Bagaimana warisan budaya dapat tetap lestari sekaligus menghasilkan inovasi yang relevan dengan kebutuhan masa kini? Pertanyaan tersebut menjadi salah satu fokus yang diangkat dalam kampanye Resona Saintek Universitas Kristen Maranatha.
Melalui pendekatan etnomatematika dan metode IMOE, tim peneliti memperkenalkan cara baru untuk menerjemahkan nilai-nilai budaya lokal menjadi berbagai produk kreatif dan inovatif.
Upaya memperkenalkan hasil riset unggulan tersebut dilakukan melalui Program Kampanye Tematik Sains dan Teknologi (Resona Saintek) yang didukung oleh Direktorat Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia.
Program ini merupakan bagian dari Sinergi Kreasi Masyarakat dan Akademisi untuk Sains Teknologi Nusantara (Semesta) 2026. Melalui program ini, hasil-hasil riset yang lahir di lingkungan perguruan tinggi didorong untuk lebih dekat dengan masyarakat melalui berbagai bentuk komunikasi dan edukasi publik.
Dalam kampanye bertema “Saintek Lintas Zaman Menuju Keberlanjutan Budaya & Kearifan Lokal Indonesia”, Universitas Kristen Maranatha memperkenalkan etnomatematika sebagai salah satu pendekatan yang dapat membantu masyarakat melihat budaya dari perspektif yang berbeda.
Baca juga → Menyelidik Bujangga Manik Tokoh Epik Tatar Sunda dan Harta Karun Warisannya
Etnomatematika untuk Membaca Warisan Budaya
Etnomatematika merupakan pendekatan yang mengkaji bagaimana konsep-konsep matematika hadir dan digunakan dalam kehidupan serta praktik budaya suatu kelompok masyarakat.
Melalui pendekatan ini, berbagai artefak budaya dapat dianalisis untuk menemukan pola, struktur, maupun prinsip-prinsip matematis yang terkandung di dalamnya.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa matematika tidak hanya hadir dalam ruang kelas atau rumus-rumus akademik, tetapi juga hidup dalam berbagai bentuk ekspresi budaya.

Pola tenun, ukiran, arsitektur tradisional, hingga berbagai bentuk simbol budaya sering kali mengandung keteraturan, pengulangan, dan struktur tertentu yang dapat dikaji melalui perspektif matematis. Dengan demikian, budaya tidak hanya dipandang sebagai warisan tradisi, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan yang menyimpan beragam potensi untuk dikembangkan.
Salah satu objek yang dikaji oleh tim peneliti Universitas Kristen Maranatha adalah kain tenun tradisional Sumba. Penelitian yang dilakukan oleh Erwin Ardianto Halim dan tim menemukan bahwa berbagai motif tenun Sumba mengandung unsur matematika seperti simetri, refleksi, translasi, repetisi, serta pola-pola geometri yang tersusun secara sistematis.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa di balik keindahan visual tenun tradisional terdapat pengetahuan yang berkembang dan diwariskan secara turun-temurun dalam masyarakat Sumba.
Berbagai konsep matematis yang ditemukan tersebut kemudian menjadi dasar dalam proses pengembangan produk inovatif berbasis budaya.
Baca juga → Ternyata Leluhur Sumba dan Karo Mewariskan Kode Matematis dalam Kain Tenun dan Rumah Adat
Transformasi Wujud Menggunakan Metode IMOE
Bagi tim peneliti, unsur budaya tidak sekadar dijadikan ornamen atau dekorasi, melainkan dipahami terlebih dahulu makna, struktur, serta karakteristik visualnya sebelum diterapkan ke dalam desain produk baru. Mereka menginginkan agar identitas budaya tetap dapat dipertahankan meskipun diwujudkan dalam bentuk yang berbeda.
Untuk menjembatani proses transformasi tersebut, tim peneliti menerapkan metode IMOE (Inner, Middle, Outer, Experiment). Metode ini digunakan bersamaan dengan pendekatan etnomatematika untuk menggali nilai inti budaya, mengidentifikasi unsur-unsur visual yang menonjol, menerjemahkannya ke dalam konsep desain, hingga mengujinya melalui berbagai bentuk eksperimen kreatif.
Nilai, filosofi, dan simbol yang terkandung dalam suatu artefak budaya dipelajari terlebih dahulu sebelum diterjemahkan ke dalam rancangan produk.
Melalui metode IMOE, proses inovasi berlangsung secara sistematis. Pendekatan ini bertujuan agar produk yang dihasilkan tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga tetap memiliki keterkaitan dengan konteks budaya asalnya.

Penerapan metode IMOE menghasilkan berbagai kreasi produk akhir. Salah satunya adalah standing lamp yang mengadaptasi bentuk mamuli, simbol budaya Sumba yang kerap dikaitkan dengan perempuan, kesuburan, dan keberlanjutan kehidupan. Produk kontemporer ini menjadi contoh bagaimana unsur budaya tradisional dapat diterjemahkan ke dalam desain kontemporer tanpa menghilangkan makna simbolisnya.
Selain produk fisik, tim peneliti juga mengembangkan berbagai produk digital. Di antaranya berupa dingbat font motif Sumba, aplikasi web-based design visualizer, knowledge base motif Sumba, serta visual ethnomathematic analyzer.
Pengembangan produk digital ini diharapkan dapat memperluas akses edukasi dan pemanfaatan budaya dalam proses kreatif sekaligus memberikan alternatif bagi para desainer, mahasiswa, maupun pelaku industri kreatif untuk mengembangkan inovasi berbasis budaya Nusantara.

Baca juga → Misteri Batik Bersuara, Antara Legenda dan Inovasi Lintas Era
Dorong Inovasi Industri Kreatif Berbasis Budaya Lokal
Ketua pelaksana program, Iwan Santosa, S.T., M.Kom., MIPR menjelaskan bahwa etnomatematika dan IMOE pada dasarnya merupakan pendekatan yang dapat membantu menjembatani warisan budaya dengan penciptaan produk baru.
“Budaya tradisi Nusantara sangat beragam dan memiliki nilai yang luar biasa. Melalui etnomatematika dan metode IMOE, berbagai unsur budaya tersebut dapat diidentifikasi, dipahami, lalu diterjemahkan menjadi produk yang relevan dengan kebutuhan masa kini tanpa kehilangan identitas budayanya,” ujarnya.
Menurutnya, pendekatan serupa tidak hanya dapat diterapkan pada budaya Sumba, tetapi juga berpotensi digunakan untuk mengembangkan berbagai produk berbasis budaya dari berbagai daerah di Indonesia. Dengan kekayaan budaya yang dimiliki Nusantara, peluang pengembangan inovasi berbasis budaya masih sangat terbuka.
Riset ini melibatkan kolaborasi peneliti dari Fakultas Humaniora dan Industri Kreatif serta Fakultas Teknologi dan Rekayasa Cerdas Universitas Kristen Maranatha, yakni Erwin Ardianto Halim, Yunita Setyoningrum, Elizabeth Wianto, dan Maresha Caroline. Tidak hanya budaya Sumba, mereka juga melakukan kajian pada rumah adat Siwaluh Jabu dari daerah Karo, Sumatera Utara.
Melalui kampanye Resona Saintek, Universitas Kristen Maranatha berupaya memperkenalkan etnomatematika dan IMOE kepada masyarakat sebagai metode yang dapat membantu mengubah budaya lokal menjadi sumber inovasi.
Dengan cara tersebut, warisan budaya tidak hanya dapat dilestarikan, tetapi juga dimanfaatkan untuk menghasilkan produk kreatif yang bernilai, relevan, dan berkontribusi bagi perkembangan industri kreatif Indonesia.
(Laporan Khusus Inspirasi Indonesia)
foto atas: Produk inovatif dikembangkan dari motif kain tenun Sumba (foto: Gabriel Christofer & Irfan Musyaffa)
editor: MA

