Laura Lee Moreau iBike

Seputar Film Dokumenter Kekinian dan Cara Membuatnya

Kebanyakan orang menonton film atau video untuk hiburan. Mereka menikmati sinetron di televisi hingga film-film box office di bioskop. Kita juga punya kesempatan dan pilihan menonton lebih luas melalui platform online seperti YouTube atau Netflix. Jenis film yang tersedia sangat beragam, dengan berbagai macam genre dan tema.

Saat ini film atau video telah menjadi konsumsi sehari-hari, bahkan telah menjadi kebutuhan masyarakat jaman now yang haus informasi. Film yang dimaksud bukan hanya film-film blockbuster berbiaya tinggi, tetapi film atau video secara umum, termasuk video-video pendek yang dibuat oleh kalangan perorangan.

Film atau video telah menjadi bagian dari budaya media masa kini. Masyarakat tidak hanya menjadi penonton dan konsumen saja, tetapi juga menjadi produsen media.

Langsung lompat ke → Panduan Pemula Membuat Film Dokumenter

Daftar Isi


Filmmaking Jaman Now

Dewasa ini jumlah filmmaker meningkat drastis, seiring semakin mudahnya proses produksi film atau video. Mulai dari tahap praproduksi hingga perilisan, bisa dilakukan dengan mudah. Bahkan, hanya bermodal smartphone pun, seseorang sudah bisa membuat film!

Banyak filmmaker yang menyebut dirinya sebagai storyteller, vlogger, content creator, bahkan youtuber. Pada dasarnya, mereka semua memproduksi film atau video. 

Para filmmaker membuat film dengan berbagai macam konten, tujuan, dan keperluan. Ada yang membuat film fiksi yang sepenuhnya untuk hiburan, ada juga yang membuat film edukatif untuk pembelajaran. Ada yang membuat video podcast membahas topik panas, ada yang membuat video review dan tutorial, ada juga yang membuat vlog menampilkan aktivitas sehari-harinya.

Film Dokumenter Kekinian

Banyak sekali film masa kini yang menampilkan tokoh dan kejadian nyata. Film seperti ini secara umum disebut film dokumenter, yaitu film yang berdasarkan fakta, bukan fiksi. Film dokumenter bisa menceritakan seorang tokoh, sebuah benda, sebuah lokasi, suatu kejadian atau peristiwa, sebuah konsep atau gagasan, dan hal-hal lain yang semuanya merupakan realitas, bukan imajinasi atau rekaan.

Film Dokumenter vs Fiksi
Secara umum, film dokumenter berpusat pada realitas, sedangkan film fiksi menampilkan rekaan imajinasi atau fantasi. Di antara dua kategori utama tersebut, ada subkategori hybrid seperti docufiction dan docudrama. Jenis campuran ini memasukkan unsur fiksi ke dalam dokumenter, atau sebaliknya fiksi yang memasukkan unsur dokumenter atau ditampilkan dengan gaya dokumenter. (dok. Iwan Santosa)

Istilah “film dokumenter” identik dengan film yang membosankan, tidak menarik, tidak menghibur. Film dokumenter biasanya ditonton ketika “terpaksa”, misalnya demi mengerjakan tugas, riset, atau mencari referensi.

Film dokumenter masa kini bukan lagi film yang boring, kaku, dan tidak laku. Film-film dokumenter kontemporer kaliber dunia bahkan sangat diminati dan menjadi box office.

Steven Bognar and Julia Reichert filming American Factory
Steven Bognar dan Julia Reichert di lokasi shooting American Factory. (foto: David Holm, Netflix)

Baca juga → Melirik Netflix, Si Raksasa Hiburan Online

Durasi dan Format Film Dokumenter

Ada banyak sekali film dan tontonan kekinian yang basisnya adalah dokumenter. Film dokumenter pendek biasanya berdurasi kurang dari 40 menit, dan dokumenter feature-length berdurasi lebih dari 40 atau 50 menit. Ada juga film dokumenter mini (mini documentary) berdurasi sangat pendek, hanya beberapa menit saja.

Berbagai macam tontonan dokumenter dapat kita temukan melalui banyak platform, mulai dari bioskop, streaming online berlangganan sampai yang gratisan. Platform-platform media online seperti YouTube telah membuka kesempatan yang begitu luas bagi perkembangan film dokumenter. Kita bisa menemukan konten-konten dokumenter dengan berbagai format dan gaya di YouTube. Bahkan, saat ini banyak konten vlog yang mengadopsi gaya dan proses produksi film dokumenter.  

Film dokumenter saat ini telah berevolusi menjadi tontonan yang tidak hanya informatif dan edukatif, tetapi juga kreatif dan entertaining.


Panduan Pemula Membuat Film Dokumenter

Sebagai penonton, kita bisa dengan mudah memilih dan menilai, mana film yang bagus dan menarik untuk ditonton, dan mana yang sebaliknya.

Bila Anda adalah seseorang yang ingin memulai membuat film, Anda tentu berencana membuat film yang bagus dan menarik untuk ditonton, bukan?

Terlepas dari format kemasan dan penyajiannya, ada langkah-langkah umum pembuatan film dokumenter yang perlu diketahui dan dapat diikuti sebagai framework dasar.

Panduan berikut ini akan memberikan gambaran bagaimana langkah-langkah awal untuk mulai membuat film atau video dokumenter. Panduan ini bukanlah sebuah formula baku, tetapi lebih berupa guideline praktis untuk membantu agar proses pembuatan film bisa lebih terstruktur.

Jangan Langsung Shooting

Pada dasarnya film atau gambar bergerak adalah media untuk menyampaikan informasi atau pesan secara visual dan aural. Kombinasi keduanya menjadikan film sebagai kendaraan yang sangat efektif untuk menyampaikan sebuah gagasan.

Di balik sebuah film, ada maksud yang ingin disampaikan oleh si pembuat film kepada khalayak penontonnya. Film menjadi media komunikasi yang powerful karena memiliki kemampuan membentuk persepsi, bahkan memengaruhi emosi penontonnya.

Unsur Utama dan Langkah Kunci

Secara umum proses pembuatan film terdiri dari tiga fase atau tahapan utama, yaitu praproduksi (pre-production), produksi, dan pascaproduksi (post-production).

Tahap Pembuatan Film
Pembuatan film umumnya dimulai dari tahap praproduksi, kemudian produksi, dan berakhir pada tahap pascaproduksi. Ada pembuat film yang memisahkan proses pengembangan cerita sebelum tahap praproduksi, dan ada yang menambahkan satu tahap lagi setelah pascaproduksi, yaitu tahap distribusi film setelah jadi. (dok. Iwan Santosa)

Banyak yang mengira proses pembuatan film dokumenter tidak membutuhkan tahap praproduksi, karena mengandalkan rekaman kejadian nyata yang cenderung spontan dan aktual. Seorang pembuat film dokumenter bisa langsung datang ke lokasi kejadian, merekam dan mengumpulkan footage sebanyak-banyaknya, lalu mengeditnya menjadi sebuah film.

Nyatanya tidak demikian!

Semua film memiliki dua unsur utama yaitu unsur naratif dan unsur sinematik. Unsur naratif adalah gagasan dan cerita yang ingin disampaikan, landasan dari sebuah film. Sedangkan unsur sinematik adalah bagaimana menyampaikan cerita itu secara audiovisual.

Sebelum menyalakan kamera atau menerjunkan tim shooting, seorang filmmaker perlu memulai karyanya dengan menjawab beberapa pertanyaan berikut ini.

  • Film ini tentang apa?
  • Apa menariknya topik yang diangkat?
  • Apa dan siapa yang akan diceritakan?
  • Bagaimana ceritanya?
  • Seperti apa wujud film ini ketika telah selesai?
  • Siapa sasaran penontonnya?
  • Bagaimana film ini akan membawa perasaan atau sikap penontonnya?

Pertanyaan-pertanyaan itu muncul dan harus dijawab sebelum proses produksi dilakukan. Bila pertanyaan-pertanyaan itu tidak bisa dijawab, mustahil proses selanjutnya dapat dilaksanakan.

Apa pun filmnya, selalu awali dengan proses penulisan (scriptwriting). Bila penulisan telah selesai, berarti filmya bisa dibilang sudah sepertiga bahkan setengah jalan. Tahapan-tahapan selanjutnya adalah bagaimana mewujudkan naskah itu hingga akhirnya menjadi sebuah film, sesuai dengan visi filmmaker.

Baca juga → Mulai Serius Produksi Film, Kuatkan Tahapan Kuncinya

Lima Langkah Penulisan Naskah

Film fiksi menampilkan imajinasi dari sang pembuat cerita. Cerita imajiner itu harus sudah rampung sebelum dapat diproduksi dan diubah menjadi sebuah film. Sedangkan pada film dokumenter, cerita utuhnya cenderung baru terlihat setelah proses produksi. Biasanya yang sudah terkonsep dan terbayangkan pada fase awal adalah arah utamanya.

Ada faktor-faktor realitas yang sebelumnya tidak terprediksi, atau ceritanya tidak dapat diatur sepenuhnya seperti pada cerita fiksi. Pembuat film perlu mempertimbangkan, sengaja memberi ruang, dan mengantisipasi hal tersebut pada proses penulisan.

Walaupun terdapat perbedaan detail, tahapan pengembangan dan penulisan naskah film dokumenter pada dasarnya sama dengan penulisan film pada umumnya. Dimulai dari hal makro yang menjadi gagasan dasar, lalu bertahap berpikir mikro untuk mendetailkan adegan-adegannya.

Perbedaan utama penulisan naskah film dokumenter dan fiksi, ada di bagian pengembangan cerita. Pada fase ini, pembuat film dokumenter akan lebih banyak melakukan riset untuk mendalami topik, dan mencari cara terbaik untuk menampilkannya dalam bentuk film.

Berikut ini adalah lima langkah praktis step by step membuat naskah film dokumenter, mulai dari langkah paling awal, kemudian berkembang menjadi naskah yang lebih lengkap dan siap untuk tahap produksi.

  1. Mulai dari Ide Dasar
  2. Rumuskan Premis dan Film Statement
  3. Cari Informasi dan Lakukan Riset
  4. Tuliskan Sinopsis dan Outline
  5. Buat Skrip Treatment

ke Daftar Isi ↑

1. Mulai dari Ide Dasar

“Film ini tentang apa?” Ini adalah pertanyaan paling dasar yang menjadi pijakan dari sebuah film. Untuk memulai pembuatan film dokumenter, tentukanlah ide atau gagasan yang akan diangkat.  

Ide bisa berasal dari hal-hal umum di sekitar kita, atau dari topik yang kita minati dan kuasai. Ide adalah gagasan paling dasar, memberikan gambaran paling kasar dari film yang akan dibuat. Sebagai contoh misalnya:

  • Pelestarian sungai
  • Akulturasi budaya di Madura
  • Rumah adat Mentawai
  • Arsitektur bangunan heritage

Empat contoh ide dasar di atas merupakan tema umum yang cakupannya luas. Topik yang terlalu umum biasanya kurang menarik perhatian penonton, dan lebih sulit untuk difilmkan karena jangkauan pembahasannya terlalu luas.

Ide dasar nantinya perlu dikerucutkan ke arah topik yang lebih spesifik. Contohnya ide tentang pelestarian sungai, dapat ditajamkan menjadi sebuah tema “Sang Pahlawan Pengharum Citarum”. Tema ini mengangkat sosok pelaku pelestari Sungai Citarum.

Ide tentang arsitektur bangunan heritage dapat ditajamkan misalnya menjadi “Filosofi Jawa di Villa Isola”, menitikberatkan pada pembahasan sejarah dan konsep arsitektur bangunan heritage Villa Isola.

2. Rumuskan Premis dan Film Statement

Film dokumenter menceritakan realita dengan cara yang kreatif. Sudut pandang pembuat film juga sangat berperan membentuk gagasan yang ingin disampaikan. Subjektivitas si filmmaker akan menentukan seperti apa sebuah ide akan dibahas atau dikupas.

Sudut pandang si pembuat film terhadap suatu gagasan, dan bagaimana ia akan menggali dan menyampaikannya, dirumuskan dalam premis atau film statement. Film statement juga menggambarkan hal-hal khusus, unik, dan spesifik dari ide dasar yang menjadi daya tarik film.

Ide dasar harus digali lebih dalam dan lebih fokus, dikembangkan menjadi sebuah premis, dan dituliskan sebagai film statement. Premis juga memberi landasan bagi tujuan pembuatan film, memberi petunjuk ke arah mana penonton akan dibawa.

“Jejak Tionghoa di Masjid Agung Sumenep”

Contoh kasus, ide dasar mengenai akulturasi budaya di Madura, perlu digali lebih dalam, apa tema dan gagasan spesifik yang hendak disampaikan?

Ide tersebut dapat digali dari sisi artefak budaya, yaitu bangunan bersejarah yang mengandung bukti-bukti akulturasi. Maka, dipilihlah topik yang akan diangkat, yaitu Masjid Agung Sumenep. Bangunan ini merupakan ikon bangunan nasional bersejarah dengan arsitektur unik dan khas.

Menggali lebih dalam lagi, apa menariknya Masjid Agung Sumenep? Bangunan tempat ibadah masyarakat muslim ini dirancang oleh seorang Tionghoa, dan desain arsitekturnya pun banyak mengadopsi ornamen-ornamen budaya Tiongkok. Salah satu masjid tertua di Indonesia ini menjadi bukti bahwa akulturasi budaya telah terjadi sejak ratusan tahun silam.

Selanjutnya, dirumuskanlah premis film dokumenter tersebut, yaitu keunikan Masjid Agung Sumenep yang menyimpan bukti akulturasi budaya Nusantara di Madura, khususnya budaya Tiongkok.

Tujuannya adalah untuk mengajak para penonton menyaksikan keunikan bangunan Masjid Agung Sumenep, dan memberi edukasi bahwa kebudayaan Nusantara dibentuk dari bercampurnya banyak budaya yang telah lama berpadu menjadi satu kekayaan budaya nasional.

Masjid Jamik Sumenep (Iwan Santosa, 2013)
Masjid Agung Sumenep atau dikenal dengan nama Masjid Jamik Sumenep diangkat menjadi topik utama film dokumenter Aku Madura Aku Indonesia, Jejak Muslim Tionghoa di Tanah Madura episode “Masjid Jamik Sumenep”. Topik ini dipilih untuk menunjukkan bukti akulturasi budaya yang telah lama terjadi di Madura. (foto: Iwan Santosa, 2013)

“Rumah Adat Mentawai Melawan Zaman”

Contoh berikutnya adalah ide mengenai rumah adat Mentawai. Apa hal menarik dan tema khusus yang ingin diangkat?

Ide dasar mengenai rumah adat Mentawai dikembangkan dengan melihat tradisi budaya, bahwa rumah adat Mentawai yang disebut uma adalah hunian yang mencerminkan tata nilai masyarakat Mentawai. Uma tidak sekadar bangunan tempat tinggal, tetapi merupakan pusat kehidupan dan jati diri masyarakat Mentawai.

Apakah modernisasi ini melunturkan identitas masyarakat Mentawai yang tersemat dalam sebuah uma? Gagasan-gagasan itulah yang akan menjadi topik bahasan, sekaligus menjadi premis film yang akan dibuat.

Film statement-nya adalah rumah adat Mentawai atau uma yang sarat tradisi tidak berdaya melawan zaman; bagaimana uma di tengah modernisasi bisa tetap berfungsi sebagai jati diri tradisi masyarakat Mentawai?

Film ini berusaha membawa penonton melihat tradisi budaya masyarakat Mentawai melalui rumah hunian mereka. Selain mendokumentasikan artefak budaya—selagi masih ada, film ini juga mengajak penonton untuk menyadari bahwa tradisi yang autentik dan sarat makna suatu saat dapat hilang dimakan zaman.

Uma Saurei di Dusun Bajoja, Maileppet (Iwan Santosa, 2015)
Uma Saurei di Dusun Bajoja, Maileppet, Siberut Selatan dibangun pada 1980-an. Uma adalah rumah adat yang mencerminkan filosofi kehidupan masyarakat asli Mentawai. Topik ini didokumentasikan dalam produksi film dokumenter Dilema Uma, Rumah Adat Mentawai Melawan Zaman. (foto: Iwan Santosa, 2015)

Baca juga → Seperti Apa Wajah Citarum di Mata 21 Pencinta Sungai?

3. Cari Informasi dan Lakukan Riset

Sebelum melanjutkan ke tahap berikutnya, kita perlu memperkaya wawasan, melengkapi informasi, dan mencari data yang diperlukan untuk mendukung topik dan cerita yang akan diangkat dalam film. Lakukan riset dari segala sumber, baik dari literatur maupun referensi faktual lainnya, juga melakukan wawancara dengan para pakar dan narasumber.

Sebisa mungkin, lakukan riset dan observasi lapangan untuk menggali informasi seaktual mungkin. Riset lapangan biasanya dapat memperkaya informasi dan fakta dengan melihat situasi dan merasakan kondisi langsung di lokasi.

Ada hal-hal spesifik yang hanya dapat kita gali dengan mengunjungi langsung lokasi tertentu, atau dengan bertemu langsung dengan para pelaku atau narasumber.

Riset lapangan juga dapat memberikan kita wawasan yang lebih luas, tidak hanya dalam hal penulisan saja, tetapi juga akan membantu perencanaan produksi. Bila kita telah menguasai lapangan dan mengerti medan tempat produksi akan dilakukan, kita dapat mengatur jadwal produksi dengan lebih efisien dan efektif.

Riset Sembari Shooting?

Idealnya, tujuan utama dari riset lapangan adalah untuk mengumpulkan dan memperkaya informasi, bukan untuk pengambilan gambar. Ada pembuat film pemula yang melakukan riset lapangan sekaligus langsung shooting mengambil gambar utama. Dengan kata lain, ia langsung mengambil gambar alih-alih melakukan riset atau shooting pendahuluan. Hal ini boleh-boleh saja, tetapi tanpa riset yang kuat, kedalaman bahasan topik bisa menjadi kurang maksimal.

Melakukan shooting langsung saat riset cenderung membuat fokus terpecah. Tujuan semula mendatangi lokasi adalah untuk mengumpulkan informasi dan fakta, dapat berubah dan membuat fokus kita beralih menjadi berpikir visual.

Apa jadinya? Informasi dan wawasan tidak didapat secara lengkap, dan gambar yang diambil pun belum tentu cocok dengan naskah, mengingat dalam tahap ini naskahnya pun sedang dalam proses penyusunan.

4. Tuliskan Sinopsis dan Outline

Semua film memiliki bagian pembuka, bagian tengah, dan penutup. Bagaimana sebuah cerita dimulai dan berkembang menjadi lebih kompleks hingga akhirnya selesai, itulah storyline, alur atau plot yang membentuk struktur sebuah film.

Walaupun film dokumenter mengutamakan isu atau gagasan, tetapi alur tetap diperlukan agar gagasan dapat disampaikan dengan cara yang baik dan menarik. Film dokumenter bukanlah reportase berita atau arsip rekaman dokumentasi. Film dokumenter yang hanya menyampaikan informasi, fakta, dan data tanpa dikemas dengan storytelling yang baik, tentu tidak menarik untuk ditonton.

Titik tolak penulisan naskah film dokumenter adalah dengan mengembangkan film statement menjadi sebuah sinopsis, kemudian outline, dan akhirnya treatment.

Sinopsis adalah tulisan ringkas dari apa yang ingin diceritakan dalam film. Sinopsis berisi ringkasan cerita atau storyline, sebagai gambaran kasar dari keseluruhan cerita yang ingin disampaikan. Sinopsis biasanya berupa ringkasan satu paragraf mewakili keseluruhan cerita, atau tiga paragraf—masing-masing untuk bagian pembuka, bagian tengah, dan bagian penutup film.

Kerangka Cerita

Pada tahap praproduksi, sinopsis merupakan gambaran awal dan paling ringkas dari alur cerita yang kemudian dikembangkan menjadi outline.

Outline adalah kerangka cerita, berisi tahap-tahap perkembangan alur cerita mulai dari bagian awal, tengah, sampai penutup. Naskah outline bisa dilengkapi uraian adegan-adegan kunci pada masing-masing bagian alur cerita.

Selain berisi kerangka alur dan adegan, outline juga dapat berisi catatan-catatan detail lainnya mengenai rencana sebuah adegan, seperti lokasi spesifik dan aktivitas yang terjadi dalam sebuah adegan; rencana kalimat dialog atau kalimat narator; transisi antara adegan satu dengan adegan lainnya; dan apa pun yang dipikirkan oleh si pembuat film untuk menyampaikan ceritanya.

Outline pada dasarnya adalah pegangan dan alat perencanaan bagi penulis naskah untuk mengembangkan cerita.

5. Buat Skrip Treatment

Naskah atau skrip treatment bisa dikatakan versi terlengkap dari dokumen naskah awal sebuah film dokumenter. Di dalamnya terdapat deskripsi adegan (scene) dan bagaimana adegan tersebut akan terlihat di mata penonton.

Skrip treatment juga memuat penggambaran materi-materi pendukung cerita selain gambar utama dari proses shooting, misalnya visualisasi berupa infografis, atau footage dari arsip foto-foto lama. Isi dari skrip treatment adalah jabaran dari apa yang akan dilihat dan didengar oleh penonton.

Gaya Penyampaian

Sebelum membuat skrip treatment—atau bahkan sebelum menuliskan sinopsis dan outline, pembuat film perlu menentukan gaya penyampaian cerita yang akan digunakan.

Sebagai contoh, sebuah topik yang disampaikan dengan gaya dokumenter eksposisi bersudut pandang orang ketiga, akan sangat berbeda skrip treatment-nya dengan gaya dokumenter partisipatoris bersudut pandang orang pertama. Skrip treatment sebuah dokumenter eksposisi mungkin akan penuh dengan deskripsi narasi voice-over, klip-klip footage ilustrasi, arahan lokasi spesifik, dan talking head narasumber.

Pada dokumenter dengan pendekatan partisipatoris, akan lebih banyak deskripsi wawancara dan adegan interaksi antara si pembuat film dengan tokoh narasumber yang diceritakan. Beda lagi pada film yang cenderung observasional, direct cinema atau cinéma-vérité, yang fokusnya adalah kejadian apa adanya tanpa interaksi dari si pembuat film.

Beberapa pertanyaan berikut ini dapat membantu kita menentukan gaya penyampaian cerita, dan mengembangkan skrip treatment sesuai gaya tersebut.

  • Apakah ceritanya akan disampaikan oleh narator?
  • Apakah filmmaker akan berinteraksi dan menjadi bagian dalam cerita?
  • Apakah adegannya cenderung senatural mungkin apa adanya?
  • Apakah akan melibatkan visual bergaya piktorialis atau dominan estetis?
  • Apakah akan ada banyak adegan wawancara?
  • Apakah perlu menampilkan materi-materi arsip berupa foto atau klip video lama?
  • Apakah perlu ada infografis untuk menjelaskan suatu konsep atau data?

Delapan Elemen Dasar

Empat elemen pertama berkaitan dengan visual, yaitu:

  1. Sinematografi pengambilan gambar langsung (live cinematography)
  2. Foto-foto lama
  3. Wawancara
  4. Arsip dan stok gambar (footages)

Empat elemen selanjutnya berkaitan dengan unsur aural, yaitu:

  1. Narasi voice-over (third person narrator atau “voice of God”)
  2. Suara tokoh atau narasumber (first person voices)
  3. Musik
  4. Efek suara

Kita bisa menggunakan kombinasi dari delapan elemen tersebut untuk membentuk film yang akan dibuat. Elemen mana yang akan lebih banyak digunakan—atau malah tidak diperlukan, disesuaikan dengan gaya penyampaian yang paling sesuai dengan konsep film yang kita buat.


ke Daftar Isi ↑

Kelima langkah di atas—dari menentukan ide dasar sampai membuat treatment—berfokus pada pengembangan cerita dan menuliskannya dalam bentuk penjabaran yang cenderung naratif.

Selanjutnya, naskah perlu dikembangkan lagi dengan memasukkan unsur-unsur pengambilan gambar. Progres penulisan berikutnya bersifat lebih praktis dan semakin berorientasi ke tahap produksi.   

Shooting Script

Shooting script merupakan bentuk yang lebih praktis dari skrip treatment, karena langsung to the point menjabarkan visual dan audio dari setiap adegan yang nantinya akan dilihat dan didengar oleh penonton, bukan dalam format narasi seperti pada naskah treatment.

Shooting script adalah dokumen proses yang sudah mempertimbangkan pengambilan gambar. Dalam produksi film dokumenter, shooting script bisa dikembangkan dengan menambah banyak kolom untuk catatan produksi seperti arahan framing, camera angle, dan lain-lainnya yang dibutuhkan untuk membantu pengambilan gambar.

Lihat contoh → Shooting Script Sederhana

No Treatment, No Problem?

Sebagai catatan, istilah outline, treatment, storyline, juga “skrip” atau “naskah” sering kali merujuk pada dokumen yang sama, yaitu naskah cerita. Tidak semua filmmaker membuat setiap jenis naskah itu, dan ada yang menyebutnya secara umum saja, yaitu “naskah”. Semuanya sama-sama naskah, hanya beda bentuk, ruang lingkup, dan progresnya.

Proses berkarya seorang pembuat film mungkin berbeda dengan pembuat film lainnya, sehingga naskah-naskah spesifik yang dibutuhkan oleh satu filmmaker bisa berbeda dengan filmmaker lainnya. Intinya, dokumen-dokumen naskah tersebut berfungsi menggambarkan dan mendeskripsikan film yang akan dibuat, baik dalam bentuk ringkas ataupun penggambaran mendetail dan lengkap.

Tujuan akhirnya agar ide dan cerita bisa diwujudkan menjadi sebuah film.

Ada filmmaker dokumenter yang tidak membuat skrip treatment pada tahap praproduksi, dan hanya mengandalkan outline. Naskah finalnya adalah berupa editing script yang dibuat setelah masuk tahapan proses editing. Hal itu sangat lazim, karena pembuatan film dokumenter biasanya merupakan proses yang dinamis dan progresif. Cerita dapat berkembang terus seiring dengan progres pembuatan filmnya. No problem!

Pada film dokumenter, penulis naskah biasanya juga sekaligus sutradara saat tahap produksi, dan terus terlibat intens sampai tahap pascaproduksi. Oleh karena itu, penulisan naskah film dokumenter sangat mungkin berkembang hingga tahap akhir pembuatan film.

Ada juga gaya film dokumenter yang ceritanya sangat bergantung pada footage, sehingga cerita utuhnya baru dapat ditulis setelah si pembuat film memperoleh footage lengkap. Dalam kasus ini, penulis naskah akan sangat mengandalkan transkripsi dan shooting log untuk pengembangan naskahnya.

Walaupun begitu, bila film dokumenter yang dibuat adalah film berskala besar yang melibatkan banyak kru dan tim produksi, adanya naskah treatment atau shooting script yang selengkap mungkin akan sangat membantu dan memudahkan seluruh tim untuk bergerak pada arah yang sama.

Pentingnya Shot List

Sampai tahap ini, proses penulisan dapat dikatakan telah selesai. Sebetulnya belum benar-benar selesai final, tetapi selesai dalam ruang lingkup praproduksi. Modal awal untuk mulai melaksanakan shooting sudah cukup lengkap. Tahap selanjutnya selangkah lebih dekat menuju proses produksi, yaitu tahapan yang lebih teknis berupa perencanaan pengambilan gambar.

Shot list bisa dianggap turunan dari shooting script, yang sifatnya lebih teknis. Shot list berfungsi sebagai sarana pengorganisasian proses produksi, dan tidak terikat langsung dengan urutan cerita seperti pada naskah treatment atau shooting script. Pada tahap produksi, shooting script adalah pegangan bagi sutradara, sedangkan shot list adalah pegangan bagi koordinator produksi.

Tanpa adanya shot list, besar kemungkinan footage yang diambil nantinya kurang atau tidak sesuai dengan naskah.

Shot list juga dapat menjadi referensi untuk menentukan jadwal produksi (shooting schedule), agar proses shooting dapat dilakukan secara efisien. Sebagai contoh, bila dalam shot list ada beberapa footage pada beberapa adegan berbeda tetapi lokasinya sama, maka nanti saat pengambilan gambar dapat dijadwalkan bersamaan untuk menghemat waktu produksi.

Lihat contoh → Shot List Sederhana

Perlukah Storyboard?

Storyboard adalah sketsa atau gambar yang menampilkan urutan adegan, sebagai sarana previsualisasi sebuah film. Pada pembuatan film fiksi, storyboarding sangat diperlukan untuk mengembangkan cerita dari perspektif visual. Pembuat film dokumenter juga membutuhkan storyboard sebagai bagian dari perencanaan yang matang, dan untuk mempermudah proses produksi selanjutnya.

Walt at the Pinocchio storyboard meeting
Proses storyboarding dikembangkan oleh Walt Disney Studio pada era 1930-an. Storyboard merupakan alat penting untuk previsualisasi cerita sesuai visi sutradara atau pembuat film. (sumber: Walt Disney Archives Photo Library)

Storyboard film dokumenter dapat berupa sketsa sederhana yang hanya memuat garis besar adegan, atau versi lebih detail yang merupakan penggambaran visual dari skrip treatment. Versi visual ini memuat urutan gambar sesuai alur cerita, dan menjadi pedoman unsur-unsur sinematik seperti framing, angle, camera movement, hingga lighting.

Ada filmmaker yang memasukkan sketsa visual dalam shooting script atau shot list. Sketsa ini bisa juga dianggap “storyboard” versi sederhana. Storyboard dan shot list merupakan starting point bagi tim produksi sebagai patokan teknis pengambilan gambar, dan menjadi landasan pengaturan sinematografi pada saat shooting nantinya.

Proses produksi film dokumenter tidak sepenuhnya bergantung pada storyboard. Sering kali filmmaker perlu merekam gambar-gambar yang diambil secara spontan atau improvisasi, menyesuaikan kondisi aktual di lapangan. Gambar-gambar baru ini nantinya akan disesuaikan lagi dengan naskah awal pada saat proses editing pascaproduksi. Sifatnya bisa melengkapi, memperkuat, atau bahkan mengembangkan adegan dan penyampaian cerita.


ke Daftar Isi ↑

Editing Script Menuju Final

Naskah awal berupa outline atau treatment yang telah dibuat pada tahap praproduksi, sering kali mengalami revisi setelah proses produksi selesai. Hal ini disebabkan adanya perkembangan isu atau gagasan yang ditemukan di lapangan seiring dengan proses pengambilan gambar.

Film dokumenter memang berfokus pada realita, dan tidak jarang ada hal-hal baru yang ditemukan di tengah dan setelah proses pengambilan gambar. Pembuat film dokumenter perlu memasukkan ruang gerak ini dalam proses pembuatan film. Naskah outline merupakan pegangan sebagai koridor agar cerita mengarah sesuai dengan film statement yang ingin disampaikan. 

Tahapan Perkembangan Naskah
Pengembangan cerita dan naskah film dokumenter dilakukan bertahap dan progresif mulai dari ide dasar hingga naskah final pada tahap pascaproduksi. (dok. Iwan Santosa)

Blueprint Siap Produksi

Sejauh ini kita telah memiliki naskah, juga shot list dan storyboard. Ketiganya merupakan blueprint dari sebuah film. Bisa dikatakan, screenwriting bagi seorang filmmaker ibarat blueprinting bagi seorang arsitek. Pada titik ini seorang filmmaker sudah memiliki gambaran yang utuh mengenai film yang akan dibuat.

Dengan demikian tahap praproduksi telah selesai. Tahap ini sangat penting sebagai langkah awal membuat film dokumenter. Proses selanjutnya adalah merencanakan jadwal shooting, dan melakukan koordinasi dengan semua pihak terkait, mulai dari izin lokasi, narasumber, juga seluruh tim yang akan terlibat dalam proses produksi.

Lihat juga → Sepuluh Tips Produksi Film

Satu Hal Lagi, Ingat Batas!

Penting untuk diingat, bahwa pembuatan film dokumenter juga dipengaruhi faktor-faktor lain di luar ranah kreatif. Antara lain adalah adanya batasan waktu dan budget. Waktu yang dimaksud di sini adalah waktu yang dibutuhkan untuk proses pembuatan, juga waktu durasi film akhirnya.

Semakin panjang film finalnya, maka akan semakin panjang pula proses produksinya. Biaya yang diperlukan pun pastinya akan lebih besar. Bila seorang filmmaker telah menentukan batasan waktu dan biayanya, maka penulisan naskah pun harus disesuaikan dengan batasan-batasan itu.

Intinya, tulislah naskah yang seideal mungkin, tetapi juga feasible untuk diproduksi mempertimbangkan batasan-batasan yang ada.


(Iwan Santosa)

ilustrasi atas: Behind the scene on the documentary film set of iBike (photo by Laura Lee Moreau) 

CATATAN PENULIS:
Tulisan ini dibuat untuk tujuan edukasi. Anda diperkenankan membagikan dan mengutip sebagian isi artikel ini dengan menyertakan identitas penulis dan tautan sumber (contoh: Iwan Santosa, “Seputar Film Dokumenter Kekinian dan Cara Membuatnya”).

edukatif khusus
5 bintang | 13 penilai