajut dengan sabar selama berabad-abad.

Baca juga → Misteri Batik Bersuara, Antara Legenda dan Inovasi Lintas Era
Kode Matematis dalam Rumah Adat Karo
Jejak serupa juga dapat ditemukan pada rumah adat Karo, khususnya Siwaluh Jabu yang menjadi simbol kehidupan komunal masyarakat Karo. Rumah tradisional ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga menjadi representasi pandangan hidup dan kosmologi masyarakatnya.
Arsitektur Siwaluh Jabu memperlihatkan struktur yang sarat makna simbolis.
Secara konseptual, bangunan dibagi ke dalam tiga bagian utama, yakni atap sebagai representasi dunia atas, badan rumah sebagai dunia manusia, dan bagian bawah rumah yang berkaitan dengan dunia bawah. Pembagian ini menunjukkan bagaimana masyarakat Karo memandang hubungan antara manusia, alam, dan kekuatan spiritual.
Selain struktur bangunannya, rumah adat Karo juga kaya akan ragam hias. Dalam kajian Yunita Setyoningrum dan rekan-rekannya dari Fakultas Humaniora dan Industri Kreatif Universitas Kristen Maranatha, berbagai ornamen tradisional Karo mengandung unsur geometris yang dapat dianalisis secara matematis.
Ornamen seperti tapak Raja Sulaiman, pengret-ret, lumut-lumut Lawi, ser-ser sigembel, bindu matagah, dan embun sikawiten memperlihatkan penggunaan pola yang teratur serta pengulangan bentuk-bentuk geometris.
Bentuk persegi, segitiga, belah ketupat, lingkaran, garis sejajar, dan garis berpotongan dapat ditemukan pada berbagai ornamen rumah adat.
Pola-pola tersebut tidak disusun secara acak, melainkan ditempatkan mengikuti prinsip keteraturan visual yang menghasilkan keseimbangan dan keselarasan.
Berbagai ornamen itu juga memiliki makna simbolis. Sebagian berfungsi sebagai perlambang perlindungan, sebagian lain melambangkan persatuan keluarga, kekuatan, atau hubungan antara dunia nyata dan dunia spiritual. Dengan kata lain, geometri dan simbolisme hadir secara bersamaan dalam satu karya budaya.
Keunikan arsitektur dan ragam hias Siwaluh Jabu menunjukkan bahwa keteraturan bentuk tidak hanya berfungsi memperindah bangunan, tetapi juga menjadi sarana untuk menyampaikan nilai-nilai budaya yang diwariskan oleh masyarakat Karo lintas generasi.

Baca juga → Sebelas Kampus Lolos Seleksi Nasional Resona Saintek 2026, Laksanakan Program Komunikasi Sains
Warisan Kecerdasan Leluhur
Masyarakat Sumba dan Karo dipisahkan oleh jarak geografis yang sangat jauh serta latar budaya yang berbeda. Namun, keduanya memperlihatkan kesamaan yang menarik.
Di Sumba, keteraturan matematis hadir melalui motif pada kain tenun. Di Karo, fenomena serupa muncul melalui arsitektur dan ornamen rumah adat. Keduanya memanfaatkan simetri, pengulangan, keseimbangan bentuk, serta pengaturan ruang yang terstruktur. Keduanya juga mengaitkan pola-pola tersebut dengan kosmologi, identitas sosial, dan nilai-nilai budaya.
Kesamaan ini menunjukkan bahwa kemampuan berpikir matematis tidak selalu lahir dari pendidikan formal. Dalam banyak kasus, kemampuan tersebut tumbuh secara alami sebagai bagian dari pengalaman budaya masyarakat.
Tenun Sumba dan rumah adat Karo mengingatkan kita bahwa matematika tidak selalu hadir dalam bentuk angka dan rumus. Ia juga hidup dalam karya-karya budaya yang diciptakan, digunakan, dan diwariskan oleh masyarakat lokal selama berabad-abad.
Lewat tenun dan rumah adat, leluhur Sumba dan Karo meninggalkan jejak cara berpikir yang teratur, logis, dan penuh makna. Pola-pola itu bertahan dalam bentuk motif, ornamen, dan struktur bangunan yang masih dapat kita saksikan hingga sekarang.
Warisan budaya bukan hanya menyimpan keindahan dan sejarah. Di dalamnya juga tersimpan pengetahuan, kecerdasan, kreativitas, dan kearifan lokal yang menunjukkan bahwa masyarakat Nusantara sejak lama telah mengenal cara memahami dunia melalui pola dan keteraturan.
Ditulis oleh Iwan Santosa, S.T., M.Kom., MIPR, bagian dari program “Saintek Lintas Zaman Menuju Keberlanjutan Budaya & Kearifan Lokal Indonesia”, didukung oleh Direktorat Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia melalui Kampanye Tematik Sains dan Teknologi (Resona Saintek) bagian dari program Sinergi Kreasi Masyarakat dan Akademisi untuk Sains Teknologi Nusantara (Semesta) 2026.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Erwin Ardianto Halim, S.Sn., M.F.A., Ph.D., HDII; Elizabeth Wianto, S.Sos., S.Sn., M.Ds., Ph.D.; Dr. Yunita Setyoningrum, S.Sn., M.Ds; Maresha Caroline Wijanto, S.Kom., M.T., Ph.D. beserta segenap tim riset kain Sumba dan rumah adat Karo dari Universitas Kristen Maranatha, atas kolaborasi dan kesediaan menjadi narasumber informasi dan kepakaran.
(Iwan Santosa)
foto atas: Kain tenun Sumba dibuat secara tradisional (foto: Gabriel Christofer & Irfan Musyaffa)
editor: MA

