Belum lama ini, kampus ternama Bandung memperkenalkan tiga produk batik hasil inovasi memanfaatkan sains dan teknologi lintas disiplin. Produk-produk inovatif tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat khususnya pelaku industri batik dan UMKM kreatif di wilayah Bandung dan sekitarnya.
Harapan itu tidak semulus yang dibayangkan. Ada tantangan yang muncul.
Respons kritis pun dilontarkan oleh seorang pelaku usaha yang berkecimpung dalam industri fashion. Ia mengungkap setidaknya ada tiga hal yang perlu menjadi perhatian apabila produk inovasi penelitian tersebut ingin sukses di pasaran.
- Tantangan Batik Inovasi Saintek
- Idealisme Pelestarian Batik
- Riset Akademik Menjadi Produk Siap Pakai
- Tantangan Branding hingga Harga Jual
- Kata Komunitas Cigadung dan Bandung Raya
- Rahasia di Balik Inovasi Batik Asli Bandung
Baca juga → Geliat Inovasi di Kampung Batik Cigadung, Pesona Tradisi Berbalut Teknologi
Tantangan Batik Inovasi Saintek
Batik adalah warisan budaya yang sudah ada sejak berabad-abad lalu. Identitas budaya Indonesia ini tidak pernah berhenti diupayakan untuk terus hidup hingga kini.
Para akademisi dari berbagai kampus terus melakukan inovasi melalui penelitian, dengan harapan bahwa batik bisa terus beradaptasi dengan zaman dan tidak punah.
Namun, di antara inovasi dan penelitian tersebut, muncul tantangan besar.
Bagaimana membuat inovasi-inovasi itu tidak berhenti di ranah akademik saja, melainkan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat?
Permasalahan inilah yang dihadapi oleh Universitas Kristen Maranatha, jajaran teratas kampus paling inovatif Jawa Barat dan Indonesia dalam peringkat Q1 Innovation Ranks Scimago Institutions Rankings (SIR) 2025.
Menyikapi tantangan itu, UK Maranatha melalui unit Humas didukung oleh Direktorat Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi (Minatsaintek) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Republik Indonesia menyelenggarakan kampanye tematik melalui program Resona Saintek.
Resona Saintek Maranatha mengangkat tema Pemberdayaan Sains dan Teknologi dalam Pelestarian Budaya Asli Indonesia, memperkenalkan inovasi batik hasil penelitian akademisi UK Maranatha. Produk inovasi itu adalah “Batik Kura-Kura”, “Batik Naskah Kuno”, dan “Batik Bersuara”.

Baca juga → Sebelas Kampus Tuntaskan Kampanye Nasional Pembumian Saintek, Wujudkan Humas sebagai Komunikator Sains
Idealisme Pelestarian Batik
Batik Kura-Kura adalah inovasi batik memanfaatkan algoritma turtle graphics untuk membuat dan mendokumentasi motif batik.
Batik Naskah Kuno memanfaatkan metode saintifik alih visual untuk mengalihwujudkan naskah kuno, salah satunya adalah Bujangga Manik, menjadi kain batik.
Batik Bersuara menggabungkan teknologi audio dan narasi cerita rakyat dalam produk kain batik yang berbasis kearifan lokal.
Ketiga inovasi ini dikembangkan bukan sekadar sebagai eksperimen kreatif. Ada komitmen besar untuk memastikan bahwa batik sebagai warisan budaya bangsa dapat terus hidup dari generasi ke generasi.
Tantangan muncul ketika inovasi tersebut perlu menjangkau masyarakat luas, agar dapat dikenal dan dimanfaatkan untuk kemajuan bersama. Resona Saintek Maranatha mencoba menjawab tantangan itu melalui rangkaian kampanye tematik memanfaatkan berbagai bentuk dan kanal komunikasi kehumasan.
Salah satunya adalah berupa aktivitas Diskusi Komunitas dan Pameran “Semesta Inovasi Maranatha”.
Kegiatan berformat focus group discussion (FGD) dan pameran ini diadakan di Rumah Batik Komar, Bandung (26/11/2025), menghadirkan pelaku usaha (UMKM), warga sekitar kawasan Kampung Wisata Kreatif Cigadung (KWKC), dan komunitas batik, seni, dan budaya dari wilayah Bandung Raya.

Baca juga → Inovasi Teknologi Bertemu Tradisi, Hidupkan UMKM Industri Kreatif Kampung Batik Cigadung
Riset Akademik Menjadi Produk Siap Pakai
Inovasi Batik Kura-Kura memanfaatkan algoritma turtle graphics rupanya berhasil menarik perhatian seorang pebisnis muda, Keisha Audreyna Palar dari Sarraka Batik. Ia pun menyampaikan pandangan tajam mengenai produk-produk inovasi yang diluncurkan hari itu.
Sebagai bagian dari generasi Z dan pelaku bisnis fashion, ia merasa bahwa batik di kalangan anak muda memang belum sepenuhnya dianggap umum. Namun, kehadiran inovasi yang menghubungkan batik dengan teknologi memberi daya tarik baru.
Awalnya, Keisha mengira produk batik yang dipamerkan itu hanya sebatas kain bermotif khusus. Setelah mendengar penjelasan dan ikut berdiskusi mengenai ketiga inovasi tersebut, ia baru melihat bahwa batik ternyata bisa dipadukan dengan teknologi.

“Sebagai anak muda, saya langsung kepikiran, kain ini bisa dijadikan apa, dan ternyata hasilnya juga bisa terlihat lucu,” ujar Keisha. Menurutnya, kemungkinan pengembangannya bisa sangat luas dan tidak terbatas.
Ia mengakui, desain dari inovasi ini sudah bagus, begitu juga cerita di baliknya. Tantangannya sekarang justru bagaimana mengubah semua potensi tersebut menjadi produk ready-to-wear bagi anak muda.
“Menurut aku, bisa banget, tergantung hasil akhirnya mau jadi apa. Desainnya udah oke, ceritanya juga oke. Tinggal gimana kita mentransfer itu menjadi sebuah produk,” ungkapnya.
Keisha juga menekankan pentingnya penguatan identitas atau brand image. Menurutnya, generasi muda cenderung tidak akan mengenali perbedaan jika tidak diberi konteks sejak awal.
“Kita harus naikin brand image-nya. Kalau ini batik turtle graphics atau batik bersuara, ya harus dikomunikasikan. Kalau enggak, orang hanya lihat itu batik biasa saja,” tuturnya.

Baca juga → Riset Alih Visual Ungkap Cara Hidupkan Bujangga Manik dari Naskah Kuno
Tantangan Branding hingga Harga Jual
Pandangan Keisha bisa menjadi referensi bahwa anak muda cenderung menempatkan aspek visual sebagai prioritas utama, sementara konteks atau cerita berperan sebagai penguat branding yang memberi nilai tambah.
Inilah tantangan berikutnya, bahwa meskipun produk-produk tersebut dihasilkan dari inovasi saintek dengan makna yang kuat, diperlukan sentuhan lain ketika batik ingin menyasar pasar anak muda.
Dalam wujud produk fashion, tampilan visual menjadi faktor penentu apakah sebuah karya bisa diterima oleh masyarakat.
Rupanya, ketika memasuki ranah penjualan, estetika, kesan keren, kesesuaian dengan tren, serta keterjangkauan harga memiliki pengaruh yang cenderung jauh lebih besar dibandingkan kedalaman narasi dan proses kreatifnya.

Di sisi lain, para peneliti tetap dapat mempertahankan idealismenya dengan menyasar target pasar yang lebih dewasa, hingga pembeli premium dan kalangan niche yang cenderung lebih tertarik dengan cerita dan konsep. Kelompok ini lebih mengapresiasi proses, teknik, dan filosofi yang melatarbelakangi sebuah motif, serta bersedia membayar lebih untuk nilai-nilai tersebut.
Terlepas dari tantangan pasar tersebut, ketiga inovasi ini menunjukkan bahwa batik mampu berkembang luas, baik sebagai karya budaya maupun produk komersial. Tinggal menyesuaikan pendekatannya sesuai dengan target yang dituju.
Melalui kolaborasi dengan pelaku industri dan umpan balik dari masyarakat, inovasi para peneliti UK Maranatha itu tidak hanya memperkaya khazanah batik Indonesia, tetapi juga menyimpan potensi besar untuk mengangkat batik menjadi produk yang selalu relevan dan digemari oleh berbagai generasi dan kalangan.
“Kata Komunitas Cigadung dan Bandung Raya tentang Inovasi Maranatha”
“Rahasia di Balik Inovasi Batik Asli Bandung”
(Virna Pariangan)
Ditulis oleh Virna Pariangan, kontributor Majalah M!, bagian dari program “Pemberdayaan Sains dan Teknologi dalam Pelestarian Budaya Asli Indonesia” yang didukung oleh Direktorat Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi Kemdiktisaintek Republik Indonesia melalui Program Kampanye Tematik Sains dan Teknologi (Resona Saintek).
foto atas: produk batik inovatif dipamerkan dalam rangkaian program Resona Saintek Maranatha
editor: MA

